Aku Takut Terluka Lagi, Di Antara Kontrak & Rindu. Episode 21, Novel Romantis
Novel Merayu Semesta Terbaru
Sara hanya menghela nafas remeh, sudah tidak lagi peduli ucapan seperti itu, “Oh. Sudah itu saja?” ingin segera mematikan panggilan.
“Do not for get to eat!”
“Thanks, for your attention. I already eat! Bye.” Mengakhiri panggilan.
“Cie, calon suami perhatian banget sama calon istri!” goda Zahra, “Apa? Aduh sulit juga ya. Pilih pacar atau calon suami yang sudah dapat restu orang tua!” tambah Zahra makin berlebihan.
“Apaan!” sewot.
“Masa punya pacar enggak pernah telepon, saling tanya kabar atau basa-basi.”
“Pacar?” menghentikan mengetik, dilihat Zahra mengambil snacks di meja.
“Iya, cowok yang elo ajak ke acara pertunangan Riko.”
“Elo tahu dari mana, kalau gue bawa cowok di acara itu?” sontak ucapan itu membuat Sara kaget, bagaimana Zahra bisa tahu padahal dirinya tidak diundang, lalu siapa yang telah memberi informasi itu.
“Itu enggak penting. Yang terpenting gue merasa senang elo bisa dapat cowok yang bisa ganti posisi Riko, meskipun gue yakin elo sama dia ada sesuatu!”
“Maksudnya?”
Hanya senyuman, “Jangan berani bermain perasaan, resiko bisa lebih fatal dari yang elo duga. Gue harap elo bisa paham suatu saat nanti!”
kata-kata itu begitu bijak dari mulut Zahra, baru kali ini dia berkata begitu, seperti ada sesuatu yang telah diketahui. Namun enggan mengatakan secara jelas maksud dari rangkaian kata itu. Apa Zahra tahu perjanjian antara Sara dan Fahri? Apa itu hanya asumsi darinya.
“Kalau elo pacaran sama dia sering-sering ketemu, saling kasih kabar satu sama lain, sesibuk-sibuknya kalian usahain jaga hubungan. Jangan ulangi kesalahan yang sama kayak dulu, Riko pergi bukan karena elo kurang menarik, tapi kurangnya waktu berdua dan elo sengaja pacaran secara diam-diam dari orang tua.”
“Iya. Elo tahu sendiri, bokap enggak bakal kasih ijin gue pacaran waktu itu.”
“Gue ke toilet dulu, nanti kita sambung obrolan ini, sudah enggak tahan lagi!” jelas Zahra sedikit berlari menuju toilet, pada ruangan pojok dekat menuju pintu dapur di ruangan ini.
Sara baru menyadari kalau dirinya telah membuat kesepakatan untuk berpacaran sementara dengan Fahri, padahal rencana itu hanya sampai tunangan saja, karena Disty menyuruh datang di acara pernikahan perjanjian itu harus tetap dilanjutkan lagi.
Kepala terasa pusing saat harus berpikir tentang ini, bagaimana jika Papa mengetahui kalau Sara sedang ada hubungan dengan laki-laki lain. Sedangkan sudah ada keputusan dari dua belah pihak keluarga untuk perjodohannya dengan Kevin, laki-laki yang sama sekali tidak dicintai.
Kevin terlalu perfect bagi Sara. Kaya raya, tampan, badan atletis, banyak disukai wanita dan ini membuat Sara ragu jika dengannya. Tipe laki-laki seperti ini akan menjadi masalah dikemudian hari jika menikah, harus berapa banyak cobaan menerpa nanti, apalagi soal wanita.
Sara takut terluka untuk kedua kalinya, jika tiba-tiba setelah menikah tahu Kevin begitu dekat dengan wanita lain dan keduanya punya perasaan yang sama. Gebrakan meja mengambil alih suasana, Sara baru sadar itu hanya ketakutan dalam dirinya, tapi bagaimana jika itu terjadi?
Ketika hati merasakan keraguan untuk kembali memulai cinta, setelah sekian lama harus bergelut dengan perasaan luka, hari terus berlalu berusaha melupakan dan menerima kenyataan. Masih saja sulit dilakukan. Riko, kini telah menjadi milik Disty. Dan Sara masih bimbang untuk mengambil keputusan harus menerima perjodohan atau malah menolaknya!
