Ternyata Aku Egois, Merayu Semesta . Episode 7, Novel Romantis
Novel Merayu Semesta Terbaru
Begitu pandainya Sara menyembunyikan luka yang bisa disebut usang, dibalik wajah tenang tersimpan gejolak rasa menyerang, berdamai dengan manusia lebih mudah daripada berdamai pada masalalu. Karena sejatinya masalalu tetap, hingga waktu sulit terbilang batas, cintalah.
Awal luka itu tercipta, dengan ketulusan waktu itu. Namun keadaan memang telah berbeda, meski perasaan masih tetap sama. Menilik undangan yang kini tergeletak pada bangku mobil sebelah kiri, terpampang jelas wajah mereka penuh bahagia.
Sara hanya bisa membiarkan kebahagiaan mereka, berusaha tenang agar tetap baik-baik saja. Berusaha melarang untuk meneteskan air mata, tapi luka itu kembali datang. Hingga sulit mengontrol diri, segera tangan menyeka air mata, lagi dan lagi tetap sama.
Luasnya samudra telah diarungi untuk menepis kenangan, lelah menjalani hidup di dalam mati rasa akan cinta, Riko masih tetap tersimpan dalam hati hingga kini. Sangat sulit melepaskan kenyamanan dan perhatian darinya, karena hati ini masih mengharap hadirnya.
Cinta, sayang dan ketulusan akan tetap ada. Walau sudah berakhir pengkhianatan, hadirnya dalam benak telah menjadi cerita sepanjang hidup ini. Walau kepergiannya tidak lagi nampak, tapi rasa sosok penting itu masih tersimpan rapi.
Ban berputar mengarungi panjangnya jalanan kota, terdengar gesekan antara ban karet melintasi aspal hitam nan rata. Embusan angin samar-samar melewati setengah jendela kaca sengaja terbuka, agar membantu menenangkan hati dari lamunan melelahkan.
Tiba-tiba ada rasa aneh tengah menyerang lamunan, alam bawah sadar mengendalikan untuk menyudahi sesaat. Bersamaan menyeka derai air mata, menilik terasa lelah tiap kali luka itu datang. Bersamaan melirik jarum jam tetap bertahan siang, walaupun telah melewati banyak jalanan.
Kecepatan kendaraan mulai terkurangi, terasa ada sesuatu yang sedang terjadi pada situasi kurang tepat, segera Sara meminggirkan pada bahu jalan.
“Kenapa lagi ini mobil” celoteh Sara memukul setir, sembari mengeluarkan ponsel dari dalam tas.
“Selamat siang. Tolong kirimkan montir ke tempat saya sekarang, sebentar lagi saya shareloc(sharelocation)” mengakhiri panggilan.
Sara menunggu di depan mobil, menyilangkan tangan pada dada, sembari menikmati lalu lalang kendaraan melintasi.
“ Lama banget.” Tambah Sara membenarkan tatanan rambut.
Tidak ada tanda-tanda kehadiran seseorang untuk membantu dirinya, hanya sekedar melintas sembari menengok melajukan kendaraan. Sudah lima belas menit menunggu, tiba-tiba datanglah seorang montir yang telah lama ditunggu.
“Kenapa lama? Saya sudah tunggu lima belas menit di sini, panas lagi. Cepat perbaiki mobil segera!”
Tegur Sara merasa sebal. Kemarahan yang tadi di simpan kini terucapkan kasar pada montir, menunggu sebentar bukan masalah. Hanya saja gara-gara perasaan tadi, ingin rasanya melahap siapa saja.
“Maaf, teh. Tadi pekerjaan di bengkel belum selesai!” jelas montir mulai memperbaiki.
“Terserah. Segera perbaiki!” jawab Sara memilih untuk masuk ke dalam mobil.
Dering ponsel terus berbunyi, menilik rangkaian kata singkat terjelas pada layar ponsel, sudah pasti Papa Tyo yang sekarang menghubungi. Di saat Sara tidak kunjung datang menghampiri pinta yang tadi telah diatur, namun memilih berkendara tanpa tujuan.
Hingga kini terdampar pada pinggiran bahu jalan, menyaksikan rasa kemalasan. Teralih sudah undangan tangan kedua tangan, membaca saksama setiap rangkaian kata sederhana, sebagai pemberitahuan acara.
Lalu apa yang akan dilakukan saat ini, kala harus datang seorang diri, pasti akan mendengar cemoohan. Haruskah bagaimana dalam menyelesaikan masalah, lari bukan jalan penyelesaian, melainkan awal di mana julukan pengecut terucap.
