Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Ke-9 kalinya, Giliran Dia Yang Nembak, Cerpen Remaja

 


Ini akan jadi ke enam kalinya, aku menyatakan cinta pada cowok. Lima kali ditolak, dipermalukan dan ditertawakan. Sumpah, ternyata memperjuangkan cinta tidak semudah itu.

“Selamat sore, hari ini kita ada anggota baru yang akan ikut klub musik” menyuruh perkenalan.

“Hai, semuanya. Aku Diana, panggil saja Nana” memberi lambaian pada cowok yang duduk di sudut ruangan.

“Apa alasan kamu ikut klub musik?”

“Biar sering ketemu Febri, itu yang duduk di situ”

Jawaban itu seketika membuat ruangan heboh, lain dengan cowok itu malah pura-pura bermain gitar.

“Semoga kamu betah di sini, kamu boleh duduk!”

Ada dua bangku kosong, aku memilih duduk di dekat Febri. Materi kelas musik diawali dengan pemanasan(warm-up), latihan fisik ringan, pernafasan maupun vokal. Bermodal nekat ikut kelas, aku memang sama sekali tidak bisa bermain musik, cuman masalah vokal aku paling juara.

Hari ini, kami berlatih lagu Purple Raincoat milik RZD yang berduet dengan Ghea Indrawari. Guru musik menyuruh mengamati saja, karena aku baru gabung. Kesempatan untuk mencuri pandang Febri memetik gitar, fokus banget sampai dilihat dari tadi tidak sadar.

Mau bagaimana lagi, aku dan dia tidak satu kelas, tapi satu angkatan. Bahkan kelas kita jaraknya lumayan jauh, tahu begitu aku memutuskan untuk mengambil jurusan yang sama. Dulu sempat bilang orang tua pindah jurusan, malah dimarahi.

Kelas berlangsung dua jam.

Lumayan membantu rasa rindu. Guru musik keluar kelas, begitu juga siswa klub, kali ini Febri masih tetap duduk memangku gitar. Aku segera membereskan buku catatan, karena tadi guru menyuruh menulis not lagu yang baru saja dibawakan.

Saat mau beranjak.

Febri menghentikan, “Gue enggak kenal elo, mesti berapa kali gue tolak, biar elo menjauh dari hidup gue?”

Menatap mata kembali, “Sampai kamu suka aku”

Aku segera pergi meninggalkan kelas, sumpah momen barusan bikin jantung naik-turun. Untung saja aku langsung pergi meninggalkannya, langkah kaki lebih cepat menuju gerbang sekolah, sepertinya abang ojek online menunggu di tempat biasa.

***

Lagu tadi bikin aku merasa bahagia, diambil ponsel untuk memutar lagu itu lagi. Purple warna kesukaan dan keberuntungan. Tidak heran hampir semua isi kamar warna itu, berpikir bagaimana caranya agar perasaan ini cepat dibalas.

“Aduh, kayaknya aku harus belajar alat musik. Tapi apa ya? Febri jago main gitar, apa aku belajar gitu juga ya?”

Ketukan pintu.

“Hallo, kayaknya ada yang lagi pusing mikirin rencana selanjutnya nih” Dita meletakkan tas di meja rias, “Gimana belajar musiknya tadi?”

Aku menarik tangan Dita untuk duduk di ranjang, “Gue tadi duduk di sebelahnya, dia pintar banget main musik, dia juga bisa nyanyi”

“Kata guru musik, kalau gabung di club minimal bisa main satu alat musik. Apalah daya gue modal vokal saja, gue harus belajar alat musik paling gampang, tapi apa?”

Dita berpikir sejenak, “Yang gue tahu semua alat musik susah, jadi mesti rajin belajar, konsisten elo yakin gabung di club”

“Mau gimana lagi, itu satu-satunya biar gue dekat Febri” memanyunkan bibir, “Dit, bantu gue, please!”

“Harmonika sih lumayan gampang, dulu pas gue SMP pernah belajar” mengambil ponsel, “Alat musiknya kayak gini. Elo yakin mau belajar ini?”

“Memang kenapa?”

“Elo saja, kalau ketemu Febri enggak bisa kontrol nafas. Gimana, elo pas main harmonika di club musik, tiba-tiba duduk dekat Febri. Bakal habis duluan nafas elo”

“Iya juga ya...” menggaruk kepala tidak gatal.

***

Aku baru saja dari toilet dengan Dita, seperti biasa sepanjang perjalanan berbicara tanpa henti. Tiba-tiba pandangan Dita beralih ke lapangan, tidak lagi mendengarkan curahan hati bimbang ini. Aku terus berbicara, meminta saran tetapi belum ada respon, saat melihat ke sebelah ternyata Dita tertinggal.

“Dit, ngapain?”

Melambangkan tangan, “Eh ada cewek yang nembak Febri, buruan sini!”

Aku melotot menghampiri, “Mana sih itu ceweknya?”