Andai sejak dulu tahu perasaan ini, andai curahan hati bisa terdengar lantang, kan bercerita dengan sendirinya, bahwa hati belum bisa melupakan. Masa memang terus berputar bagai angin lalu, tapi rasa cinta Sara tidak akan dengan mudah berlalu. Saat sekian lama tidak bertemu, dan hari kemarin kembali berjumpa walau hanya sebentar, tumpukan rindu bisa terbayarkan.
Tapi video itu telah merusak kepercayaan untuk tetap bertahan, lalu kenapa harapan di setiap malam menjelang terlelap, hati dan benak terus berpikir bisa memulai semua kisah cinta yang dulu. Bersama detakan jantung, Sara menepis lamunan yang akan mengambil alih kendali untuk terus mengingat kejadian itu.
‘Sara bangun!’ berkata dalam hati, ‘Mungkin ini saatnya untuk move dari Riko, apa bisa?’ masih ragu apakah bisa semudah perkataan.
“Sara! Berkas warna kuning sudah selesai?” tegur Papa.
“Eemmm....” semua berkas yang telah usai terpisah pada bagian kiri meja komputer, “Kuning cerah, Pa?”
“Iya, mana?” mengulurkan tangan.
“Ini, Pak. Kalau berkas kuning itu masih belum selesai!” menunjukkan berkas yang tengah di bolak-balik Zahra.
“Tadi Papa menyuruh kamu menyelesaikan, Om... Jadi enggak enak merepotkan Zahra!”
“Enggak pa-pa, Om. Lagi pula pekerjaan saya juga sudah selesai!” ujar Zahra.
“Nah, kata Zahra enggak pa-pa!” bingung dengan keberadaan Zahra di sampingnya, bukannya tadi pergi ke toilet.
“Ngelamun lagi. Untung gue langsung kerjain itu berkas, kalau enggak bakal kena marah lagi elo!” ujar Zahra menyodorkan teh hangat, “Biar sadar!”
“Gue bingung. Di satu sisi perasaan gue masih belum bisa ngelupain Riko, elo tahu kan seberapa sering ngelamun gara-gara dia. Harapan gue bisa bersama dia cuma 50 persen, apalagi acara pernikahan mereka gue mesti datang.....”
***
Sara mengagumi, wajah cantik yang dulu pernah, menjadi ajang caci-maki tanpa henti. Kini terbukti, bahwa fisik akan berubah, ini soal pilihan. Hanya perlu merawat tubuh, dengan mengurangi berat badan dan terus berolahraga.
“Kerja lagi!” gumamnya usai berganti baju, “Mari kita mulai!” mengambil berkas di atas sendiri.
Tidak lupa alunan melodi musik, merangkai lirik lagu mendalam menceritakan kisah tengah terjadi. Sebuah makna cinta mulai tersampaikan, satu persatu kata tercipta menjadi rangkaian bait.
Bagian dari seribu cara untuk mengungkapkan rasa, jika lagu sebagai sentuhan untuk menggoyahkan perasaan. Biarkan terus abadi sebagai jalan mengutarakan harapan, biarkan terkasih tahu tentang rasa, kadang sulit jika harus terjelaskan secara nyata.
Seperti itukah cinta?
Kenapa cinta selalu menjadi alasan, seseorang terus berjuang dengan harapan. Apakah cinta sebegitu istimewa, sampai-sampai rela melakukan segala cara agar cepat tersampai. Lalu, bagaimana dengan kisah cinta Sara, terluka bukan!
Tunggu... Kenapa setiap kali membahas cinta, kehadirannya terus datang? Riko....
Suara dering ponsel kembali berbunyi lagi.
“Siapa lagi?” sebal, merasa malas mengambil ponsel di meja kerja meski kini posisi berdekatan, “Iya ada apa?”
“Kapan bisa jalan?” ucap Kevin memperjelas suaranya, seperti sedang berada di dalam keramaian musik.
Menghelakan nafas, “Besok pagi aku hubungi!”
“Yes. What are you doing now?”
“Word.” Padahal hanya menyalin data dari file satu ke filelain.
“lt’s late, why is it still work. Papa tomorrow you are off work. How about taking a walk tomorrow, so we can get to know eacho ther better!”


Post a Comment for "Aku Takut Terluka Lagi, Di Antara Kontrak & Rindu. Episode 21, Novel Romantis "