Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Cinta Yang Terpendam, Selaras Yang Bertepi. Episode 45, Novel Remaja Romantis

What Really Is Our Relationship, Selaras Yang Bertepi 



Segera Darian membuka pesan dari Elin. Pertanyaan kabar, sudah makan, dan beberapa pertanyaan sebelum ditutup dengan kata selamat malam.

Beranjak dari tempat duduk berjalan ke kamar. Darian berusaha untuk mencintai Elin, tapi perasaannya tidak bisa melebihi rasa sayang pada Keisha. Jahat bukan!

Raga untuk seseorang yang mencintai, hati untuk seseorang yang dicintai.

Darian masih belum bisa mengambil keputusan untuk kehilangan Elin, mengulur-ulur waktu bertahan di dalam hubungan. Nyatanya sama-sama sakit hati jika dijelaskan lebih nyata. Kehilangan seseorang yang perhatian dan mencintai dirinya, Darian belum sanggup.

Tetap saja keputusan bertahan tidak bisa dibenarkan, beri sedikit waktu untuk ngambil keputusan nanti, sebelum kehilangan.

***

Hari harus berjalan seperti biasanya, hanya saja Darian tidak datang untuk menjemput. Pesan singkat dari layar ponsel cukup membuat Elin tenang, meski Darian hanya membalas kalimat terimakasih atas perhatian dan ucapan selamat malam.

Seragam sekolah telah dikenakan, meja makan sunyi bagai hari-hari sebelumnya. Roti tawar ditemani beberapa selai pilihan yang tidak pernah berubah, alunan musik diputar mengusir sepi.

Langkah kaki menuruni tangga, berjalan menghampiri meja makan. Saling mendiamkan, bisa dibilang jarang ada obrolan. Fokus pada kehidupan sendiri atau tidak tahu harus berbicara apa!

Hampir sepuluh menit. Elin begitu geram harus berada di situasi canggung, ojek online belum juga didapat, tumben biasanya langsung dapat sekarang malah lama.

“Nak....” suara singkat itu menghentikan Elin menguyah sepotong roti dari genggaman, “Elin, ayah minta maaf....”

Elin hanya terdiam, bingung harus berbuat apa, bingung harus berbicara apa. Hal yang sudah dilakukan ketika berbicara dengan orang tuanya, terasa tidak nyaman sedang dirasakan sekarang.

“Kamu pasti menganggap ayah jahat selama ini.....” memejamkan mata sejenak, “Sudah gagal menjadi suami, gagal menjadi seorang ayah yang baik”

“Tapi kamu harus tahu, ayah sangat mencintai kalian. Ayah salah, tidak bisa menjaga keutuhan keluarga ini. Ayah berharap kamu mau tinggal berdua sama ayah...”

Sesak di dada cukup mengganggu pikiran, “Beri Elin waktu, Yah. Ini enggak mudah...”

“Ayah faham apa yang kamu rasakan, selama ini ayah enggak ada waktu, lebih sering kerja daripada bermain sama kamu. Semua ayah lakukan untuk bahagia dan hidup kamu, nak!”

“Terima kasih, buat kehidupan Elin yang enggak pernah kekurangan soal uang. Tapi Elin juga butuh sosok ayah, nyatanya peran iku malah kosong....” Elin sudah tidak bisa membendung air matanya, “Elin mau berangkat sekolah.”

“Ayah belum selesai bicara, nak”

Beranjak dari tempat duduknya setelah meminum air putih, “Kenapa baru sekarang? Setelah semuanya terjadi, dulu ayah ke mana saja?”

“Elin selalu nunggu momen kita bisa bareng-bareng lagi, kayaknya sulit momen itu ada di keluarga ini, semuanya sudah berakhir.....”

Mungkin tidak seharusnya Elin mengatakan itu, tetapi mau sampai kapan harus memendam perasaan atas pertanyaan semasa kecilnya. Bingung berada di situasi memusingkan, Elin hanya bisa menerima atas kabar perceraian dari orang tua.

Dari teras rumah, pandangan menatap pada sebuah rumah yang masih kosong, kapan Rendra datang? Elin benar-benar merindukannya.

Pesan singkat beberapa hari lalu belum Rendra balas hingga sekarang, apa dirinya marah?

“Ren, tolong jangan hukum gue kayak gini! Gue kangen sama elo. Please, balik lagi...” batin Elin mengelap bekas tangisannya, ketika tahu ojek online berjalan menghampiri

Bekas hujan semalam terasa dingin, jaket milik Rendra sedikit membantu menghangatkan tubuh. Dari tumpukan jaket di lemari, Elin memilih memakai punya Rendra. Kehilangan, jika boleh jujur.

Lalu-lalang kendaraan saling mendahului, sesekali suara klakson berbunyi. Elin cukup duduk tenang, mempercayai kendali pada penguasa jalanan ke dua, setelah emak-emak. Lampu sen kiri belok ke kanan.

Lampu jalanan sudah mati sejak fajar datang, kabut jalanan yang dulu ada sekarang hilang entah ke mana. Jogja tidak sama seperti dulu, tetapi soal wisata lebih banyak daripada dulu.

Kafe hampir memenuhi lokasi, berbagai macam jenis makanan dan minuman. Menawarkan fasilitas menarik bagi anak-anak jaman sekarang, tinggal mencari informasi tempat kekinian di internet akan muncul banyak referensi.

