Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Rapuh, Di Antara Kontrak & Rindu. Episode 28, Novel Romantis

Novel Merayu Semesta Terbaru 



Menghela nafas, membiarkan udara mengisi rongga sesak pada relung jiwa, tentang pernyataan atau bahkan alasan mengajak jalan berdua, kini telah terjawab sudah. Sakit bukan, ketika tahu alasannya. Marah, sudah pasti. Diam, itu pilihan kini yang diambil Sara.

“Minta tolong apa?”

“Jangan terlalu beri harapan, hatiku mudah terluka” menyeka air tirta yang ingin menetes.

***

Kaki melangkah meninggalkan Fahri masih terdiam, segera berjalan menuju mobil. Sudah tidak ingin lagi menikmati pemandangan, karena hati terasa sakit saat tahu kejujuran terlontar dari mulutnya, kenapa tidak bilang sejak kemarin kalau datang ke sini hanya untuk melihat Bella.

Sungguh lelah jika harus terluka untuk kedua kalinya, padahal baru beberapa hari menemukan kenyamanan, sakit banget mengetahuinya.

“Kamu nangis?” tanya Fahri masuk ke dalam mobil.

“Enggak, cuma kelilipan saja” menyeka air mata yang tidak seberapa menetes.

“Beneran. Kamu kenapa jadi gini?” tanya Fahri tahu kalau Sara usai menangis, karena kulit putih miliknya akan tampak merah jika hanya menetes air mata sedikit.

“Enggak.” Dengan nada cuek memalingkan pandangan ke sebelah kiri.

“Sara, kamu marah, marah sama siapa?” membenarkan posisi memandang keberadaan Sara lebih nyaman.

Fahri memegang tangan, “Sara, kamu kenapa? Bilang, jangan diam saja!”

“Aku mau pulang” melepas genggaman tangannya.

Lihatlah seberapa besar torehan luka telah berikan tanpa disadari, seberapa banyak air mata berusaha tertumpah tanpa ragu. Jiwa sedang tercengkeram dalam ketidakpastian, bersama angin terus menghembus tanpa keraguan.

Terkadang memilih untuk menyembunyikan air mata malah jauh lebih menyakitkan, kiranya datang hanya sekedar berlabuh, akan dilepas pasrah kepergian dengan derai air mata semu.

***

Apartemen, tempat yang kini sedang terbutuhkan untuk menenangkan perasaan. Terdengar suara pintu terbuka-tertutup bersama langkah kaki menghampiri, elo kenapa?

Menyeka air mata, “Fahri.....Fahri, Ra. Dia ajak gue jalan cuma buat panas-panasin mantannya, siapa yang enggak marah coba. Gue tahu, kalau gue dekat sama dia cuma sebatas perjanjian, tapi gue mulai nyaman sama dia....”

“Perjanjian? Perjanjian apa di antara kalian berdua?”

“Gue bakal cerita semuanya, tapi gue mohon jangan bilang sama siapa-siapa terutama orang tua gue.... please!”

“Oke, sekarang elo ceritain semuanya!”

“Sebenarnya gue sama Fahri enggak pacaran..”

“Apa?” Zahra kaget dengan penjelasan, lebih mendekatkan untuk mendengarkan semua cerita yang membuatnya tidak menyangka sahabat bisa melakukan ini.

“Waktu itu gue bingung mau cari pasangan buat acara pertunangan Riko, bersamaan mobil gue mogok di pinggir jalan......” Diceritakan semua kejadian yang pernah dilalui saat awal bertemu Fahri, Zahra hanya mendengar.

“Bodohnya gue bisa ngerasa nyaman sama dia. Fahri jahat, manfaatin gue biar mantannya cemburu. Padahal sejak awal dia ajak jalan, gue senang banget. Giliran sampai di sana malah bikin gue nangis.....”

Zahra memeluk, “Nasib elo gini amat ya!”

“Elo kok gitu. Baru juga mau dekat sudah sakit hati, padahal gue berharap dia enggak kayak Riko.... Ternyata semua laki-laki sama saja!”

“Dia tahu, elo ada rasa sama dia?”

“Enggak. Padahal sering banget kasih perhatian ke gue, terus maksud dari perhatiannya apa?” melempar tidur tanpa arah.

