Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Dinner, Merayu Semesta . Episode 14, Novel Romantis

Novel Merayu Semesta Terbaru 



“Sara. Tempat makannya masih jauh?” tegur Kevin memerhatikan rona merah telah berada pada pipi Sara, “Your cheeks are red!” ucapnya tersenyum.

Dengan cepat mata melotot, sembari membuang muka pada samping arah ke bawah lantai dengan malu, bibir bawah digigit semakin malu. Bagaimana bisa pipi memerah di situasi yang tidak tepat saat ini, mungkin efek dari kurang perhatian dan kasih sayang pasangan. Memalukan sekali!

Ditutup pipi dengan tangannya sebelum kembali melihat Kevin yang masih memerhatikan, mulut terasa kehabisan kata-kata untuk membalas ucapannya, “Mmm.”

Kevin malah tersenyum melihat Sara bisa seperti itu karenanya, padahal hanya bergandengan tangan. Selain itu ada rasa yang berbeda dalam diri Kevin, sejak menggandeng tangan Sara berjalan keluar bioskop hingga sekarang. Ada getaran bahagia tengah menyerang dasar hati, yang telah lama tidak ada pengisi usai berpisah dengan pacarnya.

“I like seeing you like that....” ucapnya melempar senyuman hingga gigi miliknya keluar.

Segera untuk mengelak agar tidak jadi masalah, apalagi Sara sudah berencana untuk membatalkan perjodohan, yang benar saja jika tiba-tiba jatuh cinta pada Kevin. Tapi ketika dilihat lebih dekat ketampanan yang dimiliki Kevin bukanlah main-main, apalagi tatapan mata yang diberikan, bikin salah tingkah dibuatnya.

“Aku lapar.....” elak segera sebelum Kevin bertanya hal lain, apalagi perut sudah terasa lapar.

“Iya.”

Jawab Kevin tetap menggandeng sambil melewati beberapa toko yang berjejer rapi, langkah kaki menyamai Sara sedikit pelan, mungkin karena panjang kaki yang menyebabkan langkah sedikit terhambat untuk mempercepat. Berbeda dengan Kevin, menggunakan hak tinggi bukan berarti bisa menyamai tinggi badannya, melainkan jauh berbeda.

***

Sampailah di tempat makan, segera Sara memesan makanan berat untuk mengganjal perut, dengan minuman dingin supaya lebih nikmat. Apalagi ini belum saatnya musim hujan, ingin rasanya meminum yang dingin-dingin.

“Apa alasan kamu mau dijodohkan sama aku, bukankah kita baru ketemu?” tanya Sara menunggu pesanan sedang dibuatkan.

Menarik nafas panjang lalu menghembuskan pelan, “Karena aku merasakan sesuatu yang berbeda, waktu pertama kali ketemu sama kamu.Tiba-tiba orang tua kita berencana untuk menjodohkan, itulah yang membuatku semakin yakin......”

“Kalau kamu adalah wanita yang sengaja Tuhan kirim untukku, apalagi mengingat momen paling menyakitkan dalam hidupku, saat pacarku menolak bertunangan. Di situ aku merasa hancur, semua waktuku,cuma buat berdiam sendiri di kamar. Pekerjaan berantakan.....”

“Setelah dua bulan, aku memutuskan kembali bangkit. Mulai bekerja, mendapat dukungan dari orang terdekat, sampai Papa ajak aku datang ke Indonesia. Entah kenapa... aku malah menurutinya dan ternyata ada hal yang enggak pernah aku bayangkan sebelumnya... Aku dan kamu bertemu.”

“Ternyata kamu juga pernah patah hati...” ucap Sara tidak menyangka Kevin yang terlihat super perfect bisa terpuruk karena cinta.

“Have you ever feltit too?”

Mengagumkan kepala dengan senyuman tipis, “Aku pernah patah hati cukup lama.”

“Dia siapa? Apa yang membuat kamu bisa patah hati cukup lama?” tanyanya penasaran.

“Mantan pacarku waktu SMA, memang sudah lama, tapi sakitnya enggak main-main. Sudahlah, enggak penting juga bahas itu!” ada rasa takut jika tiba-tiba kesedihan dan air mata menetes jika membahas kenangan itu.

“Turn sout we’re the same. Experiencing heart ache is indeed quite trouble some, but slowly I’ve for gotten about it, especially knowing that we’real ready set up.” Merasakan lega dengan perlahan seiring waktu berjalan.

