Kenangan Itu Datang, Merayu Semesta . Episode 2, Novel Romantis
Novel Merayu Semesta Terbaru
Sementara waktu telah menunjukkan bahwa cinta sangat menyakitkan, hanya ada keinginan untuk berhenti merasakan cinta itu lagi, karena sesungguhnya perasaan ini telah gugur dalam medan perang. Bila memang dengan cara itu dan semua bisa berubah dalam sekejap. Mungkin melarang diri jatuh cinta lebih baik.
Tapi kenyataannya semua tidak semudah yang diduga, jangan pernah bertanya bagaimana luka yang sudah tertorehkan, untuk tahu saja tidak akan bisa terjelaskan oleh kata. Biarkan gemercik air mata sakit hati tetap deras, meski mentari siang begitu terik, memancarkan cahaya silau.
Sara telah menjadi pusat perhatian sejak awal, memilih tidak menghiraukan itu sudah menjadi pilihan. Untuk lari menjauh dari keramaian sedang terlaksana, tahukah bahwa apa yang sedang mereka obrolkan. Benar, berkata layaknya tahu apa yang sebenarnya terjadi, menyebar rangkaian kata yang tidak ada sedikitpun kebenaran.
Angkasa kini telah menjadi saksi luka yang sedang meradang tanpa penghalang, layaknya akan mendekat untuk mendengarkan segala keluh-kesah dan akan membinasakan bersama awan putih terus berjalan menghiasi. Membiarkan segala rasa tercurahkan beriringan derasnya air mata dalam keramaian.
Andai semua tahu, bukan lelah mencintai yang kini sedang dibahas. Tapi hidup tidak berjalan dari prakiraan, menjauh dari segala impian dan khayalan. Sedikit kisah yang telah terjadi antara dirinya, telah menciptakan butiran ketakutan untuk kehilangan, melihat semua kenangan lalu begitu sangat menyakitkan.
Keras kepala, telah berhasil membuat keinginan untuk bisa memiliki, tapi sepertinya tidak akan pernah bisa terjadi. Karena cinta telah memutuskan untuk berakhir, meski cinta yang dimiliki Sara masih belum usai. Sering terucapkan sewaktu dulu untuk tetap setia, sementara ada ruang yang tidak berpikir sama.
Di mana ruang milik Riko, menandakan itu sekedar permainan semata. Dengan pengkhianatan telah menunjukkan penjelas, bahwa luka akan tetap ada meski waktu terus berputar. Mengapa dulu menyatakan cinta, jika dengan cepat menyalakan api dalam jiwa, setiap hari selalu terbayang dalam benak.
Kini terasakan lain, saat tingkah mulai berubah tanpa tersadarkan, apa mungkin ketulusan yang telah diberikan hanya untuk hiasan? Riko, tidak ada sedikitpun ingin berpisah, walau berat hati harus melepaskan. Lalu kenapa begitu melekat masa-masa bersama dulu, semakin timbul rasa benci, semakin sakit pula luka ini.
Trauma karena cinta masih belum bisa terselesaikan, meski kejadian itu telah berlalu, bahkan telah banyak perubahan yang kini bisa terbilang lebih baik dari sebelumnya. Hanya saja, rasa takut untuk memulai cinta sering kali menghadang juga menentang.
Selaksana peristiwa pengkhianatan kerap kali datang dalam bayangan, menciptakan lamunan hingga menampilkan adegan masa lalu yang tidak mengenakan. Walaupun usia telah dewasa dan telah siap menjalin hubungan lebih serius, sering kali Sara berkata santai demi menunda-nunda.
Terlebih lagi tuntutan pendidikan sering kali menjadi perdebatan sejak lulus sekolah menengah atas, bukan ingin menentang segala pinta, hanya saja itu bukan keinginan. Papa Tyo, dialah yang selalu mengendalikan Sara layaknya kuda pacuan, agar bisa mengikuti apa yang diinginkan.
Hidup dalam bayangan tuntutan sudah ada sejak kecil, harus ini-itu. Bahkan melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi juga harus mengikuti kemauan orang tua, meski Sara harus menuruti dengan segala perdebatan, tapi akhirnya memilih untuk mengalah.
Menjadi anak tunggal, bukan hal mudah seperti yang terlihat, jika salah melangkah bisa saja mengecewakan. Untung saja Sara masih bisa mewujudkan impian untuk bisa memiliki toko bunga, dengan segala macam keributan yang dulu dilewati, agar bisa meminta Papa Tyo menuruti pintanya.
