Support System, Merayu Semesta . Episode 10, Novel Romantis
Novel Merayu Semesta Terbaru
“Laki-laki yang elo cari, kemarin gue sudah cari-cari di aplikasi, tapi belum juga ada yang sesuai buat elo. Ada baiknya minta tolong teman kantor saja pasti mau, siapa...?” mulai mengingat laki-laki yang selama ini menyukai Sara sejak awal masuk bekerja, hanya saja sikap tidak acuh dan status jabatan membuatnya ragu.
“Dewa!” segera menjawab sosok paling perhatian dengannya.
“Iya itu. Sama dia saja.” Tutur Zahra beranggapan hanya Dewa yang bisa membantu masalah tersebut, meski hanya digunakan untuk memancing emosi, “Tapi, kalau sama dia, elo harus tanggung jawab”
Benar yang dikatakan Zahra jika nanti timbul perasaan pada hati Dewa, akan menambah masalah pula, apalagi Dewa sudah jatuh cinta sejak lama. Bagaimana kalau dia tiba-tiba nyaman dan mengajak berpacaran? Lebih baik tidak usah dirinya, karena ini akan bermasalah dalam pekerjaan pula.
“Sudahlah enggak penting juga urusan itu. Gara-gara gue enggak balik ke kantor,bokap marah!”
“Terus elo?”
“Biasa.” Hal yang sering dilakukan hanya masuk kamar pura-pura tidur untuk menghindar daripada berdebat ujung-ujungnya pasti harus mengalah.
“Elo pulang sendiri ya nanti, gue ada meeting sama bokap!”
“Di mana?”
“Belum tahu juga, pasti bakal lama.” Jelas Sara tetap berbicara meski tidak melihat Zahra duduk di sampingnya sambil menikmati pemandangan kendaraan di depan.
***
Di parkirkan kendaraan, langkah Zahra telah menyamai ketukan kaki Sara menuju lift lebih cepat, terlebih ada pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum meeting siang nanti. Tahu sendiri kemarin kabur di jam kerja, hanya untuk mengusir rasa bosan meski mobil tiba-tiba rusak.
Kehadiran Sara di sambut hangat oleh karyawan perusahaan seperti biasa, memandang Sara seperti orang yang punya kendali penuh dengan perusahaan. Memang benar, karena kecerdasan yang cepat dalam mengambil tindakan dan menyelesaikan secara tepat.
Bagi Sara waktu itu sangat penting, jadi tidak usah heran jika kepalanya terus berpikir setiap saat, berpikir tentang pekerjaan di perusahaan dan toko bunga miliknya. Sikap keras kepala juga menjadi alasan, setiap kali diperlukan untuk menyelesaikan meeting, yang kerap kali selalu timbul alasan tidak masuk akal.
Dengan ketegasan dalam ucapan dan tindakan membuat semua bisa cepat selesai tanpa perlu berpikir lama, karena itulah Papa Tyo melarang Sara keluar dari perusahaan. Walau harus menyetujui toko bunga yang dianggap tidak seberapa penting, tapi di tangan Sara yang tidak mungkin menjadi mungkin.
Mentari masih menetap di langit membiarkan tetap bertahan, sementara waktu sebelum hadirnya rembulan untuk menggantikan posisi kala malam datang. Layar komputer telah sibuk mengikuti perintah yang dilakukan Sara sejak awal datang hingga jam siang akan menghentikan aktivitas sejenak.
“Sara!” panggil Zahra usai melirik jarum jam yang tidak kunjung menempatkan diri pada waktu yang ditunggu.
“Mmm” tanpa melihat di mana asal suara, karena pandangan masih terfokus pada layar komputer dan berkas di samping tangan kiri dekat keyboard.
“Gue lapar, tugas elo sudah selesai?” berjalan menghampiri sembari memerhatikan layar komputer membaca apa saja yang menyita pandangan sahabatnya sedari tadi.
“Belum.”
Sering terlintas wajah Riko dalam benak. Hanya Riko yang selama ini terus mengacau fokusnya. Kapan bisa moveon?
“Melamun terus.... Riko terus......” tegur Zahra membangun lamunan yang sering terjadi pada situasi yang tidak tepat.
Sara geram sambil menghembuskan nafas panjang, “Gara-gara mikir Riko gue lupa mau apa?”
“Print” jawab Zahra yang tahu kalau berkas baru sudah selesai dikerjakan.
