Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Luka Belum Usai, Di Antara Kontrak & Rindu. Episode 17, Novel Romantis

Novel Merayu Semesta Terbaru 



Hadirnya tetap seperti dulu, hanya saja penampilan lebih keren menggunakan jas untuk acara terbaiknya, “Sayang!” ucap Riko memeluk pinggang belakang Disty lembut.

Tahukah kata itu dulu sering diucapkan, bersama kecupan pada kening dan kini terulang kembali pada tempat yang berbeda. Walau itu adalah bayangan yang dulu pernah dirasakan Sara, tapi sesaat memudar dengan luka.

Mata Riko mengamati penampilan Sara sangat asing baginya, “Sayang ini teman baru kamu?” menanyakan pada Disty yang berusaha mencuri pandangan melihat Fahri di depannya.

“Apa?” sebab suasana sekeliling lumayan ramai.

“Dia teman baru kamu” menunjukkan dengan kedua mata lebih baik dan dirasa sopan.

“Hai Riko. Aku Sara mantan kamu waktu SMA dulu!” sahutan itu sontak membuat Riko kaget.

“Sara?” kata Riko memastikan kalau pendengarannya tidak salah.

“Iya.”

“Aku enggak nyangka sekarang kamu sudah berubah drastis, kamu lebih cantik dan menjaga penampilan. Apalagi aku kaget kamu datang ke sini, lalu gimana kabar kamu, apalagi sejak lulus kita enggak ketemu lagi?” tiba-tiba Riko langsung ramah ketika tahu kecantikan Sara yang sekarang.

“Kabarku baik, selamat buat kalian berdua, langgeng terus!”

“Makasih. Ini siapa?.......”

“Pacarku” Respon Sara memberikan senyuman sekilas pada Fahri.

“Fahri!” memperkenalkan dirinya.

“Riko” menjabat tangan saling mencengkeram erat.

“Undangan buat acara pernikahan nanti bakal kita kasih buat kalian berdua, harus datang ya!” kata Disty saling memandang dengan Riko bersamaan memberikan senyuman manis.

“Pasti.” Sahut Fahri, “Iya kan!” menengok Sara agar memberikan senyuman.

“Kalian berdua kapan nyusulnya, jangan lupa undangan kita juga!” tambah Disty lagi, merasa senang melihat Sara tidak sebahagia tadi sejak bertemu Riko.

“Secepat!” Jawab Fahri lagi, padahal sejak awal tidak ada perjanjian apa saja yang harus dikatakan, ini hanya sekedar jawaban basa-basi.

Sedangkan Disti memilih pergi untuk mendatangi teman-temannya baru saja datang. Hanya ada Riko, Fahri dan Sara. Di mana situasi tegang sedang terjadi, antara dua laki-laki saling beradu mata.

“Aku ambil minum dulu!” ucap Sara merasa haus sejak tadi.

“Iya” jawab Fahri tersenyum.

Riko melihat punggung Sara berjalan, menuju sebuah meja khusus, tempat minum beraneka rasa. Jelas pandangannya telah berbeda, ketika tahu Sara mengenakan pakaian lebih terbuka, kulit putih nan halus adalah kesukaan Riko.

“Gue enggak suka elo lihat Sara kayak gitu, jaga pikiran kotor elo!” tegur Fahri mengambil alih pandangan Riko, agar tidak melihat Sara layaknya menelanjangi.

“Ada yang marah. Gue cuma kagum saja lihat bentuk tubuh Sara sekarang sudah berubah. Enggak usah munafik, elo pasti suka kalau bisa lihat lebih dari itu!” celetuk memang keterlaluan.

“Jaga ya omongan elo.....” bentak Fahri mulai terpancing emosi.

“Kenapa? Sara, bakal semakin menarik kalaupakai dress ketat, terbuka. Tapi sayang, sekarang malah pakai itu. Elo pernah enggak...lihat dia pakai yang lebih menarik dari ini, sudah pasti sering, elo kan pacarnya”

“Sekali elo ngomong gitu, habis elo sama gue....” ancam Fahri masih bisa menahan emosi pada dirinya.

“Ngancam?. Gue bakal ambil Sara dari elo, karena gue yakin dia masih ada perasaan buat gue.” Senyuman licik bersamaan menaikkan alir sebelah kiri.

“Gue enggak bakal biarin itu terjadi. Sadar, elo sudah punya Disty, sebentar lagi bakal tunangan.” Tambah Fahri berusaha menjaga, agar Sara tidak berada di tangan laki-laki seperti Riko itu.