Layaknya waktu meminta menyelesaikan masalah segera, agar tidak lagi menyisakan bekas. Walau tercipta sebagai kenangan, ini adalah pilihan untuk menyelesaikan atau melarikan diri. Pilihan ada dalam jiwa, sebagai penentu jawaban atas segala keraguan.
“Enggak mungkin kalau datang, tapi apa yang bakal Disty pikir. Kalau gue nolak pakai alasan sibuk, kenapa ini bikin kepala makin pusing.” Dilanjutkan teriakan dari dalam mobil.
Sekejap montir menghampiri untuk memastikan keberadaan, “Teh, aya naon? Naha anjeun ngagorowok, aya anu tiasa ngabantosan? (Teh, ada apa? Kenapa teriak-teriak, ada yang bisa di bantu?)”
“Enggak ada apa-apa. Mobilnya sudah selesai?” tegas Sara kembali mengendalikan suasana, bersikap layaknya baik-baik saja.
“Masih belum, kalau gitu saya lanjutkan lagi!” jelasnya meninggalkan, sesekali melirik keberadaan Sara.
Dari dalam mobil sembari melamun, pandangan telah menatap montir tersebut cukup lama, mengamati setiap gerak-gerik yang sedang dilakukan. Butiran bening mulai menetes melewati pelipis mata, terbiarkan tanpa ada niat untuk menyeka.
Deburan asap kendaraan kian jelas terasa bersama teriknya mentari membakar, kala hangat cahaya terpancar hingga pertiwi. Terikuti embusan angin samar menerpa tanpa bilang, menghempas dedaunan dari pohon tinggi pada pinggiran kota.
Amatan mata masih tertuju pada titik yang sama, entah mengapa wajah itu telah mengambil kendali, agar tidak lagi menyiksa diri. Layarnya ada sesuatu berbeda hinggap dalam dirinya, hingga menyisakan tanda tanya pada benak.
Siapakah dia? Sosok laki-laki yang telah ada sejak tadi, hadirnya memang teringinkan. Namun kenyamanan telah ada pengusik, dengan hadirnya satu kendaraan bermotor menghampiri. Lalu mulai tercipta obrolan antara mereka bertiga, sedang ada apa?
“Ke mana lagi mau menghindar, sudah berapa minggu ini terus lari. Kapan hutangmu di bayar, sudah jatuh tempo?”
Tanya rentenir berambut cepak, berotot, mengenakan kaos hitam pendek. Menampilkan cukup rapi dengan kumis tebal tertata rapi, dihiasi tahi lalat pada hidung kiri. Sedangkan kawannya berambut gondrong terikat setengah, Mengenakan jaket kulit coklat tua tanpa hiasan kumis atau brewokan.
“Pak, apa bisa pembayaran diundur lagi? Uangnya sudah digunakan bayar sekolah adik saya, mungkin minggu depan bakal saya cicil!” jelas montir itu memohon.
“Sudah berapa kali pembayaran diundur terus, kalau sampai kayak gini kita bakal kena masalah juga. Saya enggak mau tahu, bayar sekarang!” tegas rentenir memaksa sambil menggebrak mobil.
“Cepat bayar sekarang!”
“Saya mohon beri waktu sebentar lagi, saya bakal membayarnya. Tapi untuk sekarang uangnya belum ada!” montir itu tetap meminta keringanan waktu.
“Semua orang ngomong gitu, nyatanya cuma janji. Yang dibutuhkan sekarang uang bukan janji terus, sudah tunggak lama masih saja seenaknya. Cepat bayar!” menaikkan nada suara.
Pintu mobil terbuka-tertutup. Langkah kaki Sara menghampiri mereka yang tengah mengambil kesempatan, namun belum kunjung ditemukan keputusan. Bersama rasa marah yang sedari tadi hinggap dalam diri, menciptakan emosi ingin memarahi orang yang menggebrak mobil miliknya.
“Maksud anda apa? Kenapa gebrak mobil saya?” tegur Sara mengalihkan obrolan.
“Saya enggak ada urusan dengan teteh, jadi enggak usah ikut campur!” jelas rentenir itu.
“Jelas ini urusan saya, dengan kehadiran anda saat ini. Membuat mobil saya lama diperbaiki, kalau ada masalah bisa diselesaikan nanti saja!”
“Akan saya perbaiki lebih cepat, teh!” sahut montir itu.
“Bayar hutang ayeuna!” Belum usai dengan urusannya.


Post a Comment for "Ternyata Aku Egois, Merayu Semesta . Episode 7, Novel Romantis "