“Iya. Ternyata elo di sini berguna juga, Za!” kata Sara menengok sahabatnya sesaat, lalu kembali pada layar komputer.
Terdengar suara getaran keras pada meja kerja, mengalihkan obrolan sesaat. Tertulis nama Papa Tyo pada layar ponsel tengah menghubungi, padahal meeting masih nanti, namun mengapa menghubungi sekarang?
“Cepat ke sini.” Hanya itu yang diucapkan sebelum akhirnya panggilan terputus, bersamaan suara pesan masuk yang diberikan untuk menghampiri sesuai lokasi yang dikirim.
“Gue pergi dulu, elo makan siang sama yang lain” mengambil dua berkas yang barusan di kerjakan, tidak lupa flashdisk tergeletak dekat kalender.
“Iya.” jawab Zahra melihat Sara setengah lari menuju lift.
***
Obrolan telah termulai beberapa menit yang lalu, di mana meeting akan segera dibicarakan. Pemilihan restoran telah dipesan sebelumnya, selain membicarakan tentang kerjasama antara perusahaan, ini akan menjadi momen penting.
Terutama menjalin ikatan persahabatan yang telah lama renggang oleh jarak dan waktu, “Sebentar lagi Sara bakal ke sini, kita bicarakan ini lagi kalau Sara sudah datang”
“Iya. Lihat saja Kevin dari tadi hanya diam, kita malahan yang ramai sendiri” ujar om Edi tertawa seperti biasa, karena sikap humoris telah dimiliki sejak dulu itu.
Hadirlah Sara menghampiri tempat yang telah dilihat sejak memasuki pintu restoran, pandangan telah menyita saat mengetahui pemilik perusahaan yang sebentar lagi akan bekerja sama dengannya. Terlebih ada orang yang pernah menjadi bagian dari Papa Tyo cukup lama, apa ini akan membicarakan pekerjaan saja?
Bukan. Melainkan akan membicarakan hubungan antara Sara dan Kevin, tarikan nafas panjang bersamaan langkah kaki menghampiri. “Pa!”
“Om. Maaf saya terlambat!” ucap Sara menegur dengan hangat, ditarik kursi kosong di dekatnya.
Hanya senyum sebagai balasan, “Santai saja. Lebih baik kita makan dulu, setelah itu kita bicarakan tentang kerja sama, apalagi ini sudah waktunya makan siang!”
Beralih pada Kevin yang telah merubah raut muka menjadi lebih ada senyuman, saat tahu kehadiran Sara duduk di depannya. Mungkin inilah waktu ditunggu sedari tadi, hanya balasan senyuman dari Sara telah membuat semakin santai.
Hidangan telah datang lebih lama dari Sara, tapi samar-samar asap masih bisa terlihat jika pandangan terfokus mendekat. Beberapa masakan menyita perhatian untuk segera dinikmati tanpa perlu menunggu lebih lama lagi, aroma sedap mulai menghipnotis mata agar segera melahap.
Di dalam ruangan tidak begitu tertutup terlihat beberapa orang menunggu pesanan dan juga telah menikmati hidangan, hanya suara sendok juga garpu beradu meramaikan piring putih berbentuk lingkaran.
Pergantian waktu berputar pada dinding di dekat meja kasir menjadi tanda akan dimulai dan selesai makan, mungkin jam istirahat siang juga masih beberapa menit lagi. Jadi restoran tidak begitu ramai, makan bersama telah usai. Tinggal minuman yang masih ada di meja, sedangkan makan telah dibereskan sesuai pinta Papa Tyo.
“Kita mulai obrolan sekarang. Begini Sara, perusahaan Papa kamu dan perusahaan om akan bekerja sama, agar semakin pesat dan bisa lebih berkembang lagi. Apalagi dulu kita berdua sudah punya keinginan berkolaborasi, apa kamu setuju?”
“Kenapa bilang kepada saya, bukannya ini keputusan dari Papa?” tanya Sara tidak biasa diberikan pilihan dalam mengambil keputusan terutama saat meeting.
“Sudah terima saja.” Sahut Papa Tyo melihat Sara sebentar.
“Jika itu keputusan Papa, Sara setuju om!” jelas Sara hanya menghiyakan, tapi ada sesuatu yang sedang dirasakan sedari awal memasuki restoran.


Post a Comment for "Support System, Merayu Semesta . Episode 10, Novel Romantis "