Florist, Merayu Semesta . Episode 12, Novel Romantis
Novel Merayu Semesta Terbaru
Di sela waktu libur kerja, hanya digunakan untuk melakukan pekerjaan di toko bunga. Jadi tidak ada waktu melakukan hal lain, selain itu benar-benar penting atau hanya sekedar jalan-jalan, mengusir rasa lelah dan refreshing menikmati kenikmatan semesta.
“Sara, can I help you with your work?” ucap Kevin tetap pada posisi sejak awal masuk ke dalam toko, hanya memerhatikan Sara sibuk menata rangkaian bunga dengan pegawainya.
“There is. You just need to help him deliver the order to the flower delivery car in front, the order of white roses and bouquets is near the counter left of the cashier!” jelas Sara menunjukkan arah di mana tempat yang harus dihampiri.
“It..tu saja...” ucap Kevin terbata-bata.
“Iya.” Jawaban bersamaan senyuman tipis mengarah kepadanya, jelas akan membuat Kevin mendadak terdiam dengan detakan Jantung berdebar, tidak menyangka bisa mendapatkan senyuman dari Sara.
“Teh!” tegur halus pegawai bernama Rifki saat memotong tangkai bunga mawar putih di tangannya, hanya mendapat balasan dengan wajah.
“Kemarin pengiriman bunga buat acara tunangan tempatnya di hotel, jadi ada tambahan bunga mawar putih buat dekorasi bagian jalan masuk gedung, karena tadi saya enggak bisa menghubungi teteh. Saya berinisiatif menyiapkan sendiri ambil dari bunga di belakang yang dipakai beberapa hari ke depan!”
“Bukannya bunga mawar di belakang mekarnya belum maksimal?” sembari menata bunga agar cepat selesai dan segera diantarkan.
“Saya sudah bilang sama pembelinya langsung, katanya itu enggak masalah. Yang penting ada, apalagi bunga yang belum terlalu mekar minta ditambah. Daun kering berukuran sedang, sudah siap di sana!” menunjukkan meja kasir sudah ada beberapa daun yang telah dipersiapkan sebelumnya.
“Itu daun ambil dari atas juga atau gimana?” memandang lama pada tatanan daun yang sengaja berjejer rapi.
“Sebagian dari atas. Beberapa hari kemarin teteh enggak datang ke toko pas lagi ramai, di situ banyak pesanan bunga kering sama daun kering juga, jadi di atas tinggal dikit. Tapi saya sudah mulai mengeringkan lagi setiap mau pulang!” jelas Rifki yang bertanggung jawab soal toko bunga, karena tahu kesibukan Sara bukan hanya bekerja di perusahaan saja.
“Makasih ya....” Sara berterima kasih sudah dibantu, “Pesanan mawar putih ini biar gue yang selesaiin,elo rangkai daun kering sama mawar putih segera, sekalian diantar barengan. Setelah ini selesai gue bantu....” tutur Sara mempercepat mengerjakan, apalagi Kevin tidak ragu membantunya.
“Kevin.” Menghentikan langkahnya usai dari luar, “You sit on a chair first, after finishing arranging some flowers, we go straight to the cinema”
“Yes.” Jawabnya berjalan menuju kursi yang dimaksud.
Kevin memilih untuk bermain ponsel, sambil menunggu pekerjaan Sara yang banyak setiap kali datang ke toko bunga, itu sebabnya sering kali lupa mengecek apakah ada email masuk pekerjaan dari kantor. Tidak hanya itu, Sara juga selalu mengecek setiap catatan masuk mengenai toko miliknya, ketelitian yang dimiliki tidak perlu diragukan lagi.
Sikap kerja keras dan kerja cerdas selalu diterapkan di mana pun berada, begitu juga saat bekerja baik di perusahaan maupun usaha pribadi ini. Berdirinya toko bunga sudah ada sejak menjadi mahasiswa, selain sibuk kuliah juga ada usaha yang dulu sangat kecil kini telah berkembang.
