Belajar Melupa, Di Antara Kontrak & Rindu. Episode 18, Novel Romantis
Novel Merayu Semesta Terbaru
Berteriak kencang tanpa pedulikan siapa pun yang akan mendengar, karena ini semua telah menyiksa relung hati sedalam-dalamnya, “Kenapa?.......”
Terus merengek, “Kenapa.... kenapa aku harus mengalami ini? Aku salah apa? Aku capek sama hidupku...”
“Kamu tenang dulu!” membisik sembari mengelus kepala belakang.
“Gimana aku bisa tenang” sesenggukan, “Lihat mereka tunangan, aku enggak terima. Aku masih sayang sama Riko, tapi apa yang sekarang mereka lakukan, selama ini selalu berharap supaya Riko bisa jadi milikku lagi. Nyatanya apa?.....”
“Capek, aku nunggu dia selama ini.....” tambah Sarah.
“Aku tahu itu enggak mudah buat kamu...” memegang pipi Sara dengan lembut.
“Tahu apa kamu, kita baru kenal, mana paham soal perasaanku. Selama ini aku capek terlihat bahagia, terlihat baik-baik saja, tapi saat sendiri aku merasa paling menyedihkan. Aku menangis setiap malam, mengecilkan suara supaya enggak ada yang tahu, aku simpan semuanya rapi. Tapi sekarang aku enggak kuat lagi......” mengeluarkan semua unek-unek dalam dirinya.
“Kita memang baru kenal, bukan berarti aku enggak bisa memahami perasaan kamu.” Kata Fahri mencoba memberikan ketenangan lebih ekstra.
“Kamu itu laki-laki lebih pakai logika, mana paham soal perasaan!”
“Laki-laki memang pakai logika, tapi laki-laki kalau sudah pakai perasaan itu ada sesuatu dalam hatinya, apalagi tentang cinta. Jangan pernah anggap semua laki-laki sama, hanya karena satu laki-laki yang pernah bikin kamu terluka” tegas Fahri sontak menghentikan tangisan dan tatapan Sara menuju wajahnya.
Walau terus diseka air mata tetap saja menetes, “Sekarang lepaskan semua rasa yang selama ini kamu simpan sendiri, aku harap bisa sedikit melega. Aku bakal dengarin setiap keluh- kesah yang ada dalam diri kamu. Aku enggak bakal cerita tentang masalah ini sama orang lain, aku janji!”
“Aku sudah enggak lagi percaya sama kata janji. Bagiku itu hanya bualan yang bisa bikin hati kecewa, aku benci kata itu....”
“Sekarang apa yang kamu mau?” tanya Fahri masih merendahkan nada bicara.
“Aku mau sendiri.”
“Aku bakal tetap di samping kamu, aku enggak bakal biarin kamu sendirian lagi.” Tegas Fahri begitu mantap akan keputusannya sekarang.
“Kenapa?” meninggikan suara.
“Karena aku enggak mau lihat kamu terus kayak gini, dia sudah memilih orang lain. Tolong, jangan berharap lagi, terlalu berharap selain pada Tuhan itu bikin kecewa.”
“Tahu dari mana?”
“Aku pernah” berhenti sejenak menurunkan tekanan suara, “Aku pernah berharap lebih dari cewek yang paling aku cintai, tapi dia malah pergi sama laki-laki yang menurutnya lebih segalanya. Di situ aku semakin putus asa, tapi keadaan keluargaku bakal semakin menderita kalau terus kayak gini”
“Pacarku malah pergi, gara-gara aku enggak bisa memenuhi keinginannya. Kamu tahu hutang itu? Aku rela hutang buat memenuhi kebutuhannya, setelah keinginan enggak lagi dituruti malah pergi.....” tidak lagi bisa melanjutkan ucapannya.
“Bodoh banget. Ternyata kita sama-sama bodohnya.....” terlintas senyuman tipis pada wajah Sara, setelah tahu bukan dirinya saja yang bermasalah dengan cinta.
“Memang. Dan sekarang aku terjebak di perjanjian hutang ini, mau enggak mau harus turuti apa yang kamu suruh. Kamu segalak rentenir?”
“Lebih dari rentenir...” jawab Sara tertawa kecil.
***
Rembulan malam telah menjadi saksi ikatan antara kita yang tidak pernah teringinkan, sengaja kaca mobil terbuka setengah hanya untuk menikmati udara malam. Kali ini Fahri akan datang ke sebuah tempat yang tidak pernah Sara datangi.