Memukul, “Pelan-pelan suara elo. Itu dekat ruang UKS, kalau enggak salah, cewek itu kakak kelas. Wah, ternyata elo punya saingan baru”

“bahaya...bahaya banget ini. Gue mesti cari ide lagi, gue enggak terima Febri pacaran sama cewek lain, selain gue” melihat jam, “Itu dipikir nanti, ayo masuk kelas dulu, daripada kena marah kelamaan izin”

“Elo sih, ke toilet sambil curhat”

Seperti biasa pelajaran, tugas tidak terlalu banyak hanya merangkum materi yang dijelaskan. Aku masih memikirkan kejadian tadi, takut kalau Febri menerima pernyataan cinta itu. Kalau mereka jadian, bagaimana dengan nasib dan perjuangan selama berbulan-bulan. Bakal sia-sia.

Ruang musik. Selalu kosong, aku masuk, tidak lupa menutup pintu lagi. Menatap alat musik masih tertata sesuai tempat, aku menarik nafas panjang berjalan ke arah piano. Semalam, di beranda sosial media, ada pemain piano yang cukup membuat aku jadi tertarik. Mangkanya, aku datang ke sini untuk melihat sambil belajar tangga nada dari layar ponsel.

Do re mi fa sol la si do. Kelihatannya seperti sederhana, ternyata aku hampir menyerah. Aku bernyanyi lagu kemarin, ruang sunyi membiarkan perasaan tersampaikan. Ingin rasanya bertemu Febri, bertanya siapa cewek yang tadi menemui di saat jam pelajaran. Tetapi, aku bukan siapa-siapa, hanya seseorang yang cintanya selalu ditolak.

“Elo berisik, gue lagi tidur”

Lagu tidak selesai dinyanyikan, aku tercengang, “Febri, sejak kapan kamu di sini?”

“Harusnya gue yang tanya gitu, ngapain elo datang ke sini?”

“Belajar musik” berjalan menghampiri, “Cewek tadi yang dekati elo siapa?”

“Bukan urusan elo”

“Jelas urusan aku lah, yang boleh jatuh cinta sama kamu ya aku. Memangnya aku kurang apa sih, biar aku bisa intropeksi?

Febri beralih posisi duduk, “Kurangnya elo banyak. Satu lagi, berhenti dekati gue, gue enggak mau pacaran”

“Kalau hts, hubungan tanpa status. Jadi kita dekat kayak teman tapi mesra gitu”

Febri beranjak pergi.

“Febri, aku sayang sama kamu” melihatnya sudah menutup pintu.

Ini penolakan ke tujuh apa delapan. Aku sudah lelah menghitung, semakin sulit didapat, tantangan makin seru. Tidak lupa melaporkan penolakan barusan ke Dita. Lalu kembali belajar piano sambil menunggu jam pelajaran dimulai.

***

Gerbang sekolah terbuka. Seperti biasa aku dan Dita jalan bergandengan, sambil menunggu jemputan. Ayah bilang kalau mau jemput sekolah, jadi lumayan uang ongkos ojek aman.

“Diana” membuka kaca helm, “Buruan”

Aku mengerutkan kening, “Dita gue duluan ya, bye!”

“Wih, siapa tuh cowok”

Aku hanya tersenyum, meninggalkannya yang penasaran.

Memakai helm, “Kenapa kamu yang jemput?”

“Sengaja, aku mau ajak kamu makan di dekat sini” kendaraan memecah kemacetan.

Di sebuah cafe pinggir jalan, kendaraan bermotor parkir di pelataran. Kita berjalan memasuki cafe yang lumayan ramai siswa nongkrong, aku tahu tempat ini sering dipakai nongkrong Febri dengan teman-temannya.

Ketika masuk, aku memang melihat Febri di sana. Hanya situasi berbeda, setelah memesan aku mengajak Riza duduk sedikit menjauh dari keramaian, tapi tetap di lantai satu. Aku tahu, mata Febri sering melihat dari kejauhan, tetapi Riza mengajak berbicara sambil bercanda.

“Kamu dari tadi lihat siapa?”

Riza mulai sadar, kalau aku tidak fokus di obrolan kita, “Enggak, tunggu pesanan kok lama, aku sudah lapar”

“Kita sudah sebulan lebih enggak ketemu, maaf ya aku sibuk skripsi”

“Bentar lagi wisuda, aku pasti datang mau aku kasih kado apa?”

“Aku cuma mau kamu datang, itu sudah cukup” melihat pesanan datang, “Makasih kak”

“Selamat makan” ucapku selalu begitu, Riza membalas seperti biasanya.

Makan selesai.

“Habis ini mau ke mana?” usai mengelap bibir pakai tisu, “Mau ke rumah, kayaknya ada film baru”

Riza tersenyum antusias, “Boleh, nanti sekalian ke minimarket beli snack”

Kita meninggalkan cafe. Geng Febri masih berada di sana, bahkan aku tidak bertegur sapa, seperti yang biasanya aku lakukan di sekolah. Kedatangan Riza hari ini membuat hatiku bahagia. Aku memutuskan untuk istirahat mengejar Febri, percuma juga pasti akan ada penolakan berkali-kali.

