Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Rancabali Ciwidey, Di Antara Kontrak & Rindu. Episode 27, Novel Romantis

Novel Merayu Semesta Terbaru 



“Jam segini memang sepi, ibu kerja, adikku sekolah” malah memakan kripik singkong.

“Di makan sendiri, aku mau...”

“Aakk....” katanya menyuapi.

Menerima suapan darinya, “Fahri....” tertawa kecil.

***

Perkebunan teh Rancabali, Ciwidey, Bandung. Termasuk bagian wisata seperti Kawah Putih yang pernah dikunjungi dengan Kevin. Hanya saja perkebunan teh lebih jauh, dengan perjalanan tikungan naik-turun, meski belum masuk kawasan wisata Ciwidey. Jalanan hari ini tidak terlalu ramai, lalu lalang kendaraan masih terbilang normal, mungkin karena bukan hari libur.

Suara dering ponsel, terlihat nama Zahra terpampang jelas di layar ponsel. Aku mengangkat panggilan darinya, “Ada apa?”

“Elo hari ini enggak masuk kerja?”

“Enggak, tadi gue sudah ijin sama bokap”

“Emangnya elo ke mana?”

“Gue lagi jalan sama Fahri, tapi jangan bilang bokap soal ini, bilang saja elo enggak tahu gue pergi ke mana. Tolong ya.... Please!”

“Iya.” Katanya mengakhiri panggilan.

“Takut ketahuan?” tegur Fahri.

“Enggak. Cuma kalau Papa tahu perjodohan bakal dipercepat, tahu sendiri kan. Apalagi Kevin iya-iya saja”

“Terus alasannya tadi apa?”

“Bilang mau urus bunga di toko, lagian orang tuaku enggak bakal ke sana. Mereka sibuk kerja, jadi aman.”

Sejauh mata memandang, menatap hijau pepohonan sepanjang perjalanan. Udara sejuk terus terasa, angin sepoi-sepoi menerpa kaca yang masih tertutup rapat. Nyaman, bersama hati ikut serta merasakan ketenangan.

Langit terang benderang tampak cerah di atas sana, burung-burung terbang bebas hinggap pada pepohonan tinggi, bernyanyi merdu seirama. Entah berapa daun mulai berguguran sepanjang jalan, ikut terbawa ingin terbang tanpa batas.

Sara dan Fahri masih terdiam, sibuk dengan sendirinya. Namun Fahri masih sering mencuri pandang, lalu terfokus kembali melihat depan. Terus terulang.

***

Sebuah kisah cinta yang pernah terjalin, hingga kini masih belum usai, goresan luka lama telah tercipta. Sebagai sayatan tajam, ketika cinta memilih untuk bertahan bersama rasa sakit teramat dalam, masih tersiksa kenangan di dasar lubuk hati.

Kehadirannya bukan waktu yang tepat untuk sekarang ini, tapi mana bisa menolak takdir ketika itu. Dengan hati yang belum bisa melupakan, Fahri harus kembali terluka. Mungkinkah tamparan keras darinya akan merusak rasa cinta.

“Fahri. Ngapain kamu ke sini?” tegur Bella tetap bergandengan tangan dengan Aziz.

“Jalan-jalan” Hati terasa terbakar kembali, bagaimana bisa tetap kuat menghadapi luka, jika sampai detik ini cinta itu masih terpampang nyata.

“Jalan sendiri, aku kasihan banget sama kamu. Sampai sekarang belum bisa cari pacar.....”

“Masih cinta sama aku, tapi sayang aku lebih pilih Aziz daripada kamu....” sahut Bella membelai bahu Aziz dengan mesra.

“Mending kamu kerja saja, cari duit yang banyak, biar cewek mau sama kamu!” tambah Bella lagi.

“Menurutku itu sulit, Beby. Kamu tahu sendiri pekerjaan dia apa, terus harus bayar sekolah adiknya, bayar hutang. Mana sempat kumpulin uang, pasti sudah habis....” masih saja Bella merendahkan dengan seenaknya, tanpa peduli ucapannya didengar orang di tempat tersebut.

