Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Dia Datang, Merayu Semesta . Episode 3, Novel Romantis

Novel Merayu Semesta Terbaru 



Titik fokus telah tersita dengan suara mobil memasuki teras rumah, sangat asing terdengar. Bersamaan suara pintu terbuka lebar, layaknya sudah siap siaga menyambut kehadiran tamu.

“Selamat malam, apa benar ini rumah Tyo?” canda laki-laki seusia dengan Papa.

Suara tawa menandakan keakraban dari keduanya, “Edi. Sudah lama kita enggak ketemu, gimana kabarnya, ayo masuk dulu!”

“Ya, seperti kelihatannya. Masih awet muda banget, sudah berapa lama kita enggak bertemu ya?” merangkul bahu sambil berjalan menuju ruang tamu.

“Sudah lama banget. Aku pikir bakal menetap di sana, ternyata balik juga. Ngomong-ngomong anakmu sudah berapa?” tanya Papa Tyo.

“Anakku dua, satu....” menghentikan ucapannya, “Ini dia!” melihat kehadiran seorang laki-laki yang datang bersamanya.

“Kevin, ini sahabat Papa, Om Tyo!”

Segera menjabat tangan, “Kevin.”

Turut kata yang tegas menampilkan sikap wibawa pada diri laki-laki itu, bahkan cara duduk yang telah terlatih.

Kevin Jonathan Robert. Laki-laki berusia 33 tahun, keturunan Amerika-Indonesia(Sunda). Memiliki tubuh tinggi, atletis, hidung mancung, berkulit putih. Tatapan rambut berwarna coklat terang terbilang sangat rapi tidak keluar dari jalurnya, memperlihatkan bekas sisiran.

Menggunakan jam tangan berwarna silver mempercantik penampilan jas hitam menutupi bentuk tubuh berotot tersebut. Sorotan tatapan netra sering kali menjadi pusat perhatian, sangat cantik dan menarik jika dilihat secara dekat. Warna amber menampilkan kilauan keemasan seperti kuning tembaga.

“Yang satu cewek masih kuliah. Anakmu sendiri sudah berapa?” tanya om Edi balik.

“Enak anak laki-laki bisa jadi penerus bisnis” ucap Papa Tyo melihat penampilan Kevin bisa dibilang metroseksual.

“Bisa di bilang begitu.” Sembari melihat anaknya sebentar.

“Anakku cuma satu perempuan. Mana bisa jadi penerusku nanti, selama ini saja disuruh menurut sulitnya minta ampun. Bisanya cuma bantah, memang keras kepala, suka seenaknya. Dia itu enggak bisa apa-apa!” jelas Papa Tyo yang tidak pernah menganggap kerja keras anaknya selama ini.

“Jangan merendahkan seenaknya, setiap anak punya potensi masing-masing, dari dulu kebanyakan menuntut sesuai kehendakmu, tanpa berpikir apa itu memang yang terbaik buat putrimu. Dia bukan catur yang bisa dikendalikan.” nasehat bijak yang selalu didengar waktu dulu bersama.

“Yang disukai putriku enggak ada gunanya, malah buang-buang waktu, nyatanya dari dulu les biola masih saja seperti itu.”

“Kau ini masih saja mengutamakan keuntungan dalam segala hal, tetap seperti dulu. Pantas putrimu kurang terbuka, ternyata kayak gini, sisakan waktu buat ngomong berdua, dengarkan setiap ceritanya biar tahu. Seperti apa yang selama ini diinginkan...”

“Alah, paling juga enggak penting. Kerja selalu mengeluh....”

Segera om Edi memotong, “Paling tugas yang kau kasih keterlaluan, bisa juga itu bukan pekerjaan yang dia inginkan. Stop menuntut putrimu terus, dia sudah besar, sudah tahu mana yang terbaik buat dirinya.”

Jiwa terasa tersayat mendengar ucapan yang sangat menyiksa, tidak akan pernah berharga selama ini yang dilakukan, melainkan kata-kata merendahkan kerap kali terdengar telinga Sara. Bekerja di perusahaan masih tetap bertahan, walau sama sekali tidak diinginkan, melelahkan harus terlihat biasa saja.

Dalam relung hati ingin sekali menyudahi, tuntutan bukan kebaikan. Melainkan cara yang kerap kali dirasakan, layaknya membunuh secara perlahan. Bagaimana bisa menjadi diri sendiri, jika keadaan selalu berkata untuk mengikuti.

