Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Membawa Luka Kembali, Di Antara Kontrak & Rindu. Episode 20, Novel Romantis

Novel Merayu Semesta Terbaru 



Hamparan gelap pada langit telah hilang berganti mentari pagi, meski sinar tidak begitu terang bagai hari kemarin, namun masih cukup daripada tidak menampakkan sinarnya. Kesibukan di bengkel telah dimulai mengikuti jam, begitu juga beberapa mobil mulai datang setiap hari.

“Van!” tegur Aziz menghampiri, keberadaan Devan di bawah mobil milik pelanggan yang datang lebih awal darinya.

Di dorong alas tempat menyenderkan punggung Keluar dari kolong mobil, “Eh, Aziz. Kenapa mobil elo?” bangkit dan kini berada di depan Aziz.

“Biasa mau ganti oli. Bisa elo kerjain sekarang, gue mau keluar sama Bella pagi ini?”

“Kerjaan gue masih lama, bentar......” bertepatan langkah Fahri dari dalam ruang ganti, “Fahri, urus mobilnya Aziz, gue masih banyak kerjaan!”

Aziz Melviano. Nama itu sudah tidak asing bagi Fahri. Siapa yang tidak mengenalnya, laki-laki penyebab akhir berpisah hubungan cinta antara Fahri dengan Bella.

“Bentar” Jawabnya berjalan menghampiri sebari membawa peralatan bengkel tidak jauh dari posisi berdiri saat ini.

“Ganti oli. Sekalian lihat apa ada yang rusak, sudah pasti masih bagus, tahu sendiri mobil baru.” Ucap Aziz berlalu menuju tempat tunggu dekat kulkas minum dan kantin bengkel.

“Sabar, orang kayak gitu enggak usah didengerin, bikin sakit telinga!” kata Devan menepuk pundak Fahri sebelum kembali pada pekerjaan semula.

“Sudah biasa.” Jawab Fahri sudah beberapa kali datang ke sini, hanya untuk memamerkan mobil baru, dengan segala macam alasan mobil butuh servis atau ganti oli.

Di ambil ponsel dari dalam saku celana, “Kamu sudah sampai di mana?” membuka botol minuman dingin.

“Bentar lagi sampai, aku sekarang lagi naik taksi!” jelas seorang wanita mengarah ke bengkel sesuai perjanjian awal.

“Ya sudah. Aku tunggu, Beby!” memperjelas suaranya agar orang di sekitar bisa mendengar.

Hanya butuh empat menit taksi sudah sampai di depan bengkel. Keluarlah Wiyana Rosabella Larasati, wanita keturunan Sunda asli dari warna kulit, juga khas kecantikan miliknya. Hanya saja penampilan lebih menarik dari sebelumnya, mulai merawat wajah dan penampilan ketika berpacaran dengan Aziz lebih kaya daripada Fahri miskin baginya.

“Beby” ucap Bella menghampiri sambil memberikan pelukan sebentar, “Mobilnya kenapa lagi?” sudah tahu kalau datang hanya untuk pamer.

“Biasa.” Di lihat Fahri masih memperbaiki mobil milik Aziz, “Fahri. Mobil gue sudah selesai, lama banget!”

“Sudah.” Bersamaan melihat pemilik suara, betapa terkejutnya Fahri, mengetahui keberadaan Bella. Telah berjalan dengan Aziz menghampirinya, ada rasa kecewa tiap kali melihat mereka berdua.

“Kenapa enggak Devan saja yang perbaiki mobil kamu, kenapa harus dia?” protes Bella merasa tidak ada sesuatu yang pernah dilalui bersama Fahri, memandang layaknya orang asing baru dipertemukan.

Namun Bella sedikit mengamati penampilan Fahri saat ini, bukan rambut gondrong terikat yang selama ini dikenalnya, wajah terlihat kusam dan penampilan berantakan. Kini Fahri telah merubah fisik lebih menarik, dengan potongan rambut pendek rapi, wajah lebih terlihat segar dan jam tangan sekilas menghentikan pandangan Bella sejenak.

Tapi Bella berusaha terlihat biasa saja, meski dalam benak bertanya kenapa tidak sejak dulu Fahri berpenampilan seperti ini. Sayangnya perasaan itu telah hilang, sejak hadirnya Aziz mengisi hari-harinya.

