Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Perasaan dan Pekerjaan, Merayu Semesta . Episode 9, Novel Romantis

Novel Merayu Semesta Terbaru 



“Iya.” Jawab singkat, lalu meniup kencang agar cepat dingin.

“Mama kenal sama om Edi?” mungkin sudah saatnya mempertanyakan ini.

“Kenal banget, dulu waktu masih satu sekolah dengan Papa juga, kita bertiga memang sudah sejak dulu sering bareng. Semenjak om Edi pindah ke Amerika sudah enggak pernah saling berhubungan lagi, beruntung bisa ketemu lagi. Kamu sudah ketemu?”

“ Iya.”

“Kata Papa, om Edi ke sini sama anaknya!” tanya Mama hanya mendengar berita sedikit dari mulut Papa.

“Iya.”

 “Cakep enggak? Kamu suka sama dia? Sudah dapat nomor teleponnya?” tegas Mama Ela menghentikan menata kue sebentar.

“Kevin, lumayan, buat apa nomor teleponnya?” tanya Sara.

“Kalau kalian sama-sama suka kan bagus, apalagi anak sahabat Papa jadi lebih enak”

“Ah..” keluh Sara langsung bosan.

“Kata Papa kalian berdua bakal dijodohkan.”

“Masih jaman saja acara perjodohan, aku mau cari sendiri!” tolak Sara belum yakin apa bisa mencari.

“Sampai sekarang belum dapat juga.” Jawab mama Ela sudah sering menanyakan soal pasangan yang tidak kunjung datang.

“Mama... Sabarlah doakan biar cepat dapat!” mengambil kue kering sudah mulai dingin.

“Selalu malahan, makanya dijodohkan saja enggak perlu bingung cari sendiri!”

“Aku mau cari sendiri.”

“Oke kalau itu mau kamu.” Berjalan meninggalkan dapur menuju teras depan rumah.

Sara mengambil beberapa kue kering untuk dibawa ke dalam kamar sambil rebahan, bersyukur malam ini tidak ada pekerjaan lagi dari perusahaan. Hanya saja sedikit pikiran yang terus mengganggu kenyamanan, bagaimana tidak memikirkan hal tersebut.

***

Apa yang akan terjadi, kalau nanti ada yang tahu bahwa laki-laki untuk menemani acara pertunangan bukanlah kekasihnya. Melainkan bukan pasangan Sara, sama sekali memalukan bukan?

Tapi ini harus dilakukan, agar bisa menghadiri acara tersebut, lagi pula hanya sebentar saja. Setelah itu semua akan kembali seperti sedia kala, tapi apa yang harus dilakukan agar Disty dan Riko percaya?

Banyak permasalahan sedang bersarang dalam benak, membuat ide seketika buyar tidak karuan. Kepala terasa berat karna pikiran belum kunjung ditemukan jawaban, lumayan melelahkan terus-menerus dipikirkan. Tapi, bagaimana kalau besok tiba-tiba memalukan?

Sara berteriak kacau, “Kenapa ini lebih memusingkan daripada pekerjaan di kantor?”

Tidak terasa air mata telah menetes, menatap pemandangan luka yang tidak pernah teringinkan, harus bertahan bagaimana lagi agar bisa kuat. Jika setiap hari melihat mereka berdua asyik berpacaran di depan mata, bahkan untuk sekedar bernafas saja terasa begitu menyesakkan. Debaran detak jantung berantakan tanpa bisa dikendalikan, mau marah tidak akan pernah bisa!

Karena tidak ada status jelas untuk menentang perbuatan mereka, apalah daya kini tidak lagi bisa bersamanya, mengingat setiap momen yang kerap kali terlewati di dalam ruangan yang sama. Namun, ruang kelas ini telah menciptakan jeratan kecewa, salahkan jika relung hati masih mencintai Riko.

Walau harus terus bertemu dengan hati yang telah patah olehnya, Sara masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Riko telah memilih Disty. Cinta itu menyakitkan dan sangat melelahkan, tapi kenapa mau melaluinya?

Seandainya bisa lebih dari Disty, mungkin Riko akan tetap bertahan. Seandainya Sara cantik dan bertubuh bagus mungkin Riko akan memilihnya, seandainya semua bisa terulang kembali. Akan sebaik mungkin mengikuti apa yang disuka, ternyata telah terlambat. Riko bukan lagi milik Sara!