“Tega kamu ngomong kayak gitu.....”tegas Fahri tidak menyangka Bella begitu merendahkan dirinya.

“He, Fahri. Sekarang pikir, mana ada cewek yang mau diajak susah. Dulu aku pacaran sama kamu bukan karena cinta, aku cuma butuh status saja, pas ketemu Aziz aku milih putus dari kamu.”

“Sayang, mereka siapa?” menggandeng tangan Fahri dari belakang, kini Sara sudah melepas jas dan hak tinggi, itu sebabnya menyuruh Fahri duluan.

“Elo siapa ya? Ngapain pegang tangan....”

Fahri langsung menjawab, “Ini pacar baruku. Kata siapa aku belum punya pacar, kamu salah. Nyatanya sekarang aku sudah cari pengganti kamu!”

“Kenapa bisa?” Bella tidak percaya.

“Lebih cantik” ucap Aziz tercengang melihat Sara lebih cantik daripada pacarnya.

“Aziz” memukul bahu.

“Maaf” Matanya masih melihat, “Nama kamu siapa?” mengulurkan tangan.

“Oh, ini mantan kamu. Bagus sih kalau kalian putus” Sara menunjukkan bahwa dirinya bisa lebih dari Bella terutama soal penampilan, dengan begitu dirinya akan semakin panas dan memilih untuk segera pergi.

“Maksud elo apa?” sahut Bella sewot tidak terima dengan ucapan itu.

“Apa yang Fahri harapin dari cewek kayak elo, cantik kan juga gue... Iya enggak Aziz” hanya anggukan diberikan.

“Kita cabut yuk! Malas harus berhadapan sama cewek resek kayak dia.....” ajak Sara menggandeng Fahri mengarah ke tempat lain, tidak lupa memberikan lirikan tajam pada Bella.

Perkebunan teh Rancabali memang luas, hamparan hijau terbentang tertata rapi, bisa terhitung jari pengunjung yang datang. Itu sebabnya inilah waktu paling tepat agar tidak begitu ramai orang. Fahri mengajak menuju bagian atas menjauh dari Bella dan Aziz sedang berdebat entah apa, “Aku enggak nyangka kamu ngomong gitu!”

“Gimana rasanya bisa ketemu mantan, jengkel kan!”

“Iya. Tapi sekarang lumayan tenang, aku juga mulai bisa lupain dia. Makasih”

“Buat?”

“Kedatangan kamu buat aku belajar lupain Bella. Walaupun status kita.....mungkin saat ini ada baiknya aku bekerja dulu. Supaya bisa bayar hutang ke kamu, enggak enak lama-lama bayarnya!”

“Enggak usah, lagi pula aku bayar hutang itu supaya kamu bantu aku, buat acara pertunangan sekaligus pernikahan Riko sama Disty. Sekalian gagalin pertunanganku sama Kevin.”

Dengan cepat Fahri memegang kedua tangan Sara, apa yang sedang terjadi? Hanya diam yang bisa dilakukan Sara, detak jantung seketika berdebar kembali, ada apa dengan dirinya?

“Aku enggak bermaksud apa-apa. Sebenarnya aku ajak kamu jalan supaya Bella marah lihat kita berdua, aku tahu Bella sama Aziz bakal kesini dari Devan. Jadi aku punya ide buat panas-panasin dia......”

Ternyata ini alasan kenapa Fahri mengajak jalan-jalan, bukan ingin mengenal jauh tentang Sara, melainkan untuk membalas dendam luka yang diberi Bella. Sara kecewa, kenapa Fahri tega?

Dilepas genggaman tangan darinya, “Fahri, aku minta tolong”


lianasari993
lianasari993 lianasari993 merupakan nama pena, kerap kali di panggil Lian. Lahir dan Besar di Jawa Timur. Membaca bagian dari hobi yang tidak bisa ditinggal hingga memutuskan untuk menulis sampai sekarang.

Post a Comment for "Rancabali Ciwidey, Di Antara Kontrak & Rindu. Episode 27, Novel Romantis "