Dinner At Home, Di Antara Kontrak & Rindu. Episode 24, Novel Romantis
Novel Merayu Semesta Terbaru
“Aku berharap suatu saat nanti kamu bisa mencintaiku, Sara!”
“Terserah.”
***
Sampailah di sebuah restoran mewah, tersemat senyuman tipis pada wajah, meski hati masih belum bisa tersenyum manis. Kenapa Kevin bersikeras meminta balasan cinta, sudah terjelaskan bahwa tidak ada sedikit pun rasa untuknya. Tidak ada yang bisa dilakukan selain menerima uluran tangan darinya, karena lumayan banyak orang berada di tempat tersebut.
Dua hati berbeda tujuan, melewati anak tangga dengan hiasan lukisan para pelukis terkenal, lampu berwarna kuning menimbulkan kesan klasik. Langkah terhenti pada balkon restoran, hiasan romantis untuk sepasang kekasih.
Hiasan lilin menambah rasa romantis, bersama embusan angin malam di bawah gemintang pemancar keindahan. Tautan semesta telah memberi arti, tapi tautan cinta yang sedang terlihat sulit terjadi.
Jika hanya ada satu cinta, tidak akan bisa abadi. Begitu juga kita berdua. Kevin memang mencintai, tapi Sara tidak mencintainya. Apa suatu saat nanti Sara bisa mencintainya?
Memberi cinta tidak semudah memberi luka. Jika anggapan jatuh cinta itu mudah, tapi bagi Sara jatuh cinta akan menyakiti dengan seribu luka, sebab jatuh lebih mudah. Dari pada membangun cinta.
Membangun cinta, suatu cerita berbeda dari sekian banyak cinta yang telah ada. Bangun cinta, kedua hati yang saling bertautan demi menciptakan cinta bersama. Segala sesuatu tentang hubungan akan selalu dijalankan bersama, itu bangun cinta! Makanya tidak semudah jatuh cinta.
Lama-kelamaan merasa jenuh, harus bertahan dalam lingkaran paksaan. Terlihat baik-baik saja, namun nyatanya semua terlakukan dengan terpaksa.
“How did you like the dinner?”
“Yes, thanks!”
Walau terkadang segala sesuatu terlihat menarik, padahal ada rasa sedang bersemayam di dasar keraguan lubuk hati. Sebening tirta terus bersembunyi jauh lebih besar, harus tetap bertahan di atas kemauan. Bukannya ingin mengecewakan, hanya saja takut terkecewakan lagi.
Pada cinta yang dulu pernah gagal, dan tidak pernah mau gagal untuk kedua kalinya. Biarkan hati memilih untuk berlabuh pada siapa. Menemukan tempat untuk memulai kembali cinta yang telah lama tidak diharapkan.
Alunan melodi biola telah berhasil mengusir kejenuhan, terasakan setiap mengalun merdu. Ketika rasa cuek begitu cepat berganti bersama seiring nada berganti, perasaan mulai terasa tenang, menikmati gesekan tiap nada-nada.
Hati ini seketika terdiam, terpenjara dalam sebuah lagu berbahasa asing. Salah satu lagu paling Sara sukai. Terlintas senyuman tipis dari bibir, menghayati setiap aluan-alunan bersama hati terbiarkan berkelana tanpa terarahkan.
“Let’s dance!” beranjak sembari mengulurkan tangan mengarah pada Sara, Kevin merasa senang pintanya tidak ditolak.
Suasana romantis kini tengah tergambarkan jelas, kedua mata saling bertatapan. Mengikuti ketukan melodi untuk mengatur langkah tarian romantis malam ini, begitu lihai memainkan langkah kaki.
Rembulan terang bertabur gemintang cahaya malam, meski samar-samar awan terlihat padam bagai tertelan pekatnya langit. Sinarnya bagaikan nyawa, dikala separuh jiwa perlahan utuh dengan sempurna. Bersama terang benderang cahaya lampu dari jalanan kota, riuh gaduh tidak teranggap.
