Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Sederhana Untuk Bahagia, Merayu Semesta . Episode 8, Novel Romantis

Novel Merayu Semesta Terbaru 



“Gancang. Masih seueur anu kedah dilakukeun, kuring ngantosan sore di tempat biasa! (Cepat. Masih banyak urusan lain yang harus saya kerjakan, saya tunggu nanti sore di tempat biasa!)” bentaknya sudah kehilangan kesabaran lagi.

Karena merasa sebal, Sara kembali masuk ke dalam mobil lagi. Meraih tas tergeletak sedari tadi, lalu diambil ponsel dari dalam. “Tulis nomor rekeningnya!” memberikan ponsel pada rentenir tersebut.

Terjejer rapi beberapa angkat mengisi kekosongan, di mana transaksi akan dilakukan. “Kalau begini kan enak, enggak perlu marah-marah!” ucap rentenir, lalu meninggalkan kami berdua.

“Teh. Saya akan segera kembalikan uangnya, tapi saya minta waktu buat membayar.” Ucap montir tersebut mulai merasa lega atas kepergian dua laki-laki tadi.

“Cepat perbaiki mobilnya!” kata Sara masih tetap sama.

Bersama cahaya mentari perlahan redup dari sebelumnya, tidak begitu merasakan rasa panas. Hanya embusan angin terus menerpa rambut yang tengah terurai lepas, ikut terhempas dari tatanan rapi. Kembali dalam lamunan yang tidak seharusnya terus terpikirkan.

“Lama banget, saya keburu lapar menunggunya!” tegur Sara masih tetap seperti biasa.

“Ini sudah selesai, teh.” Jawab montir meletakkan peralatan bengkel kembali pada kotak kecil yang selalu digunakan saat pekerjaan di luar bengkel.

“Maaf, teh. Maafkan saya sudah merepotkan teteh, sesegera mungkin utang itu akan saya lunasi, saya hanya minta waktu buat mengumpulkan.”

“Berapa lama? Satu minggu?” tanya Sara melepas kacamata hitam yang sedari tadi melekat di wajah cantiknya

“Secepatnya akan saya bayar. Saya akan mencari pekerjaan tambahan lagi!” jelasnya yang belum tahu apa itu.

“Dalam waktu satu minggu, apa bisa?” tanya Sara lagi.

Pertanyaan itu dalam sekejap menjadikan suasana keramaian langsung sunyi, di mana jawaban akan terucap tidak bisa terjelaskan. Bagaimana bisa mengembalikan uang dalam waktu satu minggu, apalagi jumlah yang terbilang sangatlah besar baginya.

“Apa yang bisa saya perbuat, selagi masih bisa menambah waktu untuk membayar, kalau satu minggu. Belum sanggup membayarnya?” pinta montir berharap itu cara mengulur pembayaran.

“Bisa apa?” tanya salah, setiap kali berkata pada inti dari maksud yang sedang terjadi

“Saya kuliah sampai semesta enam, enggak lanjut, tapi sekarang bekerja di bengkel dan setiap malam bekerja di kafe. Tapi, sebisa mungkin bakal cepat melunasi, apapun akan saya lakukan supaya bisa meringankan waktu pembayaran, kalau satu minggu terlalu cepat?”

“Soal uang terserah dilunasi kapan saja, asal ada jaminannya!” kata Sara mengenakan kembali kacamata.

Waktu terus berjalan bersama permasalahan yang tidak bisa terhindarkan, hanya bisa diselesaikan dan segera mendahulukan. Tidak ada lagi yang harus diperbuat, hanya inilah dirasa memang terbaik untuknya. Walaupun ada kebingungan terus berputar dalam benak, apalagi akan berurusan dengan Sara. Jika menolak apa bisa?

“Saya akan menuruti perintah, teteh” jawab montir dengan tegas.

“Baiklah, jadi sopir saja. Pagi dan sore harus ada untuk antar jemput, enggak boleh terlambat satu menitpun!”

“Tapi saya harus bekerja di bengkel” potong montir tersebut.

“Lalu?” tanya Sara lagi.

Bersamaan suara ponsel berbunyi nyaring, “Ada apa?”

“Elo sudah dapat buat acara Disty? Kalau belum gue bakal cariin di aplikasi saja lebih cepat, barusan bokap elo marah-marah di kantor, elo disuruh balik sekarang” jelas Zahra mengecilkan suara.

Sara terdiam sesaat, memikirkan siapakah yang akan menemaninya. Lalu terlintas dalam benak ide yang sebenarnya tidak perlu dilakukan, hanya saja karena tidak ada pilihan lain.