Kaca mobil tertutup otomatis, “ Siapa yang suruh tutup?” tegur Sara memandang setelah wajah Fahri masih tetap melihat ke depan.
Kini Fahri balik memandang, “Udara malam enggak bagus buat kamu, apalagi pakai pendek!”
“Aku sudah terbiasa, buka kacanya!” protes kebiasaannya suka membuka kaca mobil setiap malam.
“Nurut sekali saja kenapa? Sulit banget, kalau masuk angin bikin repot.....” larangnya menyembunyikan sikap perhatian.
“Tinggal ke apotek beli obat masuk angin, beres.”
Entah mengapa, tangan Fahri tiba-tiba mencubit pipi chubby milik Sara. Ingatan tentang cubitan pipi, membawanya kembali pada sebuah kenangan, di bawah rembulan tahun baru. Di mana dirinya, sedang menikmati kembang api juga jagung bakar, duduk di bangku kayu berdua dengan Bella kekasih hatinya.
“Em, sakit tahu pipiku....” rengek Bella manja menyandarkan kepala di bahu Fahri sambil tersenyum bahagia.
Teringat kenangan itu membuat Fahri merasakan kesedihan kembali akan cinta yang dulu dibangun bersama harus terkubur sedalam mungkin.
Cubitan pada pinggang kiri membuat Fahri sontak kaget dengan mata melotot, “Lagi ngelamun?”
“Enggak.” Jawabnya mengelak memilih untuk kembali melihat ke arah jalan, hingga terhenti di sebuah teras kafe berukuran kecil tapi berlantai dua.
***
Fahri segera beranjak dan berjalan keluar memasuki pintu kafe selalu terbuka lebar. Menghampiri seorang barista seumuran dengannya, tengah menyiapkan kopi yang akan di tuangkan pada gelas.
“Van.” Tegur Fahri duduk di kursi tinggi di depannya, “Sini biar gue antar!”
Devano Qoshid Ulu. Bersahabat dengan Fahri sejak kecil, bahkan sejak awal bekerja selalu mencari tempat yang sama. Memiliki suara lantang, suka bercanda dan mudah akrab dengan orang baru.
“Eng....” mengangkat dagu melihat sahabatnya tiba-tiba datang, padahal tadi sudah izin libur kerja hari ini. Mukanya kaget melihat wajah Fahri bekas pukulan, dan tampilan berbeda dari biasanya yang kurang terawat.
“Elo Fahri sahabat gue?” tanya Devan memastikan sambil mendekati wajah secara detail, “Gue enggak salah lihat, terus kenapa muka pada memar gini?”
“Elo lebih bersih dari biasanya, kesambet apa tadi? Atau jangan-jangan elo habis ketabrak ban mobil jadi berubah penampilannya?” cerocos Devan selalu mengkhawatirkan keadaan sahabat kecilnya.
Melepas tangan Devan dari wajahnya, “Aawww... Ini muka bukan adonan kue!”
“Sorry.......” pandangan beralih pada Sara yang kini berjalan mendekati, “Waw..... Cantik banget itu cewek.....”
Fahri menengok ke belakang, mencari tahu siapa yang diucapkan oleh Devan. Bukan hanya Devan yang terpana akan kecantikan Sara, tetapi juga beberapa laki-laki sedang nongkrong di kafe tersebut.
“Nasi goreng sama stick kentang, minumnya lemon tea” ucap Sara sudah duduk di samping Fahri, “Aa....” melambaikan tangan di wajahnya.
Suara pukulan meja membangunkan lamunan, “Van. Bengong saja, siapin sekarang!” tegur Fahri mengambil alih, agar tidak lama-lama memandang kecantikan Sara, apalagi sahabatnya sudah menikah.
“Apa? ......” tanya Devan sama sekali tidak memerhatikan ucapan yang tertuju padanya.
“Nasi goreng sama stick kentang, minumnya lemon tea. Di sini ada kotak p3k?” ternyata luka memar, atas dirinya lebih jelas jika dilihat dari lampu terang. Padahal setelah kejadian keributan, lukanya tidak begitu jelas, tapi sekarang malah merah-merah.


Post a Comment for "Belajar Melupa, Di Antara Kontrak & Rindu. Episode 18, Novel Romantis "