Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Boleh Aku Genggam, Di Antara Kontrak & Rindu. Episode 25, Novel Romantis

Novel Merayu Semesta Terbaru 



“Sengaja tadi Papa suruh datang ke rumah, buat bicarakan hubungan kamu sama Kevin menuju jenjang lebih serius, Papa dan om Edi sudah merencanakan kalau pertunangan kalian dilaksanakan empat bulan lagi. Kalau kalian berdua punya banyak kesempatan untuk mengenal satu sama lain, sambil menunggu acara pertunangan dilaksanakan.”

“Terutama buat Sara. Kalian berdua harus sering menyempatkan waktu buat jalan ke manapun, biar nanti menjelang pernikahan kalian sudah banyak mengenal, tahu kepribadian masing-masing. Dan Sara, kurangi sikap keras kepala kamu!”

Spontan Sara mengerutkan kening mendengar sikap itu diucapkan, walau sebenarnya memang benar, tapi tidak seharusnya bilang di depan orang lain. Kan malu!

“Saya setuju kalau acara pertunangan dilaksanakan empat bulan lagi, soalnya mama pasti sudah berada di Indonesia buat menyaksikan acara penting itu. Iya kan, Pa?” Sahut Kevin melihat om Edi duduk di samping kirinya.

“Iya. Istriku sibuk selesaikan pekerjaan sebelum pindah ke sini, terutama adiknya Kevin juga masih sekolah. Aku harap keluarga kita bisa kumpul bersama di hari bahagia nanti!” jelas om Edi mengambil minum masih utuh, usai diisi kembali.

“Soal tempat, kita sewa gedung milik teman arisanku. Mulai dari dekorasi hingga catering makanan bisa pesan di tempat biasanya, semuanya serahkan padaku saja......” usul mama Ela mengambil buah sudah dipotong pada mangkuk di depannya.

“Kau ini, paling antusias Ela. Masih saja seperti waktu sekolah dulu, suka menyiapkan segala hal kalau ada acara penting. Emang ya guru-guru pada suka sama sikap cekatanmu....” puji om Edi masih ingat jaman dulu..

Sara mengambil ponsel dari dalam saku jas masih dikenakan, dengan cara menyembunyikan di bawah meja. Di kirim pesan singkat pada Fahri agar menghubunginya cepat, tanpa menunggu lama suara panggilan terdengar.

Diletakkan ponsel di telinga sebelah kanan, “Apa apa? Sekarang Lo ada di mana?. Oke, sekarang gue ke sana!”

“Pa, Ma. Aku pergi dulu ya! Zahra tiba-tiba sakit aku mau antar dia ke dokter.... Maaf!” segera bergegas pergi meninggalkan ruangan menegangkan tersebut.

***

Rasa lega kembali terasa ketika sudah menjauh dari rumah, kini mobil berjalan mengarah tempat yang tidak tentu arahnya, tanpa sadar sedari tadi panggilan masih menyambung lupa dimatikan.

Meski harus menggunakan nama Zahra untuk alasan kabur dari obrolan keluarga, namun hanya itu yang bisa dilakukan. Jalan-jalan menikmati udara luar yang sedikit berdesakan, masih lumayan daripada tetap berada di rumah.

“Sara...” tegur Fahri.

Dilihat ponsel tergeletak di bangku dekat pengemudi, “Belum mati?” diambil ponsel sembari mengais earphone di tempat yang sama.

“Bisa kabur?” tanyanya sambil tertawa, “Terus sekarang mau ke mana?”

“Enggak tahu....”

“Ke sini saja, aku lagi di kafe sama Devan!”

“Oke.” Panggilan terputus.

***

Di depan kafe terlihat Fahri sudah menunggu di teras, “Lama banget? Aku mau ajak kamu keluar, mumpung sekarang malam minggu, sambil cari makan di pinggir jalan”

Fahri mengambil peran untuk mengganti mengemudi, “Yakin jalan-jalan pakai jas? Pakai hak tinggi juga...”

Dilirik Sara tetap terdiam tanpa menampilkan ekspresi senyuman, pasti ada sesuatu yang sedang bersemayam dalam benaknya. Fahri berinisiatif untuk menghibur, meski belum tahu apa bisa meredakan sejenak lamunannya.

Letak antara taman yang dimaksud dengan lokasi kafe memang sangat dekat, jadi tidak heran kalau cepat sampai. Lalu terhentilah pada sebuah area parkir mobil pada sebelah kiri, dekat bahu jalan. Malam minggu mengakibatkan tempat begitu ramai dan area parkir tidak cukup.