Hingga kini, Sara masih belum menentukan akan membuka toko bunga cabang, mungkin ingin mengembangkan ini dengan baik. Apalagi tuntutan yang nantinya akan berada di tangannya, untuk mengurus perusahaan lebih serius lagi. Sara sadar hanya dirinya yang nanti akan meneruskan perusahaan keluarga.
Walau itu bukanlah hal mudah bagi dirinya, untuk beradaptasi dari tuntutan menjadi kewajiban. Apalagi soal perjodohan dengan Kevin yang tidak pernah terpikirkan dan belum diinginkan. Secara diam Sara juga mempelajari setiap karakter dari siapapun yang berada di dekatnya, terutama Kevin.
Kali ini toko bunga sedang sepi pembeli yang datang, tapi pembeli secara online cukup banyak. Terutama laki-laki remaja dan muda karena ini juga mendekati hari valentine, pasti akan banyak pesanan yang harus disiapkan segera, setiap valentine pasti menyediakan coklat dan sebelum sudah bekerja sama dengan toko kue terdekat.
Diambilnya tas tergeletak dekat meja kasir, “Kita berangkat ke bioskop sekarang!” ucap Sara menyuruh Kevin beranjak dari tempat duduk.
“Rifki selesaiin itu ya, gue mau pergi. Nanti kalau ada apa-apa langsung hubungi!” ucap Sara sebelum berjalan keluar meninggalkan toko bunga.
“Iya, teh!” memberikan senyuman hangat, dengan posisi tangan mengikat bunga kering menggunakan tali di sebelahnya.
Tampak lantai sedikit kotor oleh serpihan dedaunan lepas sendiri juga remahan kelopak bunga kering, memang sering kali begitu, terutama pesanan yang begitu banyak dan harus segera dikirimkan.
Suara lonceng berbunyi, tanda ada langkah yang keluar-masuk sebagai informasi ada orang yang melewati. Guna mengetahui kehadiran pembeli, dengan begitu pegawai tahu dan memberikan layanan terbaik pada siapa saja.
***
Beralih pada suara mesin mobil dihidupkan, untuk segera meninggalkan tempat mengarah tujuan, di mana aktivitas selanjutnya dilakukan. Apalagi sebentar lagi bioskop dimulai sesuai jadwal yang tertera di website, dari judul dan jam tayang. Sara kembali terdiam seperti sejak awal masuk mobil tadi, hanya memandang ke depan melihat lalu lalang kendaraan.
Tinggi nan lebat pepohonan sepanjang jalan, memberi samar-samar keteduhan, di saat itulah oksigen tumbuhan lebih sejuk dan segar. Berbanding terbalik dengan jalanan tanpa ada pepohonan, selain berguna untuk meneduh juga untuk keseimbangan alam semesta.
Bayangkan jika tidak ada satupun pepohonan tinggi nan lebat, berumur puluhan tahun. Siapa yang akan meresap air kala hujan datang? Siapa yang akan memberikan tempat berteduh kala terik mentari? Siapa yang akan memberikan oksigen secara percuma, masihkah ingin menebangnya.
Jangan egois, beralasan ini-itu hanya untuk kepentingan sepihak, apa itu bukan disebut keegoisan yang dilapisi alasan tidak masuk akal. Menyebalkan!
Polusi udara terus gaduh dengan udara kota Bandung, perlahan senja mulai menampakkan sinar pemukau mata untuk menatap dan mensyukuri. Keindahan senja tidak akan pernah sama, itu sebabnya begitu berarti untuk dilewatkan. Bukan hanya mata sebagai cara pengabadian, ada kamera sebagai alat yang sama.
“Sara. Aku mau tanya, kamu sudah punya pacar?” ucap Kevin sedikit kesulitan berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia, lebih sulit berbicara daripada mendengarkan ucapan dalam bahasa Indonesia.


Post a Comment for "Florist, Merayu Semesta . Episode 12, Novel Romantis "