Makanan siap saja mengisi sepanjang trotoar, Elin meminta berhenti sejenak untuk membeli kue basah. Hanya tiga macam nagasari, klepon sama cenil. Kembali perjalanan dilanjutkan menuju sekolah tidak lebih sepuluh menit sampai.

***

Gerbang hitam terbuka lebar, siswa-siswi mulai berdatangan. Begitu juga Elin yang baru saja datang langsung ditegur Keisha, “Elin, tungguin”

Elin yang melihat Keisha juga turun dari ojek online, “Tumben enggak sama Ghazi?”

“Dia ada keperluan, jadi aku disuruh berangkat duluan. Darian habis telpon gue katanya izin enggak masuk beberapa hari...” berjalan sejajar melewati beberapa siswa yang bergerombol, “Gue turut sedih dengar beritanya”

“Kayaknya pulang sekolah gue ke sana deh, temani dia biar enggak sendirian” Elin membuka bungkus, “Elo mau yang mana, tadi pas gue berangkat sekalian beli di jalan?”

“Enak nih, gue minta klepon enggak papa kan?” Keisha mengambil wadah mika berukuran sedang dari dalam keresek, “Ini yang dekat pohon kan?”

“Iya ambil saja, gue beli banyak kok. Eh, elo nanti kalau ke kantin panggil gue ya. Hari ini enggak sempat bawa bekal takut telat” sebelum akhirnya berpisah di depan pintu jurusan IPA.

“Oke, nanti gue samperin. Elo enggak mau mampir nih!” ucap Keisha di depan pintu.

“Enggak deh kapan-kapan saja” kata Elin tertawa menyikapi candaan, “Gue mau piket kelas dulu”

“Oke, bye” Keisha memutus obrolan pagi ini.

Semburan air terus menerpa dedaunan, mengalir tenang melewati rongga menuju tanah, menyisakan kesuburan pada mereka. Hanya beberapa bunga tampak mekar pada setiap pot depan kelas, awan cerah sudah muncul sepanjang perjalanan. Tanpa tanda yang pasti, tiba-tiba hujan kecil bertaburan membuat langkah kaki dipercepat. Ternyata bukan manusia yang sulit untuk ditebak, hujan juga sama saja.

Guyuran air selang dari tangan penjaga taman langsung dihentikan, berjalan untuk melanjutkan aktivitas selanjutnya. Berterima kasih atas apa yang selama ini dilakukan untuk sekolah, sering kali tidak di sadari. Hanya ketulusan dengan gaji yang tidak seberapa, rasa nyaman ini bisa dinikmati bersama.

Saling sapa senyum sebagai cerminan kepribadian. Ajaran yang telah diberikan sejak kecil, satu sekolah bagai keluarga ke dua. Yah, Elin merasakannya, tidak terasa sebentar lagi akan beranjak melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

Ruang kelas sudah terisi hampir penuh, lantai keramik tampak bersih oleh sapuan. Elin membersihkan setiap celah pada meja dan kursi, sela-sela pada setiap sisi dengan pelan agar tidak tertiup angin tipis.

Ghazi dengan santai memasuki kelas tanpa bersalah kalau hari ini juga piket, Elin yang menyadarinya langsung bernada sewot, “Enak banget jadwal piket masuk mepet jam”

Ghazi berjalan cengengesan sambil berantakan rambutnya lepek karena helm, “Gue tadi ada perlu, ya sudah mana gue lanjut nyapunya!”

“Tinggal sebelah pojok sana, sekalian harus papan tulis. Rek, biar dilanjut Ghazi nyapunya!” kata Elin memberikan sapu, lalu meminta panther piket hari ini untuk berhenti, “Gha, elo lanjutin. Gue mau buang sampah ke bawah.”

Ghazi hanya menaikkan alis kirinya, seraya menyapu membiarkan tas masih melingkar di bahunya.

Memulai hari ini terasa jauh berbeda, Rendra pergi tanpa tahu kapan kembali, Darian tidak masuk sekolah beberapa hari. Adakah cara agar Rendra kembali, tapi percuma pesan ini belum juga ada jawaban.

Sesungguhnya Elin tidak ingin Rendra pergi, tetapi sulit untuk melarang. Mencoba menerima keputusan itu, meski sebenarnya berat untuk kehilangan. Tutur kata yang sering terucap masih terekam jelas dalam benak, namun sejauh mana jarak tidak akan pernah terlupa.

Bel masuk berbunyi.

Pagi terasa dingin, guru pengajar menyuruh untuk melepas jaket sebelum pelajaran hari ini di mulai.

“Hari ini tugasnya cukup menulis keunikan dari setiap provinsi di Indonesia, minggu kemarin petanya sudah jadi. Saya minta kalian tulis secara detail pada kerja folio yang sudah saya persiapkan, silahkan Farrel bagi secara merata”

***

Read More.....

lianasari993
lianasari993 lianasari993 merupakan nama pena, kerap kali di panggil Lian. Lahir dan Besar di Jawa Timur. Membaca bagian dari hobi yang tidak bisa ditinggal hingga memutuskan untuk menulis sampai sekarang.

Post a Comment for "Cinta Yang Terpendam, Selaras Yang Bertepi. Episode 45, Novel Remaja Romantis "