Dengan satu syarat, yaitu harus tetap bekerja di perusahaan dan menghandle setiap permasalahan yang sering terjadi, itu sebabnya tidak akan sempat mencari pengganti Riko. Bisa saja sebagai keberuntungan, di mana kenangan dan luka yang dulu, masih bisa pergi sebentar dalam perjalanan kisah.
Karena hingga sekarang masih belum siap menerima kehilangan, walau semua telah berlalu perasaan ini masih tetap sama, hanya saja mengalihkan dengan kesibukan.
“Kenapa sampai sekarang sulit banget ngelupain Riko, kalau boleh jujur, aku masih berharap bisa bersama lagi. Tapi kelakuannya dulu enggak bisa dibenarkan....” ucap Sara mencoba meyakinkan diri sendiri.
***
Tidak ada suara ketukan menjadi tanda kehadiran seseorang, melainkan gagang pintu mulai terbuka lebar bersama langkah sepatu berjalan menghampiri, benar. Itulah kebiasaan Papa Tyo, pasti akan menyuruh segera menyelesaikan pekerjaan atau menambah pekerjaan lagi, padahal hari libur.
Tiga berkas telah menimbulkan suara pada meja kerja, bersamaan netra melirik dengan nada keluhan, menandakan sudah lelah untuk bekerja.
“Ada lagi?” ucap Sara menyembunyikan rasa sebal.
“Selesaikan, nanti jam 21.00 malam berikan ke Papa!” dalam sekejap langkah kaki telah pergi, sembari menutup pintu pada posisi semula.
Raut muka menampakkan ekspresi lelah, bagaimana bisa dalam sekejap menyelesaikan? Tugas kemarin saja belum rampung, itulah yang sering berperan mengusir perasaan, cukup melelahkan jika harus kembali berdebat seperti kemarin. Mengalah, mengalah dan mengalah.
Penerangan lampu masih menemani dalam segala macam rasa, memberikan ruang untuk membagi kisah kehidupan yang bisa dibilang merepotkan, hampir tiap hari di tempat bekerja dan kamar pasti sama.
Jendela kamar masih menampakkan pemandangan luar pada lantai dua, di mana angkasa sedang memberi pertunjukan menarik yang jarang bisa dilihat setiap hari. Semburan warna oranye telah bersatu dengan warna biru, hingga menampilkan rona pink pada langit-langit.
Selain itu, awan ikut bersatu menyemburkan warna putih keabu-abuan. Coretan senja masih mendominasi seperti biasanya, entah mengapa kala itu rembulan malah merajuk menyembunyikan diri dibalik pekatnya awan, hanya menyisakan samar-samar cahaya yang akan menguning menjelang malam.
Tidak ada sedikitpun tanda kalau gemintang akan datang ikut menghiasi, sedang di manakah? Apa sedang sibuk dengan ribuan keluh yang belum terpecahkan, mungkin begitu. Karena jutaan makhluk bumi suka mengadu kisah.
Lihatlah, sudah berapa putaran burung-burung itu beterbangan mengisi kekosongan. Bersama suara kicauan sulit terdengar jelas, karena suara lain lebih kencang. Salah satu ada yang sedang hinggap di balkon, memerhatikan Sara sedari tadi dengan keheranan, apakah itu bertanya atau malah menonton saja?
“Apa aku bisa sebebas burung itu, enggak ada ikatan pada dirinya? Terbang tinggi tanpa ada ocehan yang menjatuhkan harapan, melelahkan!” celoteh mulut sambil membaca berkas telah terbuka untuk di salin pada layar laptop.
Musik biola masih tetap mengisi ruangan berukuran sedang, memberikan banyak macam lagu. Sedangkan alat musik biola malah tergeletak dekat meja, sudah beberapa minggu tidak lagi tersentuh dan dimainkan. Padahal hanya biola yang bisa membantu menenangkan jikalau sedang membutuhkan sandaran, juga kehangatan pada setiap keadaan.
Gesekan nada cinta terangkai sedemikian rupa, menjadi melodi indah dengan segenap rasa. Selalu mengisi kekosongan dalam semu, menghempas penghalang jika tiba-tiba ingin menghadang. Tik-tik waktu berdetik, hanya kesendirian hadir berkala.
Beberapa penghargaan prestasi sejak sekolah hingga kuliah tertata rapi pada sudut kamar dekat meja kerja, memperlihatkan seberapa pintar dan bakat yang dimiliki.
***


Post a Comment for "Kenangan Itu Datang, Merayu Semesta . Episode 2, Novel Romantis "