Kawah Putih Ciwidey, Di Antara Kontrak & Rindu. Episode 22, Novel Romantis
Novel Merayu Semesta Terbaru
“I am in the apartment now, pick me up tomorrow, l will give you the location immediately. Now want to continue working, don’t call again.......”
“Sara sorry to bother you, be sides it’s almost lateat night you should rest first, work can resume tomorrow, it’s not good for your health. Good night....”
“Thanks for your attention, good night too.” Mengakhiri panggilan.
Akan timbul banyak alasan setiap kali berbicara lama dengan seseorang yang tidak dicintai, lain ketika orang itu begitu istimewa. Walau harus sambil rebahan akan terlaksanakan, sambil mengisi daya ponsel, melakukan kegiatan lain. Itu bukan menjadi alasan, masih ingin bertanya mengapa komunikasi itu harus searah juga terikan perasaan.
Kini Sara merebahkan tubuh dengan nyaman sambil menyalakan tayangan televisi, berganti channel namun kurang tertarik menontonnya.
***
Kawah Putih, sebuah tempat wisata menjadi tujuan Sara dan Kevin, untuk mengisi waktu luang disela sibuk kerja. Bandung, Jawa Barat. Telah lama Sara ingin mendatangi tempat ini kembali, setelah sekian lama belum sempat mengunjungi, hawa sejuk sepanjang perjalanan itulah yang disuka. Hijau pepohonan dan tanaman liar ikut mengiringi menuju lokasi Kecamatan Rancabali.
Meski memerlukan waktu lama untuk sampai, Kevin memilih untuk terdiam sepanjang jalan, meski ada sedikit niat untuk memulai obrolan tetap ditahan. Dengan menggunakan aplikasi penunjuk arah, dirasa itu lebih bagus daripada meminta Sara sebagai pemandu.
Kevin sering mencuri pandang melihat Sara kini terlelap, karena sejak semalam sibuk bekerja hingga larut, itu sebabnya tertidur pulas dengan suara musik diputarnya. “You are more beautiful when you are silent like this.”
“You attitude makes memore curious and want to know you more. I hope some day you too have the same feeling, l love you, Sara!” terang Kevin memandang Sara tetap tertidur lelap meski jalanan tidak begitu rata.
Tibalah di tempat tujuan.
“Sara, wakeup has arrived!”
“Mmm. Sorry l fell asleep....” membetulkan penampilan sebenarnya keluar dari mobil.
“Kamu masih kantuk?” tanya Kevin mengambil kamera yang sudah disiapkan sebelumnya, mobil miliknya cukup nyaman untuk tidur.
“Enggak.” Suara pintu terbuka bersamaan Kevin membuka pintu mobil.
Hawa sejuk masih terjaga bersama pepohonan menghiasi, embusan angin membawa rasa dingin. Menarik sejuta mata akan selalu menjadi cara memperlihatkan keindahan. Keramaian wisatawan tidak begitu ramai, mungkin bukan hari libur. Memang Sara selalu meminta waktu istirahat di hari biasanya, apalagi dirinya bukan bekerja untuk perusahaan saja melainkan toko bunga.
Setiap arah mata memandang, ada rasa ketenangan yang disampaikan, tidak perlu pakai seribu kata sebagai penjelas, biarkan penakluk bumi sebagai cara bercerita. Begitu tenangnya, jauh dari keramaian kota, akan selalu terindukan.
“Sara, Kawah Putihnya di mana?” tanya Kevin melihat lalu-lalang orang menuju tempat yang sama.
“Kawah Putih masih ada di sana, tapi mulai tercium aroma belerang, jadi semakin terasa kalau kita sudah memasuki kawasannya. Kawah Putih, danau yang terbentuk akibat letusan Gunung Patuha pada abad 10 dan 12. Air danau dapat berubah warna sesuai kadar belerang yang terkandung, suhu, termaksud karena cuaca. Itu sebabnya warna danau terlihat cantik, bukan hanya warna putih. Melainkan ada warna kebiru-biruan, coklat susu, hijau apel sama warna putih kabut!”
“lnteresting! Baunya mulai tercium juga!”
Kevin tersenyum memperhatikan Sara telah berada di depannya, masih terdiam tanpa ada ucapan darinya. Lagi-lagi senyuman itu menghiasi wajah tampan Kevin, manis banget!
Tidak menghiraukan terpaan angin melewati rambut rapi miliknya, mata ketenangan yang tengah tersorot pada Sara, laksana ingin berbicara tanpa kata.
Sara membalas tatapan itu, tubuh terpaku menatap bagai angin tidak ingin cepat berlalu. Bola mata indah menghiasi sorotan kehangatan, menciptakan ketenangan jika terlihat lebih dekat dan mendalam. Harus berapa lama lagi untuk saling bertatap, meski ada lintasan sekejap orang berlewatan.
Tapi titik fokus masih menyembunyikan tentang rasa yang telah diketahui, jangan cinta cepat bertumbuh, bukan ingin jatuh cinta. Hanya saja jangan sekarang, hati belum kuat... Jika suatu saat nanti akan timbul luka.
Setelah berfoto, Kevin berjalan untuk mencari spot menarik, sebagai bahan upload di media sosial miliknya.
“Dermaga Ponton salah satu spot paling favorit!” jelas Sara mengikuti langkahnya.
“Dermaga Ponton.”
“Sara!” ucap Kevin terlihat serius, langkah kaki mulai mendekat, pada posisi Sara melihat pemandangan dari jembatan Dermaga Ponton paling ujung.
“Ada apa?” membalikkan badan.
“Kamu kenapa enggak langsung terima perjodohan kita, orang tua kita sudah setuju tinggal kamu saja. Apa yang bikin kamurag terima perjodohan ini?”
“Aku belum bisa ambil keputusan ini gitu saja, karena pernikahan itu suatu momen sakral, harus dipertimbangkan baik-baik. Bukan aku ragu, tapi aku butuh waktu buat memutuskan, aku harap kamu paham soal ini!” papar Sara berkata jujur, karena gagal menjalani hubungan telah menjadikan sikap selektif dalam memilih.
“Aku bakal berusaha meyakinkan kamu.....”
“Aku enggak bisa janji.” Kembali melihat pemandangan, meski Sara tahu kalau Kevin kecewa mendengar ucapan itu.
“Kenapa kamu berharap bisa nikah sama aku. Bahkan sebelumnya kita belum pernah ketemu, gimana bisa seyakin itu?”
“Awalnya aku pernah menolak perjodohan ini. Saat itu, karierku lebih penting daripada pernikahan. Menikah bagiku itu merepotkan, lalu untuk apa aku melakukannya. Bagiku berpacaran sudah lebih dari cukup, tapi apa boleh buat. Papa selalu menyuruhku segera menikah, tapi pacarku malah nolak aku ajak nikah, lebih mementingkan menjadi seorang model.”
“Jadi itu alasannya kenapa mau menikah sama aku!”
“Bukan...” sejenak memandang Sara yang sama menatapnya, tarikan nafas bersamaan senyuman tipis diperlihatkan.


Post a Comment for "Kawah Putih Ciwidey, Di Antara Kontrak & Rindu. Episode 22, Novel Romantis "