Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Ini Tentang Sebelumnya, Merayu Semesta . Episode 5, Novel Romantis

Novel Merayu Semesta Terbaru 



Kepergiannya telah merubah segalanya di hidup Sara, memilih tertutup rapat diri suatu pilihan yang tidak tepat. Janji dulu belum terlupakan, di sini kerelaan terasa berat. Walau sadar tidak akan bisa bersama kembali, apakah semesta bisa mempertemukan kembali?

Perihal rasa bertanya apa akan kuat menemuinya atau malah air mata menetes duluan? Biarkan waktu akan mempertemukannya, tidak pernah main-main jiwa dan raga dalam hal itu.

“Hhhh...” nafas pajang terdengar membangun untuk menyudahi lamunan di dalam kamar mandi.

Langkah kaki berhenti menatap lemari putih berisi kemeja dan jas dengan warna sama, hanya beberapa saja yang ikut bergabung meski tidak sama. Amatan masih memandang dalam benak bertanya akan mengenakan yang mana, bukankah seisi lemari hampir sama? Benar....

Kini kemeja putih berlengan panjang telah mengambil alih membalut tubuh dengan jas biru tua, tidak lupa mengenakan sepatu kerja pada pojok kiri tempat semua alas kaki berada. Di dominasi warna hitam pekat tapi masih saja lama memilih untuk mengenakan.

Tampak meja rias berwarna putih dengan hiasan kaca kotak, berukuran sedang lumayan menyita perhatian sebab warna lampu mengelilingi. Dengan tatanan rapi berbagai macam alat makeup menempati kedataran meja bergaya simpel, juga koleksi parfum wajib ada pada setiap tempat.

***

Sekejap keberadaan telah berpindah di dalam mobil, melewati kawasan perumahan mewah terbilang sepi. Hanya suara ban berdesir menggeser posisi alas berpijak, melewati setiap pemandangan kala pagi datang. Cahaya mentari tengah bersembunyi dibalik awan, hingga tidak kunjung menampakkan sinar.

Guguran dedaunan terhempas pasrah meninggalkan tangkai, terbawa oleh embusan angin sayu. Ada juga yang terjatuh pada kaca mobil, namun terjatuh menyentuh adimarga. Meski memiliki ukuran kecil kuning dengan bintik-bintik hitam telah menetap sebagai tanda telah usai menempati keberadaan.

Minimarket telah menjadi pemberhentian sementara, hanya untuk membeli pengganjal perut, sedari tadi ingin terisi. Bukan ingin menghindari sarapan, hanya saja perasaan ini masih dilanda kejengkelan usai semalam.

Sambutan kasir hanya terbalas senyuman tipis, melangkah di mana roti berada, tidak lupa air mineral dari dalam lemari pendingin. Sara terus merasa putus asa yang kerap kali datang pada waktu tidak menentu, ada perasaan kurang enak sedang hinggap dalam dirinya, tapi apa?

Langkah telah terhenti bersamaan tepukan biasa pada bahu kiri, beberapa detik kemudian pandangan Sara telah memaling pada sosok wanita yang begitu tidak asing lagi baginya, hanya saja sekian lama baru berjumpa kembali.

“Disty!” ucap Sara tanpa menampilkan ekspresi wajah, menatapnya saja telah membangkitkan perasaan yang dulu pernah diciptakan kejam, menyakiti tanpa ada kata permisi.

Disematkan senyuman manis pada wajahnya, “Hai, Sara. Gimana kabarnya?”

Adisty Eve. Wanita cantik sekaligus teman masa lalu Sara, namun pertemanan mereka putus sejak hadirnya Riko. Terlahir kaya membuat dirinya kerap kali menghamburkan uang untuk hal tidak penting.

“Kelihatannya sudah banyak perubahan pada diri elo, setelah kejadian tempo dulu. Gue enggak nyangka bakal ketemu lagi, ngomong-ngomong apa sudah ada pengganti Riko? Dari kelihatannya belum.” Jawab Disti masih saja merendahkan.

“Selama ini elo menghindar dari acara reuni, kenapa?” tambah Disti selalu menduga bahwa Sara masih belum bisa moveon.

Memang benar! Itu alasan yang bisa dibilang ada benarnya, bagaimana bisa bertemu dengan mereka lagi dalam keadaan hati masih kecewa. Ini saja terasa menyesakkan, ingin rasanya segera pergi meninggalkan.

