Pertunangan, Di Antara Kontrak & Rindu. Episode 16, Novel Romantis
Di Antara Kontrak & Rindu
Satu persatu dress mulai di coba, sambil memerhatikan kaca di depan ruang ganti. Hingga ada satu mini lacedress tanpa lengan berhasil membuat Sara memilih untuk mengenakan itu, warna sesuai tema, terlihat begitu indah pada tubuh Sara.
Lalu mengarah menuju tempat rias wajah, berdekatan dengan perhiasan mewah dijual pada satu tempat yang sama. Salah satu brand makeup asal Indonesia tertata rapi pada lemari kaca di sudut ruangan, satu persatu mulai merubah wajah Sara untuk mempertajam kecantikan.
Ini memang memerlukan waktu cukup lama, namun hasil tidak perlu diragukan lagi. Di kenakan sebuah liontin berlian putih satu paket dengan anting yang dibawanya dari apartemen. Semakin cantik penataan rambut terurai rapi, menambah kesan berbeda dari penampilan biasanya yang formal.
Sara berjalan keluar menghampiri Fahri di sofa dekat pintu keluar, “Sekarang setir mobilnya!” memberikan kunci mobil sambil berjalan keluar mendahului.
Tanpa ada jawaban Fahri hanya mengikuti apa yang dikatakan, pandangan tetap memerhatikan Sara ketika datang menghampiri, tidak pernah menyangka bisa menemukan wanita secantik ini. Tapi wanita itu kini telah ada di dekatnya.
“Cepat!” teriak Sara menghapus lamunan.
Mendengar itu membuat Fahri tersadar bahwa Sara sudah berjalan mendahului, “Iya, teh!”
“Jangan panggil saya Teteh.” mobil berjalan menuju hotel, di mana banyak kejutan tidak terduga akan terjadi.
“Panggil nama saja. Kalau ngomong pakai aku, kamu. Mudahkan?” tambah Sara bersikap tegas, kembali memalingkan pandangan.
Kebisingan terus terdengar dari luar mobil, tanpa ada henti kendaraan berjalan satu arah, melewati beberapa bangunan dan jalanan terkenal di Kota Bandung Jawa Barat. Awalnya langit masih biru dengan hiasan awan putih, tapi sekarang telah berubah biru pekat tanda malam telah datang.
Pandangan Sara beralih pada pergelangan tangan kiri yang kosong, diambil sebuah kota kecil berwarna hitam, di bangku bagian belakang dekat kotak sepatu baru dibeli. Lalu memasang jam tangan tersebut pada pergelangan milik Fahri, Fahri hanya melihat jam tangan sekilas untuk menanyakan pada Sara.
“Pakai saja.”
“Iya, setelah selesai aku kembalikan!” kata Fahri tersenyum menatap wajah Sara tidak menampakkan ekspresi seperti tadi, melainkan lebih santai dan tenang.
“Enggak perlu, pakai saja.”
Kata Sara menatap sejenak, sebelum melihat arah luar mobil. Namun suasana kala ini terasa berbeda dari hari sebelumnya, cukup aneh ketika mendapati mobil yang selalu dikendarai sendiri, sekarang ada orang lain yang memegangnya.
Bingung, itu yang sekarang berada dalam benak, sedikit aneh tetapi nampan biasa. Sorot netra seakan enggan berpaling arah, hanya menatap kegaduhan orang berkendara, saling melajukan kendaraan.
Bising, memang gambaran sekitar. Dedaunan tampak ada yang gugur menyisakan tangkai kecil penuh kehampaan, atau merelakan kepergian atas takdir semesta untuk mendatangkan yang baru!
Beralih pada kancing jas hitam masih tetap terkunci, Sara yang melihat hal tersebut langsung menegur Fahri, “Pernah pakai jas sebelumnya? Harusnya kalau mau duduk kancing itu di buka, kalau berdiri kancing ditutup, itu cara penggunaan jas yang benar. Utamakan kerapian setiap saat!”