“Mau ke mana?” melihat Sara keluar mobil lebih dulu.

“Haus, dari tadi habis makan enggak sempat minum.....” berjalan menuju sebuah tenda tempat jualan sekitar taman.

Dalam perjalanan terlihat Kevin keluar dari mobil sendiri, arahnya menuju di mana Sara akan menyeberangi tempatnya memarkirkan mobil. “Kevin, kenapa dia ada di sini?”

Fahri melihat mengikuti pandangan Sara, laki-laki berbadan tinggi dengan pakaian rapi, terutama wajah bule miliknya telah menjadi pusat perhatian orang di tempat tersebut. Tapi bukan untuk Sara, pasalnya ada rasa khawatir tengah menyerang dirinya.

Berlindunglah Sara di dada milik Fahri, mata terpejam kuat, ada rasa takut yang sedang bersemayam. Namun ada rasa berbeda saat mendaratkan tubuh dalam pelukan erat, denyut jantung terus bertambah seiring lama memeluk.

Saling merasakan rasa berbeda yang kini tengah terjadi, bahkan Fahri tidak menolak pelukan, malah memeluk erat tubuh Sara dalam pelukannya. Tercium aroma parfum, juga rasa tenang yang kini diberikan Fahri.

Aroma yang akan bisa merubah kenyamanan, dibiar sebentar tubuh ini masih tetap dalam pelukan. Bahkan setelah kepergian Kevin yang samar-samar mulai tidak terlihat di balik keramaian, langkahnya tidak mengetahui keberadaan Sara saat melintas.

“Fahri!” tegur Sara melihat wajah Fahri, masih tetap memeluk.

Dibalasnya sorotan mata lebih dekat, “ Iya?”

“Kevin sudah pergi?” terasa canggung sembari mengedipkan mata beberapa kali.

“Sudah.”

“Kok aku masih di peluk?” padanya, seketika Fahri menjadi salah tingkah. Sara tersenyum dibuatnya, “Jalan lagi yuk!”

“Iya....lanjut jalan....” Katanya sambil memainkan bibir malu dengan kejadian barusan, telah memeluk hingga lupa melepas pelukan.

Tubuh Fahri semakin dekat dengan Sara, sesekali kedua tangan saling bersentuhan, layaknya ada magnet saling tarik-menarik. Tanpa ragu Fahri menggandeng tangan dengan lembut, hanya senyuman yang diberi. Fahri membalas dengan senyuman pula, pancaran sinar netra tertuju pada Sara.

Rasanya tenang, nyaman, kehangatan! Itu sepenggal dari rasa yang bisa dijelaskan dalam situasi ini, tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi dalam dirinya. Sara berharap ini bukan sekedar permainan, yang hanya dibuatnya untuk sekedar menghindar dari Kevin.

“Boleh aku genggam tangan kamu sebentar!” ujarnya sembari tersenyum manis.

Hanya senyuman yang bisa membalas, karena tidak akan pernah menolak genggaman tangan dari Fahri. Rasa ini jauh berbeda dari genggaman tangan Riko pada saat itu, apalagi pelukannya, jauh darikata berbeda. Sampai-sampai bisa merasakan aroma tubuh Fahri, karena selama dengan Riko hanya aroma parfum yang terus memenuhi bajunya.

“Beli itu yuk, kayaknya enak!” jelasnya menunjukkan gerobak dorong penjual camilan, dengan tangan masih menggandeng.

“Mang dua ya!” jelas Fahri mengeluarkan uang di sakunya, “Masih kurang dua orang lagi?” Hanya anggukan dari penjual karena sedang menghitung uang kembalian.

“Bentar ya!” Ucap penjual tersebut.

“Habis ini cari bangku yang masih kosong sambil makan, sekalian beli minum juga!” ucap Sara.

Tidak perlu menunggu waktu lama pesanan kami sudah selesai, “Makasih, Mang!”

“Kamu mau beli minum apa?”

“Yang hangat, itu saja gimana?” menunjukkan tempat jual tidak jauh dari sini.

***


lianasari993
lianasari993 lianasari993 merupakan nama pena, kerap kali di panggil Lian. Lahir dan Besar di Jawa Timur. Membaca bagian dari hobi yang tidak bisa ditinggal hingga memutuskan untuk menulis sampai sekarang.

Post a Comment for "Boleh Aku Genggam, Di Antara Kontrak & Rindu. Episode 25, Novel Romantis "