“Kalau bisa dapat keduanya, kenapa enggak. Kalau gue pilih Sara enggak bakal rugi juga kan, sudah kaya, cantik. Makin menarik kalau dipandang, tinggal rebut dia dari elo saja, gampangkan!” pandangan beralih pada Sara yang ngobrol dengan beberapa tamu.

Emosi tidak lagi bisa ditahan, sebuah pukulan keras mendarat pada pipi kanan Riko, “Jaga pandangan elo dari pacar gue!”

Dipegang bekas pukulan terasa ngilu, Riko membalas pukulan pada perut Fahri hampir terjatuh, untung saja keseimbangan tubuh masih bisa dijaga. Kembali Fahri memukul pipi kanan-kiri hingga timbul warna memar, begitu juga Riko terus memukul. Perkelahian ini telah menjadi ketakutan dan tontonan, acara semakin kacau.

Dari kejauhan Disty hanya bisa teriak lantak sambil menangis, bukannya melerai perkelahian mereka berdua, para tamu hanya melihat dan merekam dengan kamera ponsel. Sara berlari untuk melerai momen memalukan ini, bagaimana bisa hanya ditinggal sebentar sudah seperti ini.

Jantung terus berdebar kencang, ketakutan terus menerjang. Dalam benak hanya bertanya, siapa yang telah memulai perkelahian di antara mereka. Sara menarik kuat tubuh Fahri menghindar dari pukulan Riko, tapi malah mengenai punggung bagian atas Sara.

Dengan sigap terjatuh pada pelukan Fahri, “Sara kamu baik-baik saja?” melihat ekspresi menahan sakit, pelukan Fahri semakin erat menopang tubuh Sara saat ini.

“Sara, Sara aku minta maaf. Aku enggak sengaja pukul kamu....”

“Menjauh dariku.....” bentak Sara hanya menengok wajah Riko berada di belakangnya.

“Sara.” Berusaha mengambil dari pelukan Fahri, tapi Sara menolak tangan Riko menyentuh dirinya.

“Kamu gila ya!” tamparan keras diberikan Sara sebagai peringatan terakhir, “Fahri, ayo pergi dari sini!”

Fahri membopong Sara keluar gedung, walaupun acara pertunangan belum dimulai. Yang terpenting baginya keadaan Sara, tidak peduli luka lebam berada di beberapa tubuhnya. Tampak raut kekawatiran terus menyertai setiap langkah berpijak, pandangan Sara menatap dekat wajah Fahri, tidak menyangka akan diperlakukan begini.

Tubuh ringan Sara tidak mempersulit berjalan menuju area parkir mobil, walau harus melangkah jauh itu bukan masalah bagi Fahri. Sebening kristal mulai mengucur sepanjang jalan, ketika rasa takut masih hinggap dalam hati, pukulan ini tidak ada apanya daripada luka yang dilakukan Riko.

***

Tangan kiri berada di belakang leher Fahri, sedangkan tangan kanan menyentuh dada kiri, terasa jelas seperti apa detak jantung miliknya. Derasnya air mata terus menetes membasahi jas, menyandarkan kepala sebentar sebelum akhirnya turun ke dalam mobil.

Dalam sekejap Fahri telah berada pada bangku pengemudi, “Punggung kamu masih sakit?” sembari menyeka air mata Sara

Hanya menggelengkan kepala. Tangan Sara terus menggenggam erat penuh kecemasan, melihat hal tersebut, tangan Fahri mendekat untuk memberikan rasa ketenangan. Kedua mata kini saling beradu dalam satu tatapan, hingga bunyi pesan masuk membuyarkan.

Betapa mengejutkan, ketika sebuah tayangan video, pelaksanaan pertunangan Riko dan Disty sedang dimulai.Siapa yang telah berani mengirim ini?

Apa mungkin Disty sengaja mengirimnya, agar hati Sara semakin terluka. Terpejam erat bersama butiran bening, terus menerus lebih cepat dari sebelumnya, hati begitu hancur berkeping-keping.

Dalam lubuk hati yang terdalam, tidak ada sedikitpun rasa mengikhlaskan pertunangan mereka. Kebencian lama kini telah bangkit dalam diri Sara, teriakan kencang dengan segala macam omelan terlontar pada mulut. Entah mengapa Fahri meraih tubuh Sara ke dalam pelukannya, tarikan nafas terasa begitu sesak.


lianasari993
lianasari993 lianasari993 merupakan nama pena, kerap kali di panggil Lian. Lahir dan Besar di Jawa Timur. Membaca bagian dari hobi yang tidak bisa ditinggal hingga memutuskan untuk menulis sampai sekarang.

Post a Comment for "Luka Belum Usai, Di Antara Kontrak & Rindu. Episode 17, Novel Romantis "