“Devan lagi ada kerjaan urus mobil orang. Tuh.....” menunjuk pada mobil yang sedang berantakan di sekitarnya, meski berusaha tegar hati tetap menahan sakit.

“Ada Bella ternyata!” ucap Devan saat mengambil kunci di dekatnya.

“Iyalah, gue sama Aziz mau jalan-jalan, memangnya elo setiap hari kerja terus. Enggak bosan apa, sesekali jalan-jalan biar pikiran semakin segar biar cepat sadar sama kenyataan.....” ucapan itu sebenarnya difokuskan pada Fahri, hanya saja menggunakan nama Devan untuk pengganti.

“Percaya kalau sekarang sudah dapat pacar kaya, enggak usah sombong, pamer. Sana bayar ke kasir, keburu hujan bengkel ini gara-gara omongan elo....” jawab Devan memang merasa tidak suka sejak tahu Fahri ditinggalkan gara-gara tidak kaya.

“Emang kita berdua mau pergi, di sini panas!” ucapnya ketus, “Beby, kita pergi sekarang. Malas, cari masalah sama mereka!” tambah Bella menggandeng lengan Aziz mengikuti ke kasir.

“Pedas banget itu mulut mantan elo. Gue enggak nyangka elo bisa bertahan lama sama dia, kalau gue mending cari yang lain” lontar Devan merapikan peralatan tidak digunakan lagi.

“Namanya juga cinta, kayak elo enggak pernah saja.” tutur Fahri lupa kalau dirinya sudah mengaku memiliki hubungan dengan wanita lain.

Hampir saja mulut melontarkan kejujuran, tentang hubungan kesepakatan. Dan hampir saja, ada sedikit kebingungan entah itu apa, yang jelas Fahri juga kurang tau.

“Sara?” Devan memastikan kalau sahabatnya tidak memainkan perasaan wanita hanya karena sakit hati oleh Bella.

Tercengang menyadari bahwa ucapan itu harus disimpan, “Itu dulu. Sekarang gue sudah punya Sara” elak Fahri.

“Mulut sama hati enggak sama. Gue tahu elo masih suka sama Bella, elo cemburu kalau lihat Bella sama Aziz jalan berdua, enggak usah bohong sama gue!”

“Elo bener, Van. Gue masih belum bisa terima kalau Bella pilih Aziz, kenangan dulu sama Bella benar-benar enggak bisa pergi dari pikiran gue. Gue masih cinta sama Bella!” papar Fahri dengan kalimat kejujuran, seraya berjalan menjauh ketika seseorang datang menghampiri.

“Ikhlas. Elo sudah punya penggantinya, gue harap ini bisa buat elo move on dari Bella.” Ucap Devan tidak lagi melanjutkan obrolan itu.

***

Perusahaan. Suara dering ponsel membuat getaran pelan pada meja kerja, sengaja dibiarkan sejak tadi. “Siapa?” tanya Zahra melihat layar menampilkan angka.

“Enggak tahu.” Masih fokus mencatat jadwal meeting.

“Gue angkat ya?” hanya anggukan diberikan oleh Sara.

Diambilnya ponsel berwarna hitam tergeletak dekat komputer, “Halo, ini siapa ya?”

“Ini siapa, Sara ke mana?” malah balik bertanya.

“Gue Zahra sahabat Sara, elo sendiri?”

“Kevin.”

“Kevin.....” kata Zahra pada Sara yang sebelumnya tidak peduli, tapi mendengar itu dari Kevin segera disahut ponsel dari tangan Zahra.

“Ada apa?”

“what are you doing?” Tanyanya dari ujung panggilan.

“Kerja.” Sembari menekan keyboard.

“I’m disturbing your work huh?”

“Not really, what did you call me for?”

 “No, I just miss you!”


lianasari993
lianasari993 lianasari993 merupakan nama pena, kerap kali di panggil Lian. Lahir dan Besar di Jawa Timur. Membaca bagian dari hobi yang tidak bisa ditinggal hingga memutuskan untuk menulis sampai sekarang.

Post a Comment for "Membawa Luka Kembali, Di Antara Kontrak & Rindu. Episode 20, Novel Romantis "