Saat di ruang tamu. Keadaan rumah memang sepi, bunda baru saja bunda berangkat arisan di kompleks sebelah. Asisten rumah tangga berada di dapur, setelah membuatkan jus melon.

“Dari tadi, ada cowok yang lihatin kamu pas di cafe, kamu kenal?” terus makan keripik kentang rumput laut.

“Oh itu... satu angkatan sama aku, cuman mereka beda kelas”

Mengguguk paham, “Besok berangkat sekolah aku antar ya, sekalian aku mau ke rumah teman nganterin laptop”

“Aku berangkatnya pagi, kamu enggak capek? Sering begadang ngerjain skripsi, kenapa enggak kamu kerjakan pas pagi atau siang?”

“Nanti malam aku langsung tidur, lagi pula skripsi aku tinggal satu bab. Habis nonton aku langsung pulang ngerjain skripsi. Temanku laptopnya tiba-tiba rusak, jadi dia mau pinjam punyaku” menyuapi kripik kentang.

“Kalau kamu butuh laptop pakai saja punyaku, jarang dipakai juga minggu ini”

“Makasih, aku bisa pakai laptop ayah satunya”

***

Menonton film sampai jam empat pagi, membuat tubuh terasa lelah, beberapa kali menguap sepanjang pelajaran. Aku memutuskan pergi ke ruang musik untuk tidur, lagi pula ruangan ini selalu sepi, semoga saja tidak ada siapa pun.

Pintu tertutup. Kursi panjang pada barisan tengah, lumayan tertutup oleh meja yang lebih tinggi. Aku merapikan rok sebelum berbaring, cukup keras punggung beralas kursi kayu. Saat ingin memejamkan mata, suara terdengar dari kursi belakang.

“Siapa cowok kemarin?” berjalan menghampiri

“Febri” berganti posisi duduk, “Bukan urusan kamu”

Duduk berhadapan, lalu meletakkan ponsel di meja, “Cepat banget move on dari gue, sudah ada yang baru?”

“Bukannya kamu sudah jadian sama kakak kelas” mengalihkan pandangan, “Percuma juga aku kejar kamu berkali-kali, ujungnya bakal kamu tolak”

Pesan masuk dari ponsel Febri.

Aku terkejut melihat fotoku ada dilayar ponselnya, “Itu kan foto aku--”

“Bukan”

Aku langsung mengambil ponsel itu dari saku seragamnya, memastikan kalau itu memang tidak salah melihat. Bingung. Bagaimana bisa Febri memiliki foto, ketika aku mengikuti lomba menyanyi satu tahun lalu. Foto yang bahkan, aku sendiri tidak punya.

  Padahal, dulu aku belum ada keberanian mengatakan perasaan. Febri tidak langsung menjawab, bernafas panjang menatap mataku yang berbinar.

“Karena aku pengecut” suaranya pelan.

“Karena setiap kamu nembak aku, aku takut. Kalau aku bilang iya, terus kita jadian. Aku takut terus nyakitin kamu.”

Aku ketawa kecil.

“Terus? Kalau kamu simpan foto aku diam-diam itu enggak nyakitin?

Matanya merah.

“Aku pikir, kalau simpan foto kamu aku bisa nguatin diri” jeda, “Ternyata setiap aku tolak kamu, aku malah makin nyesel”

Hanya suara AC yang mengusik obrolan serius ini.

“Justru aku capek, Febri” tegasku, “Delapan kali, aku ngumpulin keberanian. Dan delapan kali juga, aku pulang bawa kecewa, selalu kamu tolak”

Beranjak mendekat. Kita sama-sama berdiri berhadapan tanpa penghalang.

“Aku tahu, aku minta maaf, Na” menatap lebih lekat.

“Aku enggak janji bisa jadi yang terbaik. Tapi kalau kamu masih mau... kali ini giliran aku yang ngejar ke sembilan”

Aku diam. Dada terasa sesak.

“Terlambat” jawabku pelan.

Wajah Febri menunduk.

“Tapi...” terdiam sejenak, “Aku capek ngejar kamu. Aku mau kita jalan bareng saja. Mulai dari sini.”

Febri tertawa lega, rasa yang ditahan dari setahun lalu. Mengulurkan tangan.

“Deal. Jalan bareng. Enggak ada yang nolak, enggak ada yang ngejar” kataku membuat kita berdua tertawa.

Tangan aku digenggam.

Ruang musik masih sama, sunyi. Tapi sekarang rasanya hangat.

Bel masuk berbunyi. Kita memasuki kelas masing-masing, entah kenapa, hari ini rasanya tidak selelah biasanya. Aku bahagia, ternyata perasaanku tidak sia-sia, hanya waktu yang mundur dari rencana.


Judul : Ke-9 kalinya, Giliran Dia Yang Nembak, Cerpen Remaja

lianasari993
lianasari993 lianasari993 merupakan nama pena, kerap kali di panggil Lian. Lahir dan Besar di Jawa Timur. Membaca bagian dari hobi yang tidak bisa ditinggal hingga memutuskan untuk menulis sampai sekarang.

Post a Comment for "Ke-9 kalinya, Giliran Dia Yang Nembak, Cerpen Remaja"