Cerita Akan Dimulai, Merayu Semesta . Episode 6, Novel Romantis
Novel Merayu Semesta Terbaru
“Bukan.” Mengurangi nada suara, “Tadi gue ketemu Disty di minimarket....”
Belum usai menjelaskan langsung dipotong begitu saja, “Terus apa yang terjadi, jangan-jangan kalian berdua ribut di sana?”
“Dengerin dulu! Disty kasih undangan pertunangan, dia suruh gue datang, awalnya mau nolak. Tapi dia malah ngomong kalau selama ini gue masih ada rasa buat Riko....”
“Bukannya memang masih ada rasa?” sahut Zahra banyak mengetahui semua permasalahan.
“Iya. Tapi gue gengsi, kalau enggak datang. Kasih idelah biar bisa datang, sekalian sama pacar!” pinta Sara memohon pada sahabatnya.
Zahra masih berpikir siapa yang akan menemani saat acara berlangsung, “Bobi?”
“Jangan, dia itu malu-maluin. Apalagi kalau lagi bercanda kayak bulan lalu di kafe, yang lain” salah satu teman Zahra yang paling unik dari semuanya.
“Sofian?” saran Zahra lagi.
“Dia sudah punya pacar, gila elo. Bakal jadi masalah nanti, memang teman elo enggak ada lagi?” mengetahui kalau pacarnya itu galak.
“Siapa? Zidan?” tambah Zahra malah kurang tepat.
“Zidan. Itu pacar elo bego, ogah ah.” Tolak Sara cepat, bagaimana bisa merekomendasikan pacarnya sendiri, punya sahabat satu ini memang sedikit menyebalkan dalam hal minta saran.
Hawa sejuk pada beberapa pelipis langit-langit belum bisa menghilangkan kegerahan dalam hati, usai kobaran memanas pada pertemuan dua wanita saling emosi. Apalagi kata lontaran tadi terus terngiang-ngiang menggeledek kenyataan yang sesungguhnya, lagi-lagi bikin jengkel!
Kenapa harus bertemu dengannya, padahal masalah perjodohan juga belum bisa terselesaikan, memangnya takdir bisa di pending? Di kira hutang....
Telepon pada meja kerja berbunyi, mengalihkan obrolan sesaat. Sara terdiam beberapa detik sambil mengatur nafas, sudah pasti itu Papa Tyo yang tengah menghubungi dirinya, “Iya, Pa?”
“Papa tunggu di ruangan sekarang!” belum usai menjawab sambungan telah terputus.
“Tumben?” sahut Zahra menyenderkan punggung sembari mengetukkan alas kaki pada lantai.
“Enggak tahu, ceritanya sambung nanti!” jelas Sara mempercepat langkah menuju ruangan, melewati beberapa meja karyawan lain.
Suara ketukan pintu, “Masuk.”
“Ada apa Papa suruh aku ke sini, bukannya semua berkas sudah selesai?”
“Bisa enggak dengarkan dulu. Nanti jam makan siang, Kevin bakal jemput kamu, jangan bantah perintah Papa!”
“Aku enggak bisa” tolak Sara beranjak, tangan kini memegang gagang pintu untuk pergi meninggalkan ruangan.
“Kalau kamu menolak, Papa akan tutup toko bungamu!” ancaman itu dalam sekejap telah menjadi bumerang bagi Sara.
Pandangan telah menatap pemilik suara, “Selalu saja. Bisa enggak Papa stop ancam aku, aku ini sudah besar bisa menentukan pilihan, oh iya. Soal Kevin, aku enggak mau dijodohkan dengannya....” segera Sara pergi keluar sebelum ancaman lain dilontarkan.
Pintu kembali tertutup rapat bersama ketukan langkah kaki menjauh, menempati posisi semula untuk melanjutkan percakapan belum jelas tujuan, saat itu juga Zahra menampilkan tatapan penuh tanya usai dari dalam ruangan.
Tarik keras pada bangku sebagai tanda rasa marah tengah terjadi, mengapa Papa Tyo bisa merencanakan makan siang, padahal Sara sama sekali tidak menginginkan itu. Raut muka yang tadinya nampak bahagia langsung murung sambil menggerutu.
“Kena marah lagi, elo sih sudah tahu bokap kayak gitu, malah bikin masalah!” tegur Zahra juga pernah terkena omelan.
Jemari menggaruk kepala tidak gatal, sambil mengacak rambut tapi tetap rapi kembali, “Za....” menggebrak meja keras.
“Mulai” tahu kebiasaan ketika sedang marah selalu memukul meja seenaknya.