Biarkan di bawah langit berbintang, Sara ingin berkelana bebas tanpa beban. Menyisikan setiap luka yang belum sembuh, tidak peduli dengan siapa obatnya. Karena pada akhirnya luka ini suatu saat nanti akan sirna.
“Ternyata kamu pandai berdansa!” pujinya merasa senang bisa berdansa, hanya balasan senyuman dirasa sudah cukup baginya.
“I’m glad you enjoyed our time to gether” katanya lagi.
“Akan aku berikan yang terbaik untuk kamu, Sara!” membisikkan di telinga, “Because I love you. Kelihatannya kamu begitu paham soal biola... Kamu bisa memainkannya?” tanyanya berusaha mengambil celah kebersamaan ini.
“Bisa”
“Boleh aku mendengarnya?” pintanya.
“Satu lagu saja!” Menerima biola dari pemain yang sedari tadi menemani makan malam.
Terlepaskan semua rasa yang selama ini selalu tersimpan sendiri, bersama alunan melodi biola, menghempas angin kala ingin menyelimuti. Jiwa terasa terkendali di lautan kenangan, mengubah luka dari balik lirik lagu.
Di bawah rembulan sunyi, segala rasa hampa tentangnya terlepas dengan paksa, Riko pergilah dari hati ini. Bersama melodi yang akan usai, meski hati dan benak sedang bergelut tidak terima.
Teruntuk awan kelabu, bawalah harapan yang belum usai dulu, biarkan harapan cepat sirna dari harap ini. Nestapa masih berlabuh pada ketidakpastian, bersama kerlip gemintang Sara akan selalu berusaha melupakan semua kenangan.
“Kamu menangis?” tanya Kevin selepas Sara memainkan biola.
Tidak ada jawaban, “Sebentar lagi pulang. Aku sudah capek!”
“Iya, kita lanjut makannya!”
***
Terlintas sebuah pesan singkat, membuyarkan padangan menatap senja yang akan hilang. Menyisakan cahaya orange bersama datangnya rembulan menemani awan. Di ambil sebuah ponsel tergeletak di bangku sebelah pengemudi, nama Papa Tyo sebagai pengirim pesan tersebut.
Padahal hari ini, Sara berencana tinggal di apartemen untuk sementara waktu, tapi Papa malah menyuruh segera pulang. Diletakkan kembali ponsel pada tempat semula, segera mengendarai mobil mengikuti arahan yang sudah terekam dalam memori, jalanan memang sedikit macet jam segini.
Pepohonan tinggi nan lebat terus menghiasi pinggir jalan kota menuju perumahan, hingga sampailah di sebuah gerbang masuk tanda perumahan akan menyambut. Berjejer rumah tetangga selalu sepi, hingga terhenti di sebuah rumah yang sedang ada mobil milik Kevin terparkir di garasi.
Sara merasa ada sesuatu yang tidak enak pada dirinya, langkah kaki melewati tangga sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah, tidak ada seseorang di ruang tamu. Namun ada suara obrolan cukup ramai mengarah pada meja makan, dilanjutkan lagi melangkah menuju tempat tersebut.
“Selamat malam, maaf Sara terlambat!” teguran menghentikan obrolan, pandangan terfokus menatap keberadaan Kevin dan Om Edi sedang ikut makan bersama.
“Selamat malam. Senang sekali kita bertemu lagi, Sara. Bagaimana kabar kamu?” tegur om Edi melihat Sara duduk di dekat Kevin, karena hanya itu saja kursi yang masih kosong.
“Baik, om!” melempar senyuman, dibalik piring sebelum meletakkan makanan.
Beberapa menit kemudian. Harusnya bibi datang untuk merapikan meja, tapi kali ini hadirnya belum juga kunjung terlihat.
Tarikan nafas panjang terdengar dari papa, sedangkan om Edi hanya memberikan kode dengan cara gerakan wajah, Sara yang ingin cepat pergi tetap menahan untuk sebentar lagi.
Diteguk air putih dari belas berisi setengah, “Sara.” Hanya pandangan yang jadi jawaban atas teguran itu.


Post a Comment for "Dinner At Home, Di Antara Kontrak & Rindu. Episode 24, Novel Romantis "