Lagi-lagi kenangan masalalu terus hadir dalam mimpi, bukankah itu telah usai sejak lama, lalu mengapa datang kembali? Melelahkan, dihantui bayangan mantan sangat merepotkan, pasalnya datang tanpa dugaan. Menyelinap pada waktu tidak tentu, ternyata berdamai dengan masalah bukanlah hal mudah, hati dan bibir tidak bisa berkata sama.

Rebahan semalam menyisakan bekas luka, apalagi mimpi itu datang kembali. Bukannya pagi hari terasa lebih segar melainkan melelahkan, ini tidak bisa dibilang risiko bermain cinta, karna cinta hadir dalam sekejap dan meninggalkan luka yang sangat lama. Itulah yang kini harus dilewati Sara sendiri, menyembunyikan itu dari semua orang, kecuali sahabatnya.

“Aww.....” tidak sengaja remahan kue kering jatuh di atas kertas.

***

Malam telah berganti pagi, terdengar kicauan burung berada di balkon. Aroma terapi ruangan selalu tercium segar, tergeletak dekat rak tas.

“Sara cepat turun!” panggil mama Ela dari bawah, suara yang keras bisa terjangkau hingga lantai dua, padahal sekarang sedang berada di dapur.

Hentakan alas kaki menuruni tangga menyisakan bekas suara, diletakkan jas pada tangan kiri dan tangan kanan membawa berkas yang akan digunakan untuk meeting nanti siang. Dilepas kaca mata sementara sebelum proses bekerja dimulai, melihat ruangan telah bersih setiap hari.

“Papa sudah berangkat, nanti siang kamu di suruh bawa berkas di meja kerjanya sebelum ke tempat meeting. Sekarang buruan sarapan, keburu jalanan macet mungkin meeting bisa sampai sore.” Ucapnya sambil berjalan mengambil piring berada di dalam rak meja dapur.

“Sore?” protes dengan waktu terbilang lama dari biasanya, diletakkan berkas dan jas pada kursi kosong samping tempat duduk.

“Iya, rencana perusahaan akan kerja sama dengan perusahaan baru, jadi butuh waktu lama buat mengambil keputusan, selain itu ada beberapa hal yang harus diurus juga kan!” duduk di depan Sara yang sudah meletakkan lauk di piring.

Hanya embusan nafas panjang, “mmm” mulai makan segera, terlebih dari tadi Zahra menyuruhnya menjemput karena mobilnya sedang rusak

“Papa juga sudah merencanakan makan malam kamu dengan Kevin, jangan membuat kecewa dua kali!” pesan semalam waktu sedang ngobrol di teras untuk disampaikan segera, apalagi tahu kalau putrinya pasti akan menghindar.

“Lihat nanti.” Jawab Sara mengambil jas dan berkas, “Aku berangkat dulu!”

“Hati-hati di jalan, jangan kebut-kebutan bahaya.” Bagaimana kebut-kebutan kalau berangkat bekerja dengan mobil bukan motor.

***

Rumah Zahra satu arah menuju perusahaan, jadi sudah sering minta jemput walaupun punya mobil dengan alasan malas berkendara. Begitulah dia, tapi dengan keberadaannya bisa mengisi kekosongan sepanjang perjalanan selain mendengar musik terus.

“Lama.” Tegur Zahra mengenakan sabuk pengaman, melihat Sara kembali mengendarai mobil.

Harmoni lagu cinta terdengar dari gesekan biola salah satu pemain cukup terkenal di dunia, salah satu pemusik yang selalu dikagumi akan bakat dan pandainya memainkan beberapa alat musik terutama biola.

“Gimana sudah ada?”

“Apa?” Melihat sekilas, kembali memandang ke depan yang akan menentukan akan melewati mana, sesekali melirik kaca spion atas.


lianasari993
lianasari993 lianasari993 merupakan nama pena, kerap kali di panggil Lian. Lahir dan Besar di Jawa Timur. Membaca bagian dari hobi yang tidak bisa ditinggal hingga memutuskan untuk menulis sampai sekarang.

Post a Comment for "Perasaan dan Pekerjaan, Merayu Semesta . Episode 9, Novel Romantis "