Mau tidak mau harus dilakukan, “Oke.Tugasnya gampang. Temani saya diacara pertunangan, cukup ikuti apa yang saya katakan dan jangan buka identitas di depan mereka”

“Tugasnya apa?”

Dayyan Fahri Dipta Abimata. Seorang montir dari bengkel langganan perusahaan yang tidak sengaja bertemu dengan Sara, dalam pertemuan tersebut melibatkan hutang tidak sedikit. Hingga perjanjian diantara mereka berdua, mengakibatkan permasalahan baru.

“Cukup jadi pasangan selama acara berlangsung, setelah itu selesai. Mudahkan?” tutur Sara mengembalikan ponsel dalam tas.

“Pasangan? Memangnya teteh belum ada pasangan?”

Pertanyaan itu merubah penampilan Sara, mata telah melotot layaknya ingin melahap habis sosok yang telah meremehkan dirinya begitu saja. “Meremehkan saya? Saya sudah bantu, ternyata balasannya begini?”

“Maaf, teh. Enggak ada niat ngomong gitu, saya takut kalau ada yang marah nantinya. Mana mungkin teteh secantik ini punya pasangan seperti saya, itu enggak mungkin!”

“Memang enggak mungkin. Ini cuma pura-pura bukan benaran, jadi ikuti apa yang saya katakan, jelas?” tegas Sara mengatur nafas perlahan, “Catat nomornya!” memberikan ponsel.

 Suara panggilan terdengar dari ponsel miliknya, “Angkat. Simpan nomornya, kapanpun akan saya hubungi, terutama soal acara pertunangan itu. Permisi!” ucap Sara, lalu pergi meninggalkannya masih terdiam menatap kepergian dari pandangan mata.

***

Keramaian lalu lintas terus padat menjelang malam melepas senja berpamit tanpa aba, awan putih dan langit biru perlahan memudar berganti malam kegelapan. Lampu jalan mulai menerangi gemerlap keramaian kota, bersama hiasan rembulan, meski gemintang tidak kunjung datang atau sekedar bersinggah malam.

Angin kembali bangkit dari peristirahatan, kini datang lagi menghampiri malam yang terus berganti. Sebelumnya tidak begitu banyak penjual pinggir jalan, namun sejak datangnya senja mulai menghiasi setiap pinggiran, dengan berbagai kudapan enak.

Terhenti kembali mobil di tempat semula, lebih dulu mobil milik Papa Tyo bersinggah pada teras sekitar taman, di mana mobil selalu diparkir. Langkah langsung menuju kamar untuk mandi, sudah tidak nyaman lagi jika terus menunda-nunda gerah, meski udara malam telah terasa sedari tadi.

“Nyaman banget!” ucap Sara berdiri di bawah shower mengguyur seluruh tubuh.

Suara shower kembali mati, tanda mandi sudah selesai. Tidak lupa mengenakan masker wajah dari dalam lemari kamar mandi, teroles pelan pada wajah halus nan cantik ini dengan manja. Kaca berukuran sedang menampakkan wajah dengan sangat jelas, entah berapa skincare yang dikenakan setiap hari. Segera melangkah mengambil pakaian ganti dari dalam lemari. Dalam waktu sebentar, kain berbentuk berwarna merah muda telah dikenakan.

“Lipstikku ke mana!” mencari di meja kerja, “Bawah bantal kayaknya!” benar, tepat di bawah bantal seperti prakiraan.

***

“Mmmm, harumnya!” berjalan keluar kamar menghampiri Mama Ela sedang sibuk, “Hai, Ma!”

“Tumben baru pulang, biasanya cepat?” tanyanya tanpa melihat wajah putrinya.

“Tadi mobil tiba-tiba mati sendiri, jadi telat sampai rumah!”

“Sekarang mobilnya sudah diperbaiki?” mengeluarkan loyang.

“Sudah.” Memegang kue kering masih di loyang, “Ah, panas!”

“Sudah tahu baru keluar dari oven malah dipegang ya panas, kalau keluar dari kulkas baru dingin.”


lianasari993
lianasari993 lianasari993 merupakan nama pena, kerap kali di panggil Lian. Lahir dan Besar di Jawa Timur. Membaca bagian dari hobi yang tidak bisa ditinggal hingga memutuskan untuk menulis sampai sekarang.

Post a Comment for "Sederhana Untuk Bahagia, Merayu Semesta . Episode 8, Novel Romantis "