Rencana Waktu, Di Antara Kontrak & Rindu. Episode 15, Novel Romantis
Novel Merayu Semesta Terbaru
Mentari sudah tidak lagi terasa panas, membiarkan jendela kamar apartemen tetap tertutup sejak semalam, apalagi hari ini kantor sedang libur dan toko bunga tidak begitu banyak pembeli. Itu sebabnya Sara memilih menghabiskan waktu di apartemen sendiri, daripada harus pulang ke rumah, mengingat nanti akan datang ke acara pertunangan.
Mengusung tema putih menjadi andalan untuk ruangan berukuran sedang, terdapat dua meja kecil mengapit tempat tidur, sedangkan karpet lebih menarik menggunakan warna hitam dan abu-abu. Di atas tempat tidur terdapat lukisan bunga mawar putih berukuran 40cm × 60cm.
Pada pojok kiri ada lemari putih tinggi, dengan cermin cukup lebar, untuk menambah kesan luas pada ruangan. Berbeda pada sisi kanan, terdapat jendela besar mengarah pada jalanan kota Bandung. Sangat bagus pemandangan saat malam hari oleh lampu-lampu.
Televisi dan meja kerja berada pada dinding yang sama, di mana bisa sambil rebahan menyaksikan tayangan. Di atas meja kerja terdapat buku-buku penulis terkenal, mulai dari motivasi hingga beberapa cara mengurus perusahaan. Di dalam lemari kaca bawah televisi, terdapat biola beberapa hari lalu usai digunakan, namun lupa dikembalikan pada tempat semula.
Diambil ponsel berwarna hitam di dekat meja samping kiri tempat tidur, teringat untuk segera menghubungi montir yang telah berhutang padanya, “Ada di mana?”
“Di bengkel, teh. Ada apa ya?” tanya montir dari ujung panggilan.
“Bentar lagi gue jemput, share loc!” tanpa menunggu jawaban sudah mengakhiri panggilan begitu saja.
Acara belum di mulai sekarang, hanya saja wajib untuk mempersiapkan penampilan lebih dulu, agar bisa menunjukkan bahwa kini .Sara telah berubah, dari penampilan yang dulu kerap kali direndahkan. Di ambil kunci mobil berada di meja yang sama, tidak lupa membawa tas dari dalam lemari.
Langkah kaki melewati lorong apartemen menuju lift, melihat sekeliling selalu tampak sepi setiap saat, hanya ada beberapa suara dari dalam kamar milik orang. Sambil berjalan memainkan ponsel, untuk mengirim pesan pada seseorang yang akan segera di temui. Terus melangkah tanpa memedulikan sekitar apartemen, yang perlahan mulai ramai di lantai bawah.
Tanpa menunggu waktu lama, diinjak pedal gas mengarah pada lokasi yang sebelumnya telah diberikan lewat chat singkat. Dalam perjalanan, memang membutuhkan waktu cukup lama dari apartemen Sara, tapi lebih dekat dari perusahaan tempatnya bekerja.
***
Hingga sampai di sebuah bengkel cukup besar dan selalu ramai setiap saat, datanglah seorang laki-laki menghampiri mobil milik Sara. Hanya diberikan kode ringan, laki-laki tersebut langsung menuruti tanpa ada ucapan darinya.
Mobil kembali berjalan, “elo cuma perlu ikuti apa yang gue suruh. Nama, pekerjaan, status?”
“Nama saya Dayyan Fahri Dipta Abimata, biasa di Panggil Fahri. Pekerjaan sebagai montir dan penjaga kafe tiap malam, status masih sendiri. Nama teteh siapa?”
“Sara Nastasya Savina, panggil Sara.” Melihat sekilas, sosok yang kini telah menjadi jaminan uang yang telah diberikan sebelumnya. Montir itu mulai sekarang, harus mengikuti apa saja yang dikatakan Sara hingga utangnya lunas.
Bandung terkenal dengan kota sejuk, namun soal kemacetan sama saja seperti kota yang lain, apalagi pada jam tertentu, hingga membuat kendaraan sulit bergerak. Udara sejuk masih terasa, dedaunan kering mulai gugur terkena embusan angin, hijau pepohonan dan tanaman menghiasi jalanan.
