Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Nice To Meet You, Merayu Semesta . Episode 4, Novel Romantis

Novel Merayu Semesta Terbaru 



Kecantikan Sara sangat menyita perhatian, memiliki bentuk tubuh ideal, dengan tinggi wanita Indonesia. Mata yang sipit dengan bulu mata lentik, menampilkan sentuhan makeup tipis. Kala senyuman manis tercipta bisa menimbulkan sisi berbeda, berjejer rapi gigi seperti biji mentimun.

“Sara kenalkan ini sahabat Papa!” ucap Papa Tyo tidak membiarkan langkah segera pergi dari tempat sekarang.

Lebih dulu menundukkan kepala sebentar, bersamaan hadirnya senyuman hangat tanda menyambut baik tamu, “Selamat malam, saya Sara, om!”

Sara Natasya Savina. Wanita karier yang sukses, juga punya bisnis toko bunga. Masalah dalam hidupnya, tidak lain tidak bukan tentang percintaan, yang bikin ragu ketika ingin memulai cinta kembali. Selain itu tuntutan dari orang tua hingga beranjak dewasa.

“Malam. Saya Edi, sahabat lama Papamu, dan ini...” menyuruh putranya untuk memperkenalkan diri sendiri.

“Kevin. Nice too meet you!” Hanya senyuman yang diberikan Sara untuk membalas perkenalan malam ini.

Semenjak pertama berjumpa dengan Sara, tatapan langsung terpaku untuk terdiam sesaat memandang dari kejauhan. Tidak akan bisa terjelaskan apa yang sedang terjadi, Kevin mulai merasakan rasa berbeda, apa cinta dalam dirinya telah tumbuh dalam sekejap?

Bagaimana bisa, kalau perkenalan sederhana dalam waktu sebentar malah membuat sanubari tertahan pada pandangan pertama. Tanpa diduga bisa dengan mudah tumbuh, telah lama memandang dalam diam. Hingga pandangan ini di balas tatapan tanpa ekspresi.

“Pa, Sara mau lanjutkan menyelesaikan berkas. Kalau begitu saya permisi ke dalam, om!” jelas Sara beranjak dari tempat duduknya.

“Sopan sekali putrimu, pasti ini didikan dari Ela. Apa putrimu sudah menikah?” mengambil kue kering yang terletak di dekat cangkir miliknya.

“Belum. Dia itu sulit banget kalau di tanya soal pasangan, banyak tikungannya, ada saja alasan yang diucapkan. Padahal sudah waktunya menikah!” jelas Papa Tyo mengambil cangkir teh hangat di depannya, sebelum itu meniup lebih dulu.

“Ternyata bukan kau saja, anakku juga gitu. Padahal hidupnya sudah mapan, sudah punya pacar tapi belum nikah-nikah juga sampai sekarang. Enam tahun pacaran, kalau akan SD sudah dapat ijazah!” mengomentari sembari melirik anaknya lagi.

“Pas mau rencana tunangan malah putus” jelas om Edi lagi sambil tepok jidat mengetahui nasib yang tengah menimpa putranya.

“Pa!” tegur Kevin merasa malu kehidupan pribadinya malah diceritakan pada orang lain, “Malu.”

“Memang malu-maluin.” Canda, “Ternyata anak kita sama. Apa mereka berdua kita jodohkan, siapa tahu cocok?” saran itu telah berhasil menciptakan suasana berbeda.

“Bagus juga. Sara pasti senang bisa dijodohkan dengan Kevin, apalagi kita bisa jadi besan.” Harap Papa Tyo senang jika ini bisa terwujud.

Obrolan itu seketika menyita perhatian Kevin, yang tadinya sangat bosan langsung terlihat wajah senang, namun masih menjaga image tetap bersikap biasa meskipun dalam hatinya sedang kegirangan. Tidak menyangka bisa dijodohkan dengan Sara, wanita yang baru saja dikenal.

“Bagaimana Kevin, mau dijodohkan dengan Sara?” tawar Papa Tyo merusak bayangan wajah cantik dalam benak Kevin sirna.

“Iya.” Jawab Kevin singkat, gelora rasa dalam sekejap mulai menempatkan ruang rapi untuk mempersiapkan tempat menetap kala hadirnya cinta.

“Sepertinya sudah malam” melihat jam tangan, “Kapan-kapan kita sambung obrolan ini, sambil membahas soal perjodohan” beranjak dari tempat duduk nyamannya.

“Baru juga jam segini. Kalau ada kesempatan aku akan ke rumahmu, tahu sendiri lagi sibuk sama pekerjaan, kalau kau butuh bantuan tinggal hubungi saja!” ucap Papa Tyo ikut beranjak mengantar keluar.