“Bete. Yang benar saja, Papa suruh gue makan siang sama anak sahabatnya, padahal belum kenal. Pakai acara perjodohan segala, siapa yang enggak marah coba”
“Elo mau dijodohin, sama siapa?” bukan memberi saran malah menertawakan.
“Anak sahabat bokap, dia baru pulang dari Amerika bakal menetap di Bandung, ogah gue sama dia” jawab Sara merasa sebal akan rencana ini.
“Salah elo sendiri enggak punya pacar, jadi ribet kan? Tapi ada baiknya juga, semoga saja dengan perjodohan ini elo bisa moveon dari Riko, gue paling malas dengar segala curahan enggak penting soal Riko. Dia itu masa lalu, jadi stop berharap sama dia, mending terima saran dari bokap elo!” tutur Zahra malah membela pilihan Papa Tyo, bukannya berpihak pada sahabatnya sendiri.
“Elo itu sahabatnya siapa? Harusnya dukung gue, bukan malah dukung bokap. Pokoknya gue tetap enggak mau sama dia, tugas elo sekarang carikan pacar buat gue!” jelas Sara beranjak meninggalkan Zahra begitu saja.
“Zaman sudah canggih masih saja bikin repot, sekarang itu banyak aplikasi buat cari pasangan, pakai saja itu siapa tahu langsung cocok” menyarahkan platform belum pasti bisa menemukan sesuatu dengan sahabat paling repotnya.
“Dikira baju. Bisa saja di foto cakep pas ketemu malah enggak sesuai ekspektasi, bikin malu gue” tolak Sara membuka bungkus roti tadi dibeli.
“Tenang, itu platform sudah terjamin kualitasnya. Jadi enggak perlu ragu buat coba, atau mau gue yang daftar sekarang?”
“Enggak.” Tolak segera, menyahut ponsel dari tangan Zahra.
Hadirnya warna hitam pekat berbahan dasar kulit nampak mengkilat, menginjak lantai jenis laminasi. Membiarkan semua kancing jas hitamnya terbuka, melangkah menghampiri tanpa membawa apa-apa.
Beberapa detik terdiam untuk sesaat, “Jangan lupa nanti siang. Sekarang kamu urus semuanya, Papa ada keperluan. Jika ada yang mencari bilang saja sedang ada meeting!”
“Iya.” Jawab Sara seperti biasa jika berbicara selalu singkat.
Zahra masih belum berbicara hingga memastikan kalau langkah Papa Tyo telah hilang dari pandangan, pasalnya hampir semua karyawan bisa dibilang takut jika harus berhadapan atau membicarakan.
Padahal mereka sering lupa jika yang diajak menggosip itu anak dari bosnya, Sara hanya tersenyum sesekali ikut tertawa kecil mendengar curahan mereka. Terlebih jika salah satu dari karyawan usai dimarahi, pasti akan bercerita satu sama lain.
“Jadi mau makan sama cowok itu?” tanya ragu akan keputusan diambil Sara, karena selama ini jarang ada cowok mengajak makan berdua.
“Ya enggaklah. Nanti gue tinggal bilang saja mobil mogok, beres. Terus ponsel mati, dengan begitu Papa bisa maklum, paling juga kena omel dikit kayak biasanya. Gue sudah kebal sama semua itu....” papar Sara, lalu melanjutkan makan lagi.
Segera tas beralih pada genggaman, yang tadinya tergeletak pada meja dekat komputer mati sengaja tidak dihidupkan. Karena sejak awal berencana untuk meninggalkan perusahaan tanpa ijin lebih dulu, tersebab begitu muak terus mengamati berkas tiap hari tanpa mengenal tempat.
Hentakkan alas kaki berirama melewati setiap kesibukan bekerja karyawan di depan, juga tumpukan kertas berserakan pada meja kerja. Menyisakan setengah penghilang dahaga, kala lelah sering menyerang bersama waktu, ketika itu hawa ruangan tetap sama terasakan.
Hingga terhenti pada ruangan kecil berwarna abu-abu, tanpa ada seorangpun di dalam untuk beralih pada setiap ruang yang akan dituju. Ditekan tombol angka satu di mana tujuan akhir pada tempat tersebut segera ditinggalkan untuk hari ini, bersama melirik jarum jam terasa sangat lama dari biasanya.
Sambutan hangat macam biasa, penjaga pintu juga segala pantauan aktivitas dijalankan, untuk menjadi keampuhan bagai tugas diembannya. Senyum-sapa wajib ada, agar timbul kenyamanan bagi siapa saja. Tubuh tinggi dengan bentuk badan sedikit gemuk bagai ciri khas pada beberapa tempat yang sama.


Post a Comment for "Cerita Akan Dimulai, Merayu Semesta . Episode 6, Novel Romantis "