Mobil berlalu menuju butik langganan, di mana Sara kerap kali datang, jika terjadi sesuatu yang sangat penting soal penampilan. Kini sudah waktunya untuk datang ke sana, setelah beberapa minggu yang lalu datang, hanya untuk perawatan kecantikan.
Hanya keheningan sebagai gambaran akan situasi ada dalam mobil, tidak ada kata yang terucap, untuk mencairkan suasana agar lebih hangat dan tidak menegangkan. Fahri masih merasa bingung sejak awal bertemu hingga dalam situasi ini, harusnya dulu menolak pinjaman uang, namun karna banyak beban membuat Fahri tidak tahu harus melakukan apa.
Ini memang sulit baginya, terlebih harus berhadapan dengan Sara, apa boleh buat selain ikut perintah yang belum jelas. Hingga berhentilah di sebuah butik besar, cukup terkenal di Kota Bandung. Terlihat beberapa pajangan pada kaca depan, menunjukkan seberapa mahal harga pakaian di butik tersebut.
***
Sara berjalan menuju pintu masuk besar dengan kaca tinggi nan tebal, Fahri melangkah membuntuti dari belakang. Mata seketika takjub melihat deretan pakaian bagus dan mahal tertata rapi sesuai jenis, urutan dan harga.
“Selamat datang, Nona Sara. Kami telah menyiapkan keperluan yang telah anda inginkan, mari ikuti Saya!” ucap pelayan butik yang tadi telah dihubungi lebih dulu, langkahnya mengarah pada deretan pakaian laki-laki berada di bagian kiri.
Lalu mengambil beberapa pakaian agar dicoba Fahri, begitu juga Sara ikut memilihkan mana saja yang cocok digunakan. Tatapan mata mengamati penampilan mulai dari ujung rambut hingga kaki, jelas ini membuat Fahri merasa canggung dilihat begitu teliti.
Bagi Sara itu hal wajar untuk menentukan pakaian sesuai bentuk tubuh, wajah, usia dan potongan rambut. Dengan mempertimbangkan apakah pemilihan bisa tepat jika digunakan pada tubuh Fahri, apalagi potongan rambut kurang rapi dan wajah lumayan kusam.
“Setelah selesai ini, langsung perbaiki mulai dari rambut, wajah dan penampilan fisiknya!” kata Sara pada pelayan, supaya menunjukkan langsung di mana perawatan dan kelengkapan penampilan berada, pada satu tempat yang sama di dalam butik ini.
“Mari ikuti saya!” mengarahkan pada ruang ganti, sedangkan Sara berjalan menuju sofa tunggu dekat ruang ganti tersebut.
Hati Sara merasa senang tersendiri, karna ini sudah waktunya untuk menunjukkan bahwa dirinya bisa membuat penyesalan pada Disty dan Riko, atas apa yang telah mereka lakukan dulu. Bukan ingin menunjukkan kesombongan, tapi memperlihatkan kalau anggapan mereka salah tentang siapa Sara sekarang.
Dengan arahan dari pelayan butik setelan pertama telah dikenakan, namun model kancing banyak, malah berkesan kurang cocok digunakan dalam acara pertunangan. Sara menyuruh untuk mengganti dengan setelan jas lain. Untuk setelan jas kedua cukup panjang pada lengan, disuruh kembali berganti.
Sedangkan setelan ketiga sama sekali kurang tepat digunakannya, berganti lagi hingga setelan keenam sesuai dengan tubuh Fahri. Berwarna hitam pada jas dan celana, sedangkan dalaman menggunakan jas putih tanpa mengenakan aksen tambahan pada leher.
Diamati kembali penampilan selalu menuju tahap selanjutnya, karena Sara menyerahkan untuk merubah segalanya, dari fisik lebih menarik dari sebelumnya.
“Saya suka yang ini.”
Pelayan butik mengarahkan Fahri pada ruangan pangkas rambut dan perawatan wajah, berbeda dengan Sara memilih untuk mencari dress yang akan dikenakan. Diambil beberapa dress pilihannya ditemani pelayan yang sama, karena setiap pelayan di butik memiliki tugas masing-masing.


Post a Comment for "Rencana Waktu, Di Antara Kontrak & Rindu. Episode 15, Novel Romantis "