Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Kembali Bahagia, Di Antara Kontrak & Rindu. Episode 27, Novel Romantis

Novel Merayu Semesta Terbaru 



Tampak bangku kosong berwarna putih terbuat dari besi berada pada beberapa sisi, malam minggu lebih banyak anak muda sedang memadu kasih sambil menikmati udara malam, obrolan basa-basi dirasa tepat daripada harus terdiam.

“Ada masalah ya? Kalau kamu mau cerita, ngomong saja...”

“Aku enggak tahu harus ngapain lagi. Aku ragu buat cerita ke orang lain….”

“Masih ragu buat cerita, padahal kita kan……” Fahri tidak lagi melanjutkan ucapannya, hanya bernapas Sara dengan penuh meyakinkan tentang rasa nyaman.

 Sara mulai mencoba bercerita, ketika transfer rasa itu sampai pada dirinya, “orang tuaku sudah berencana jodohin sama anak sahabatnya. Aku enggak bisa.....”

“Kamu nolak dijodohin, karena masih ada perasaan buat Riko?”

“Enggak. Sejak awal aku enggak tertarik dijodohin, aku tahu perjodohan ini bukan hanya sekedar menyatukan persahabatan lama, tapi ada kerja sama antara perusahaan. Itu salah satu alasan kenapa aku tolak, aku bukan alat pengikat dua belah pihak, menikah sama siapa itu pilihanku!”

Dicurahkan perasaan yang selama ini membuat tidak tenang, entah mengapa memilih Fahri sebagai pendengar, karena belum ada yang tahu pasti akan perasaan luka terus disimpan. Tanpa terasa butiran bening mulai menetes, mengapa saat dekat Fahri hati begitu rapuh, dulu masih bisa menyimpan dengan rapi.

Fahri menyenderkan kepala Sara di lengannya, seperti tahu akan situasi butuh sandaran dan ketenangan. Kehangatan separuh pelukan darinya, jiwa terasa berkelana dalam pekat langit malam tanpa butiran gemintang menghiasi.

“Aku selalu tolak kalau bahas nikah, bukan berarti aku enggak mau nikah. Kadang ada rasa ragu kalau aku mau mulai pacaran lagi, aku pernah sakit hati lumayan lama. Berdamai sama masalah bukan hal mudah, nyatanya sampai sekarang masih sulit move on dari Riko”

“Biar aku ada di samping kamu, kasih bahu buat sandaran, berirasa nyaman setiap saat. Karena hanya itu yang bisa aku lakukan supaya tetap ada di samping kamu, meski pun itu sebentar” Menghapus air mata.

“Aku harus gimana lagi?”

“Sekarang ada aku, kalau ada masalah cerita, jangan dipendam sendiri. Aku tahu kamu kuat, tapi ada baiknya cerita, mungkin itu bisa sedikit lega” memberi senyuman, “Jangan nangis lagi” katanya menghapus air mata kembali.

Fahri memegang wajah Sara dengan kedua tangannya, menyentuh dengan hangat. Ibu jari liar bermanja di pipi, menghalangi butiran tirta keluar, meski hati sedang terguncang oleh sentuhannya.

Dua menit saling menatap, membagi rasa yang sedang terjadi, lewat tatapan mata saling berkata. Kenapa jantung ini berdegup kencang setiap kali menatap matanya? Akankah telah salah mengartikan hubungan yang kini sedang terjadi?

Apa sudah mulai membuka hati kembali? Jika memang, jangan biarkan nanti hati ini terluka dan sulit memulai cinta kembali! Karena luka yang dulu belum sembuh, akankah kedatangannya bisa menjadi penyembuh?

Kala hati sedang diterpa rasa gundah gulana, bersama rembulan tertutup awan, akan mencoba buka hati. Apa Fahri memiliki rasa nyaman setiap dengan Sara? Dan apakah rasa nyaman itu bisa berubah menjadi cinta?

Karena untuk kesekian kalinya, coba untuk memulai perasaan, ketika kenyamanan berhasil menepis segala rasa keraguan, dirinya telah memberikan rasa yang selama ini selalu diinginkan. Rasa yang dulu pernah ada, kini kembali terasakan jauh lebih sempurna, benar saja, hati sudah terbuka oleh kehadirannya.

