PDKT Katanya, Di Antara Kontrak & Rindu. Episode 23, Novel Romantis
Novel Merayu Semesta Terbaru
“Lalu?” Memegang tangan Sara dengan lembut bagai meyakinkan untuk mau menikah dengannya.
“Sejak pertama kali melihat kamu.... ada rasa berbeda. Sebelumnya aku enggak pernah ngerasa gini, tapi pas lihat kamu, aku yakin..... kamulah yang selama ini aku cari. Aku harap kamu mau terima perjodohan kita, itu juga demi kebaikan bersama.”
“Waw, belajar kata-kata dari mana? Tapi sayangnya aku enggak bisa terbujuk rayuan, kamu salah orang!” ucap Sara telah muak dengan kata-kata yang dulu sering didengar.
“Itu bukan rayuan, tapi rasa sayangbeberapa hari lalu, sekarang, dan aku harap sampai nanti!”
“Oh, so sweet.” Sara hanya tersenyum tipis mendengar penjelasan tentang itu.
“Sara!”
“Apa?”
“We didn’t get married right away, but got engaged first! Because I have to take care of the company before positively living in Indonesia. What do you think?”
“Lihat nantilah.” Berjalan meninggalkannya masih terdiam menunggu jawaban.
“Sara!” sedikit berlari menghampiri, “Mau ke mana?” tidak ada jawaban.
Terbentang luas rerumputan liar tanpa tepi, perlahan mulai meninggi seiring waktu terus berganti. Pepohonan telah tumbuh meninggi, bersama dedaunan hijau terus terkagumi, bagai peneduh alami.
Kini alam terasa begitu dekat... Menjamu panorama akan indahnya semesta, ini baru segelintir dari sekian banyak alam yang masih terjaga.
***
Biarkan alam terus terjaga, sebagai cara untuk bercerita, tentang kisah yang pernah terjadi dan akan selalu teringat dalam memori.
Hawa dingin mulai terasa sepanjang perjalanan, rasa lelah kan terbayar dengan seduhan hijau pemandangan. Begitu bersyukur, tidak akan pernah terlupakan sampai kapan pun.
Bagaimana tidak! Telah lama sorot mata tidak lagi nampak pemandangan sejuk. Panorama alam semesta, akan menjadi rasa puas dan terus menerus menjadi alasan dihampiri. Di mana tempat ingin bertemu kala mentari mulai terbit, akan tercipta seperti apa indahnya saat itu.
Rasa sunyi yang kini tengah terasakan, meski samar-samar celoteh manja burung beterbangan tanpa arah persinggahan. Lihatlah di atas langit menciptakan bagai formasi alami setiap hari tanpa henti, bebas itu yang tengah dirasakan.
Mengarungi lautan awan putih bagai lukisan, biarkan manik-manik cantik mengagumi tanpa rasa letih, rasakan dengan amat dalam. Tenang! Itu bagian dari rasa yang sedang tersampaikan.
“Sara. Terima kasih, sudah ajak aku ke sini!”
“Iya.”
Di pinggir jalan terdapat sebuah tempat makan, berhentilah sejenak mobil untuk melepas penat dan menghilang rasa lapar. Jarum jam terus berputar untuk mengganti waktu, di mana semua proses berjalan atas kehendak Tuhan, begitu juga cinta penuh kata mistis asmaraloka.
***
Gemercik air telah terhenti menetes dari shower, diambil handuk pada gantungan belakang pintu berwarna putih, juga handuk khusus pengering rambut. Meski tidak ada riasan pada wajah, Sara tetap memancar kecantikan yang jarang disadari, lihatlah pantulan dari kaca kamar mandi. Sejenak pakaian rumah telah dikenakan, merebahkan tubuh dirasa itu penting usai bekerja.
“Sara!” panggil mama Ela dari bawah, usai terdengar sebuah mobil memasuki garasi depan.
Kini tamu itu telah menunggu di ruang tamu.
Terdengar suara langkah kaki menuruni tangga menuju sumber suara memanggil, “Iya, Ma?” pandangan beralih pada Kevin telah siap dengan pakaian formal setiap hari dikenakan.
“Kevin mau ajak kamu makan berdua, sekarang ganti baju!” kata Mama merasa senang didatangi calon menantu.
“Tapi, Ma!” berusaha menolak ajakan untuk keluar dengannya, apalagi ingin rasanya segera tidur usai bekerja. Jika begini kenapa tadi berencana pulang harusnya tetap tinggal di apartemen saja, apa boleh buat sudah terjadi juga.
“Kasihan Kevin menyempatkan waktunya cuma buat makan berdua sama kamu, jangan mengecewakan. Lagi pula ini bagus buat kalian berdua untuk ke depannya, salah satunya sering menyempatkan waktu jalan berdua seperti ini, Sara kamu jangan sampai bikin Kevin kecewa!”
Kenapa malah Kevin, bukannya Sara anak kandungnya? Apa tidak mengecewakan jika harus berjalan berdua tanpa ada keinginan dari Sara, ini justru akan mengecewakan untuk selanjutnya. Tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan Mama, hingga bersih keras meminta agar Sara bisa menerima Kevin menjadi pasangannya.
“Cepat ganti baju sana!” tatapan mata melotot memberikan arahan segera pergi ke kamar, sebegitu menarik Kevin bagi mama dan papa, sampai meminta ikuti kemauan apa yang telah ditetapkan. Ini bukan soal perusahaan, tapi perasaan yang tidak bisa dipaksakan.
***
Dua puluh menit kemudian. Entah apa saja yang telah mereka bicarakan hingga terdengar tawa, sengaja mengulur-ulur waktu agar Kevin jengkel menunggu lama, tapi itu malah membuat dirinya semakin nyaman di rumah.
“Ma, aku berangkat!” berjalan mendahului keluar rumah, tanpa menunggu dibukakan Sara sudah masuk ke dalam mobil milik Kevin dengan wajah jutek.
Hembusan nafas panjang melihat putrinya bersikap kurang sopan, “Kamu sabar ya menghadapi Sara. Semoga nantinya dia bisa berubah, hanya saja masih butuh waktu untuk itu!”
“Iya, Tante. Saya akan berusaha sabar, perhatian dan membuat Sara bisa mencintai saya. Kalau begitu kami pamit!” diambil kunci mobil dari saku jas sebelah kanan, berjalan memasuki mobil hingga menjauh dari rumah.
“Sara?”
“Apa?...”
“Gimana besok kita jalan lagi!”
“What?....” ucap Sara lantang.
“Iya, terserah kamu mau jalan ke mana saja. Pasti orang tua kita setuju, aku ingin lebih mengenal banyak tentang kamu!”
“Bukannya ini sudah cukup buat kamu kenal siapa aku. Kamu tahu kan, aku enggak suka dijodohin. Aku anggap kamu enggak lebih dari anak sahabat Papa. Jadi kamu jangan terlalu berharap lebih dari itu, sejak awal aku sudah tolak,. Mending kamu cari cewek lain!”
“Kenapa?”
“Aku enggak mau menikah sama orang yang enggak aku cintai, yang menjalani kehidupan pernikahan aku bukan orang tuaku. Kurang jelas alasannya?”


Post a Comment for "PDKT Katanya, Di Antara Kontrak & Rindu. Episode 23, Novel Romantis "