Disti mengambil sesuatu dari dalam tas, terlihat undangan berwarna merah muda dengan hiasan bunga dan pita sebagai penutup. Ukuran tulisan dan model kata cukup menyita perhatian, pasal menggunakan penulisan latin putih berkilau.

Tertulis undangan acara ulang tahun, juga tunangan tampak dari gambar cincin sepasang pada bagian tengah cover depan. Tidak lupa foto mereka di belakang, sebagai pengingat waktu dan tempat dilaksanakan.

“Datang ya!” tegas Disti menyembunyikan perasaan puas menatap wajah Sara mulai berbeda.

Dilihat cukup lama sambil mengamati wajah Riko belum berubah sama sekali, “Mmm, gue enggak bisa janji buat datang, soalnya ada pekerjaan!”

“Bilang saja elo belum bisa lupaiin Riko, pakai alasan pekerjaan segala. Sara... Sara. Gue tahu elo itu seperti apa, jadi jangan banyak ngeles buat tutupi perasaan elo, gue tahu elo masih ada rasa buat Riko. Tapi sayangnya Riko sudah jadi milik gue, upss!” perkataan itu langsung melukai Sara dalam sekejap, apa tidak memikirkan kalau di sini ada orang.

“Oke, gue bakal datang!” jawab Sara asal, demi menjaga situasi yang tidak memungkinkan.

“Elo sudah punya pacar? Jangan bilang belum, hari gini masih saja betah sendiri. Atau masih berharap bisa kembali sama Riko? Kayaknya enggak mungkin. Jelas-jelas Riko memilih gue.......”

Segera Sara memotong ejekan terlontar dari bibir pedasnya, “Gue cabut dulu, sudah telat kerja!”

***

Tanpa menunggu jawaban, langkah kaki segera menghindar dari tempat tersebut. Mobil telah menyusuri jalanan teramat ramai lalu lalang kendaraan berangkat bekerja dan sekolah, meski tidak bisa dibilang macet. Tetap saja suara klakson memegang keramaian kota, membelah segala penghalang dalam melangkah.

Musik random kini mengisi kekosongan dalam ruangan berwarna putih, di mana pada bagian bangku sangat terjaga kebersihan setiap hari. Lebih tepatnya jarang ada seseorang bersinggah, hanya tas mini tergeletak dekat bangku pengemudi.

Alunan melodi terputar dengan pergantian setiap jeda lagu baru, hanya saja semua lagu bercerita tentang perasaan yang tengah terluka, hampir sama dengan luka pada Sara. Membuat hati belum usai menggerutu sebal dengan sikap Disty. Kenapa bisa berjumpa?

Apa semesta telah memberikan tanda, bahwa peristiwa akan terulang kembali, jika memang, kuatkan hati ini dalam menghadapi. Agar tidak lebih sakit hati, karena sesungguhnya cinta itu masih ada. Andai saja bisa terselesaikan kala itu, mungkin beban telah rampung sedari dulu.

Memang kelihatan sudah memaafkan meski hati ini masih belum Ikhlas seutuhnya, bukan berarti dulu tidak bisa membuat Riko tetap dalam pelukan, melainkan dirinya memiliki untuk menyudahi.

***

Sara telah menaiki lift di mana tempat kerjanya berada, keberadaan di sini bisa dibilang sangat menyita perhatian, pasalnya status sebagai anak bos perusahaan. Itu malah membuat semakin merasakan tidak nyaman, segala hal pasti mendapat perlakuan berbeda.

Ketukan sepatu kerja mengambil alih pandangan wanita di depannya, “Gue mau curhat!” sembari menarik bangku mendekat.

Mouse telah terlepas mendengar pinta jarang diberikan itu, “Tumben elo curhat, ada masalah sama bokap lagi?”

Jovanka Zahra Iswari. Sahabat Sara sejak masa SMA hingga kini, sering kali menyarankan untuk segera mencari pasangan, agar bisa moveon dari Riko. Bekerja satu perusahaan yang sama, membuat mereka sering melakukan berbagai hal bersama.


lianasari993
lianasari993 lianasari993 merupakan nama pena, kerap kali di panggil Lian. Lahir dan Besar di Jawa Timur. Membaca bagian dari hobi yang tidak bisa ditinggal hingga memutuskan untuk menulis sampai sekarang.

Post a Comment for "Ini Tentang Sebelumnya, Merayu Semesta . Episode 5, Novel Romantis "