Bersama harapan menjadi ingin, bersama luka yang dulu teranggap sulit sembuh, namun kehadiran telah menyembuhkan. Hangat sentuhan masih terasa samar dalam bayangan, teringat jelas di benak. Apa ini jawaban untuk kisah cinta?

“Besok aku mau ajak kamu jalan, itu pun kalau kamu mau” berjalan menuju tempat parkir tadi.

“Mau. Kamu enggak kerja?”

“Besok waktunya aku libur, giliran Devan yang kerja. Kamu mau enggak?” tawarnya lagi dengan sedikit berharap.

“Iya. Jam berapa?”

Dengan cepat Fahri memeluk, “Maaf, reflek” jelasnya melepas pelukan.

“Iya.”Ucap Sara mempertegas, sumpah kenapa jantung ini terus berdebar enggan untuk berhenti.

***

Sejak kejadian tadi, Sara belum tertidur. Masih memikirkan setiap kedekatan dan kejadian tanpa duga. Jantung terus berdebar kencang, meski kini tidak lagi bersama. Ada rindu yang tengah menggebu, menimpa harapan untuk bertemu.

“Fahri....” kata Sara tanpa sadar.

Biasanya setiap kali sulit tidur selalu memainkan ponsel, tapi sekarang malah sibuk memikirkannya. Mengulang kembali kejadian yang baru saja terjadi, ah kacau, galau hati ini. Sampai-sampai pukul dua malam belum juga tertidur.

Saat memejamkan mata ada suara Fahri sedang berkata, “Tidur. Sudah malam, jangan terlarut memikirkanku”

Langsung terbangun.

Mencari keberadaan Fahri di kamar, “Ternyata cuma mimpi!” melanjutkan tidur.

Menyebalkan, kenapa Fahri kembali ada dalam mimpi. Apa tadi masih belum puas bersamanya, sampai-sampai wajah Fahri menyempatkan diri menyelinap ke dalam mimpi indah, bukan tidak ingin dirinya berlabuh dalam skenario mimpi yang tengah terjalani. Hanya saja bisa gila karena dirinya, selalu hadir setiap saat. Tapi Sara suka!

***

Mobil berhenti di sebuah halaman cukup luas, di mana Fahri sedang menyapu dedaunan gugur, terlihat beberapa tanaman usai disiram.

“Pagi!” berjalan menghampiri.

Fahri mengamati penampilan Sara tetap mengenakan setelan jas warna hitam dengan hak tinggi seperti ingin berangkat bekerja, “Kamu mau ke mana?”

“Katanya jalan, biasa saja lihatnya!” ucap Sara berjalan menuju kursi kosong tidak jauh dari pintu masuk.

“Jalan! Aku mau ajak jalan-jalan bukan berangkat kerja, buat apa pakai jas segala, enggak punya pakaian lain?”

“Emang kenapa?”

“Sara. Sejak kapan orang jalan-jalan pakai pakaian formal......” menggelengkan kepala, berjalan memasuki rumah diikuti Sara lalu duduk di ruang tamu.

Mata mengamati beberapa foto berada di dinding, tampak sebuah foto berukuran 10R mengambil perhatian, diamati secara rinci siapa anak kecil itu. Mengenakan celana pendek dengan baju bayi menunjukkan gigi dua berukuran kelinci, senyumnya lucu.

Sara tertawa, bersama Fahri datang usai berganti pakaian tidak lupa membawa teh hangat di tangan, “Kenapa ketawa?” dilihat fotonya sendiri.

“Lucu saja anak bayi itu, kayak habis nangis di foto, ada benjolan di kening!” jelas Sara masih tertawa.

“Sudah enggak usah dilihat terus. Aku malu!”

“Malu” aku mengulangi ucapannya, lalu kembali tertawa.

“Tumben sepi?”


lianasari993
lianasari993 lianasari993 merupakan nama pena, kerap kali di panggil Lian. Lahir dan Besar di Jawa Timur. Membaca bagian dari hobi yang tidak bisa ditinggal hingga memutuskan untuk menulis sampai sekarang.

Post a Comment for "Kembali Bahagia, Di Antara Kontrak & Rindu. Episode 27, Novel Romantis"