***

Segera Sara berjalan cepat menuju kamar dengan perasaan terluka, mengunci pintu agar tidak ada seorangpun datang atau mengganggu dirinya saat ini. Mulut telah terbungkam untuk berkata, detak jantung berdebar kencang penuh kekecewaan.

Musik yang sedari tadi berbunyi layaknya ikut terdiam sejenak, membiarkan semua ruangan terasa sunyi dengan hati penuh kekosongan. Begitu mudah keputusan tadi, tanpa berpikir lebih dulu apa itu memang terbaik?

Nyatanya itu bukan jawaban. Menghadapi cinta sangat meragukan, ada rasa takut terulang kembali, terlebih banyak keraguan sedang bersemayam dalam jiwa. Untuk menentang perjodohan, namun apakah bisa? Sejauh rangkaian kata terucap akan terkalahkan dengan tuntutan yang Papa berikan.

Tanpa sadar buih-buih bening telah menetes membasahi, ketika harus kembali berbicara soal pasangan, Sara tidak dapat mengerti apa yang akan terjadi nanti. Menilik pengorbanan cinta yang dulu pernah dilakukan hilang bersama harapan, tidak ada keinginan untuk dijodohkan.

Apalagi tahu kalau Kevin menerima perjodohan ini, entah apa yang tengah terpikirkan dalam benaknya, begitu mudah menerima tanpa memikirkan lebih panjang dulu. Ini soal masa depan nanti, bukan permainan cinta monyet anak kecil. Tapi jawaban yang terucap di bibirnya begitu mantap, tanpa ada keraguan sama sekali.

Sara membanting tubuh pada tempat tidur, menatap langit-langit hanya berhias lampu putih penerang keseluruhan ruangan. Mengunci suara tangisan agar tidak terdengar dari luar, bersama rasa sesak dalam dada terus menghunjam kuat.

Lembaran tisu terlempar pasrah usai digunakan, merubah kerapian menjadi berantakan pada lantai bermodel kayu, lemparan tidak terarahkan. Hingga timbul rasa lelah untuk segera menyudahi tanpa tersadarkan, sejak rasa kantuk mulai menyebar untuk menyudahi sesaat.

Pada kepekatan langit hanya menampakkan rembulan tidak utuh, memberi cahaya yang terang meski belum tentu bisa menerangi keseluruhan Pertiwi. Hadirnya cahaya buatan membantu penerangan lebih mendominasi keramaian mustahil berhenti, karena aktivitas yang tidak kunjung usai.

***

Tampak sebuah benda berbentuk bulat dengan warna dominasi hitam pekat, telah mengusir kenyamanan dalam mengarungi alam mimpi, perlahan bunyi semakin kencang mengisyaratkan segera bangun pagi. Gerakan tangan terus meraba-raba posisi pengusik yang sedang terdiam pada laci dekat lampu tidur.

“Mana?......” geram Sara tetap menutup mata, tersebab rasa kesal segera membangkitkan tubuh dengan gerakan sangat malas.

Lalu menepis selimut menjauh dari tubuhnya, tanpa ragu menginjakkan kaki melangkah menuju kamar mandi. Suara pintu terbuka sekejap, dioleskan pasta gigi sebesar biji jagung. Pasta putih itu telah menciptakan busa untuk sesaat diikuti bilasan air bersih, tidak lupa membilas wajah lebih utama.

Tangisan semalam tidak mengabadikan bekas pada kantung mata, hanya rasa lelah ketika mata terus terbuka lebar. Padahal jelas-jelas semalam cukup lama meneteskan sebening tirta, namun hasil dari itu tidak membekas.

Mungkin terlalu sering menetes membasahi pipi chubby, hingga daya tampung tetap kuat meski telah beberapa tahun terus merasakan sakit hati. Namun mengapa, kabar tadi malam begitu menyakitkan, jelas-jelas Papa Tyo tidak memikirkan perasaan Sara.

Tibakah saatnya merasakan luka lagi, walau sakit hati usai pengkhianatan tidak kunjung reda, melainkan malah timbul kecewa yang teramat mendalam. Sampai bila rasa ini akan terus ada, karena cinta yang belum bisa mengikhlaskan. Di hati hanya ada Riko seorang, tidak akan ada yang bisa menggantikannya.

Sekarang Riko sedang apa? Kata yang terus berputar di benak dalam waktu lama, sebenarnya ingin menunggu, tapi luka itu sangat mengganggu. Rela masih belum bisa memastikan kebenaran, tersebab rasa cinta itu masih bertahan hingga sekarang.


lianasari993
lianasari993 lianasari993 merupakan nama pena, kerap kali di panggil Lian. Lahir dan Besar di Jawa Timur. Membaca bagian dari hobi yang tidak bisa ditinggal hingga memutuskan untuk menulis sampai sekarang.

Post a Comment for "Nice To Meet You, Merayu Semesta . Episode 4, Novel Romantis "