“Elo sudah terbawa perasaan sama dia. Mending elo jauhi Fahri, daripada makin sakit hati!” nasehat Zahra ikut sedih.

“Enggak bisa, gue enggak mau dijodohin sama Kevin. Cuma dia yang bisa bantu gue sekarang!”

“Bukannya gue enggak setuju elo dekat sama Fahri. Tahu sendiri dulu elo sakit hati gara-gara cowok kayak gimana, sulit banget kan buat move on. Tiap hari nangis, murung. Gue enggak mau elo sakit hati lagi!”

***

Kini sinar mentari telah berada di atas, hanya melamun sejak tadi berangkat bekerja. Zahra yang melihat merasa kasihan jika terus-menerus Sara begitu, apalagi sejak semalam belum juga makan. Inilah situasi paling ditakutkan, setiap kali terluka karena cinta. Pandangan terlihat menyedihkan hingga pekerjaan tidak lagi terhiraukan.

“Dari semalam elo belum makan, elo bisa sakit kalau terus-terusan gini. Jangan terlalu menyiksa diri, gue tahu.....”

“Ra....” memotong ucapan, “Enggak enak ya jadi cewek, kalau suka sama seseorang harus tunggu, dia ngomong. Gue enggak tahu harus ngapain lagi!...”

“Sabar ya, gue tahu perasaan elo sekarang, gue juga pernah ada diposisi elo. Waktu itu gue milih nyerah, daripada berhadap sesuatu yang enggak pasti, sakit banget. Makanya gue sering bilang supaya elo enggak terlalu berharap lebih, gue enggak mau elo ngerasain kecewa kayak gue....” memeluk sahabatnya.

***

Bengkel kembali sepi saat memasuki jam istirahat, Devan menghampiri Fahri tengah duduk di kursi kantin, tidak biasanya melihat sahabat kecilnya ini kurang fokus dalam bekerja. Padahal sejak putus dari Bella masih giat bekerja, kali ini berbeda.

“Ada masalah?” tegur Devan meletakkan nasi uduk baru saja beli di warung sebelah, mata memerhatikan secara detail wajah Fahri yang penuh pikiran, bahkan nasi uduk tidak langsung dimakan.

“Gue ngerasa bersalah sama Sara, soal kejadian kemarin. Harusnya gue ajak dia jalan, bukan buat Bella cemburu, tapi karena gue pengen lebih dekat sama dia.”

“Elo permainin perasaan Sara, keterlaluan banget elo? Gue enggak nyangka gara-gara putus dari Bella elo jadi jahat sama cewek.....” Devan merasa kecewa, kenapa bisa Fahri begitu tega permainan perasaan, bukannya selama ini Fahri pernah merasakan hal yang sama.

“Enggak gitu, Van. Gue...... Gue bingung sama diri gue sendiri” baru kali ini Fahri tidak bisa memahami apa yang sedang terjadi pada dirinya sendiri, Fahri sadar telah membuat Sara marah dengan kejadian kemarin, bahkan telepon darinya belum juga kunjung diangkat.

“Sebenarnya elo suka enggak sama dia? Jelasin semuanya, kalau elo sudah salah buat dia kecewa. Jangan sampai nyesel!”

“Elo bener, Van. Harusnya gue bilang soal perasaan gue, sejak dekat sama dia, perasaan buat Bella sudah enggak ada lagi di hati gue......” berhenti sejenak, “Tapi gue harus sadar diri, dia anak orang kaya, bahkan dia sendiri juga kaya. Apalah daya gue baginya.....”

“Lebih baik ngomong dulu sama Sara, apapun jawabannya urusan belakangan. Daripada diam malah bikin ribet, temui dia ngomong terus terang. Gue tahu pasti bakal kecewa lihat elo datang, yang penting sudah usaha!” nasehat bijak tiba-tiba datang, dalam masalah seperti ini otak Devan akan banyak berpikir dari biasanya.

“Elo benar, Makasih!”

***


lianasari993
lianasari993 lianasari993 merupakan nama pena, kerap kali di panggil Lian. Lahir dan Besar di Jawa Timur. Membaca bagian dari hobi yang tidak bisa ditinggal hingga memutuskan untuk menulis sampai sekarang.

Post a Comment for "Rapuh, Di Antara Kontrak & Rindu. Episode 28, Novel Romantis "