***
Mendengar paparan dari Sara, Fahri melepas kancing menggunakan tangan kirinya. Di sebuah bangunan besar menghentikan tamu mengendarai mobil lagi, pasalnya sudah ada petugas yang siap menggantikan peran untuk membawa ke area parkir melalui jalur sebelah kiri, memasuki terowongan bawah.
Suara pintu mobil terbuka, sambutan hangat diberikan oleh petugas. Tanpa ada aba-aba Fahri telah siap menjadi peran dalam menjalani misi pertama dalam hidupnya, kancing kemeja telah tertutup kembali sejak keluar mobil.
Uluran tangan telah dibalas Sara, keduanya tampak seperti sepasang kekasih. Ada beberapa petugas mengarahkan lokasi pelaksanaan acara pertunangan, masih berada pada lantai pertama, pemilihan kolam renang dan taman sangatlah tepat.
Mata tersentak melihat ada bunga mawar putih di beberapa tempat, terutama bunga yang sebelumnya telah ditata rapi karena pesanan, apa benar Disty dan Riko yang telah memesannya? Lalu mengapa memilih toko bunga milik Sara, apa mereka tahu itu milik Sara dan sengaja membeli di sana?
Bibir tersenyum mengetahui ada Disty berjalan mengarah padanya, menggunakan dress berbuka pada bagian dada atas dengan pemilihan bawahan midi. “Hai Sara. Gue pikir elo enggak jadi datang, gimana kabarnya?” ucap Disty cipika-cipiki.
“Gue pasti datang. Kabar gue baik, elo makin cantik ya sekarang!” kata Sara terlihat ramah, “Ngomong-ngomong acara pertunangan sudah dimulai?”
“Belum. Gue pikir elo bakal datang sendiri, apalagi ingat masa lalu kita....”
“Gue sudah lupain masa lalu itu....” jawab Sara berbohong, mana bisa melupakan kejadian menyakitkan, antara mereka bertiga pada ruang kelas dulu.Tidak ada sedikitpun rasa bersalah telah berkhianat, Disty terlihat biasa saja.
“Ternyata pikiran gue salah tentang elo, apalagi soal selera cari pasangan, dari Riko sampai sekarang selera elo selalu ganteng” melihat wajah Fahri sesaat membuatnya terpukau.
Ditarik bahu Sara mendekat tubuh Fahri, jelas Sara kaget apa yang dilakukan olehnya, “Terima kasih.” Jawab Fahri tersenyum mendengar pujian akan ketampanannya.
“Oh iya, gue Disty sahabat Sara waktu SMA dulu!” dengan cepat Sara menjabat tangan Disty sebelum Fahri menerima uluran tangan darinya, jelas tampak wajah tidak suka dari Disty akan sikap Sara saat ini.
“Fahri.” Jawab Fahri memilih memegang tangan Sara dengan tangan kirinya. Seperti tahu larangan untuk berjabatan dengan Disty, hanya senyuman saja dirasa tepat untuk balasan.
Pelupuk netra mulai menampakkan dinding kaca oleh kehadiran laki-laki begitu dekat dalam jiwa, dan kini kehadirannya bisa dilihat secara nyata.
Dialah Fernando Riko Pratama, yang selama ini sangat menyiksa jiwa Sara dalam waktu lama, memberikan rasa trauma begitu dalam hingga sekarang.
Tatapan itu kembali mengingatkan kenangan yang dulu sering dilakukan bersama, di sebuah ruang kelas setiap kali istirahat dilewati dengan makan bekal bersama. Makanan yang sengaja disiapkan mama setiap hari, Sara meminta untuk makan dengannya, memang tidak akan bisa kenyang.
Tapi ini adalah sebuah momen penting yang tidak pernah terlupakan. Langkah kaki panjang miliknya, perlahan me
ndekat menampilkan senyuman khas selalu terindukan sepanjang waktu.


Post a Comment for "Pertunangan, Di Antara Kontrak & Rindu. Episode 16, Novel Romantis "