“I’m not sure about that.” Jawab Sara menghilangkan senyuman dari wajahnya oleh ucapan tidak yakin.

“Do you still believe that love exists?” pertanyaan itu seketika menampar Sara dalam sekejap, terutama soal perasaan dalam dirinya.

“I used to be lieve it, but now I doubt it.” Ucap Sara berkata apa adanya.

“Aku paham. Karena itulah aku berharap, dengan kehadiranku dalam hidup kamu, semua akan berubah dan kamu mulai belajar mencintaiku, seperti aku sudah mulai mencintai kamu!” papar Kevin jujur mengatakan perasaan tanpa ada yang disembunyikan.

“Aku minta lupakan dirinya!” tambah Kevin menggenggam tangan Sara di depannya dengan erat, meski hanya sesaat sebelum akhirnya makanan datang.

“Sudah berusaha, tapi belum bisa, aku memang salah terlalu mencintainya. Sampai lupa cara melupakan. Makan dulu, aku sudah lapar!”

***

Menunggu lift, setelah dua menit akhirnya terbuka, Sara berjalan masuk pada pojok belakang daripada di depan harus berdesakan dengan orang lain yang sama-sama menunggu. Bahkan lift sudah penuh masih saja orang berusaha masuk, membuat ruang sempit ini menjadi berdesakan.

Kevin menghalangi seorang laki-laki yang sedari tadi berusaha mendekati tubuh Sara, bahkan tangan miliknya ingin memegang, dengan cepat ditepis keras tangan tersebut oleh Kevin. Hingga terkena dinding lift lumayan keras, dengan tubuh Kevin tinggi dan gagah bisa menutupi badan mungil Sara tidak terlihat, lagi-lagi saling berdekatan untuk kedua kalinya.

Sara tidak menepis setengah punggung dan tangan kiri milik Kevin, jelas saat ini sangatlah berdekatan. Lirikkan tajam telah berhasil membuat laki-laki itu merasa ciut nyalinya, melihat itu Sara merasa lebih tenang.

Lift kembali terbuka, membiarkan semua orang keluar lebih dulu. “Sudah sampai!” kata Sara pada Kevin masih terdiam .

“Oke.” Mengerutkan keningnya.

“I will protect you from such a man, who has no manners!” Paparnya kesal meski laki-laki itu telah hilang dari pandangan.

“Thanks.”

***

Kaki terus melangkah menuju area parkir mobil lebih jauh dari awal datang, apalagi usai makan memilih untuk jalan-jalan keliling meski tidak membeli apapun. Walau Kevin tetap menawarkan untuk membelikan sesuatu untuknya, tetap ditolak. Karena tujuan awal ke sini hanya untuk menonton bioskop dan makan saja.

Tiba-tiba ada seorang laki-laki berlari dari arah belakang menyenggol bahu Sara hingga terjatuh, dengan sigap Kevin telah memeluk tubuh Sara sebelum terjatuh ke bawah. Alhasil kini tubuh Sara berada dalam pelukan, kedekatan antara keduanya tidak bisa ditahan, apalagi Kevin terus menatap wajah Sara dengan penuh kekhawatiran.

Detakan Jantung telah mengambil situasi saat ini, tangan yang telah mendarat, pada dada bidang sebelah kiri. Sara bisa merasakan denyut jantung kencang, ternyata keduanya sama-sama sedang beradu pacu.

Kehangatan akan dekapan darinya bikin Sara canggung, kala rasa ragu terus mengintai setiap saat, namun Kevin layaknya datang untuk menepis perasaan itu walau hanya sesaat. Apakah Kevin sedang merasakan hal yang sama?

Mengisahkan sebuah drama romantis, yang mungkin saja akan terkenang atau bahkan malah menjadi bayangan untuk menghantui dikala kesunyian. Kenapa diri ini seketika merasa jauh berbeda dari hari biasa, ada rasa yang tidak pernah bisa terjelaskan, tapi masih bisa dirasakan.

“Kamu enggak pa-pa?” tanya Kevin canggung, tanpa henti menatap Sara dengan lembut.

Hanya menggeleng.

lianasari993
lianasari993 lianasari993 merupakan nama pena, kerap kali di panggil Lian. Lahir dan Besar di Jawa Timur. Membaca bagian dari hobi yang tidak bisa ditinggal hingga memutuskan untuk menulis sampai sekarang.

Post a Comment for "Dinner, Merayu Semesta . Episode 14, Novel Romantis "