Tidak adakah sedikit rasa kagum dalam hati, akan setiap langkah untuk menyemangati. Merendahkan dengan tatapan atau perkataan pasti menyiksa kala sendirian, merenung apakah benar. Tolong, jangan terlalu menuntut atas hidup yang belum tahu nantinya!

“Justru akulah yang tahu mana terbaik untuknya, kalau bukan perintahku enggak akan mungkin jadi seperti ini. Sekarang bisa bekerja jadi sekretaris itu berkat siapa? Fasilitas yang selama ini kuberikan,apa masih kurang? Bisanya cuma menentang apa yang aku suruh.” Rasa jengkel mulai nampak dengan untaian kata.

“Kau yakin jadi sekretaris pilihannya, memang terbaik untuknya? Apa paham betul, mana kemauan dan tuntutan.” Tegas om Edi kerap kali berdebat dengan Papa dari dulu dan hingga sekarang dipertemukan.

“Seorang anak akan melakukan apapun permintaan orang tua, walaupun belum tentu itu yang diinginkan. Kau lihat saja anakku Kevin ini!”

Pandangan lalu beralih menatap Kevin sekejap, lalu memulai obrolan, lebih tepatnya perdebatan antara bapak-bapak saling membenarkan. Beralih pada Kevin hanya terdiam sambil melihat saja, meski dalam benak sibuk dengan hal lain, terpenting layaknya melihat sambil menyimak.

“Dulu aku menyuruhnya mengambil jurusan kedokteran, supaya bisa melanjutkan cita-citaku. Kenyataannya, malah membuat dia semakin menyendiri, tertutup dan kurang berinteraksi. Akhirnya malah sakit parah, karena terlalu banyak begadang, sulit makan pula....”

“Putriku enggak pernah begitu, diam nurut saja!” dugaan yang sebenarnya salah besar.

“Semoga saja cara berpikirmu benar.” Imbuhan belum meyakini bahwa jawab itu memang terbaik.

“Pasti. Gara-gara kebanyakan ngobrol lupa kasih minum” Papa Tyo melihat arah dalam tidak kunjung mendapati kehadiran asisten rumah tangga.

Bersamaan langkah kaki menuruni tangga, ingin mengambil minum juga makanan ringan di dapur. Pandangan Sara terhenti memerhatikan Papa melihat ke arahnya ,“...?”

“Siapkan minum buat tamu, sekalian camilan di meja makan!” pinta Papa Tyo kembali pada posisi semula, melanjutkan obrolan mereka.

“Putrimu?” tanya om Edi yang hanya mendengar suara dari dalam.

“Iya. Pembantu lagi keluar sama bini, belanja bulanan sampai sekarang belum pulang juga” tambah Papa Tyo membenarkan kacamata.

“Istrimu Ela kan? Pacarmu waktu SMA dulu, lucu banget kalau ingat momen itu” kedua tertawa bersama mengingat momen paling berkesan di masa lalu.

“Iya-lah. Aku ingat masa itu, kau yang dekati, malah aku yang pacari....”

Papa Tyo tertawa lepas. Tawa yang tidak pernah terlihat dan terdengar selama ini, tapi sekarang menampakkan kebahagiaan sedang terjadi, karena selama ini sisi tegas, keras kepala dan hanya tuntutan yang sering kali diperlihatkan.

Sekarang jauh berbeda, suka tertawa, banyak bicara dan terbuka. Kenapa tidak sejak dulu sikap itu hadir? Kenapa baru sekarang, apa hanya om Edi yang bisa menciptakan sisi berbeda dalam diri Papa? Jika benar, bisakah bertahan lama?

***

Genggaman erat pada kedua sisi nampan menjaga keseimbangan sembari melangkah menuju ruang tamu, kepulan asap samar tampak jelas keluar dari cangkir teh hangat bersama kue kering. Cocok untuk menemani kala obrolan santai malam hari.

Kini pandangan telah tertuju pada wanita sedang meletakkan teh pada meja dengan sopan. Begitu juga Kevin menatap wajah Sara hingga tidak berkedip memandang lama, saat itu Sara masih mengenakan baju rumah berwarna biru langit dan mencepol rapi rambutnya.


lianasari993
lianasari993 lianasari993 merupakan nama pena, kerap kali di panggil Lian. Lahir dan Besar di Jawa Timur. Membaca bagian dari hobi yang tidak bisa ditinggal hingga memutuskan untuk menulis sampai sekarang.

Post a Comment for "Dia Datang, Merayu Semesta . Episode 3, Novel Romantis "