Sesuai Yang Baru, Di Antara Kontrak & Rindu. Episode 19, Novel Romantis
Novel Merayu Semesta Terbaru
Diambil kotak p3k berada di laci dekat meja barista, kotak berukuran kecil 20cm × 15cm, jelas isinya hanya untuk pertolongan luka kecil. Meletakkan di meja depan Sara sambil memberikan senyuman, beralih pada sebuah wajan, untuk menggoreng bumbu lebih dulu. Lalu menyiapkan beberapa bahan untuk nasi goreng.
Perlahan kapas putih menempelkan pada bekas memar di wajah Fahri, sebenarnya ingin memberikan rasa sakit, tapi ditahan agar tidak terlihat lemah depan Sara. Apalagi ada beberapa laki-laki yang tadinya sibuk ngobrol terus, melihat Sara dari tempat duduk masing-masing.
“Kalau sakit bilang, enggak usah gengsi” membisik sambil mendekatkan diri pada wajah Fahri.
“Enggak.” Tolak Fahri melihat dekat bola mata Sara berwarna coklat, berbeda dengan miliknya hitam.
“Siapa yang mulai berantem tadi? Baru juga ditinggal sebentar, apa yang kalian omongin,sampai bikin aku malu?” geram melihat kejadian tadi, apalagi kerap kali melihat perkelahian tanpa ada penyelesaian secara baik-baik.
“Dia yang mulai duluan, emosilah.....” jelas Fahri hanya menunjukkan pelaku bukan detail penyebab sebenarnya.
Dipencet memar pada pelipis mata dengan kapas, “Bikin jengkel saja.”
Fahri teriak sakit, apalagi pukulan terakhir mengenai mata kiri miliknya malah sekarang dipencet. Rasanya bukan main, sudah pasti sakit. “Aw.... Sengaja ya? Sini biar aku obati sendiri!” menyahut kapas dari tadi Sara.
Mata Sara menampilkan bekas menangis sewaktu di mobil. Membuat Fahri melihat wajahnya, tetap rapi tanpa ada makeup berantakan, apalagi rambut tetap rapi terurai.
“Cuci muka dulu, biar bekas nangisnya hilang, setelah ini makan!” kata Fahri membuang bekas kapas pada tempat sampah di sisi pojok meja.
Diambil ponsel dari dalam tas untuk melihat wajahnya dari layar, tanpa ada jawaban Sara meletakkan ponsel di meja dan berjalan menuju kamar mandi melalui pintu di belakang tersebut.
“Elo apain dia sampai nangis? Muka elo juga bonyok , apa kalian berdua habis berantem?” tanya Devan usai mengerjakan pesanan, di ambil kursi di samping kompor.
“Ada masalah dikit sama orang lain, dia enggak ada hubungannya.” Menyodorkan tempat p3k agar dikembalikan pada tempat semula.
“Elo enggak ngelakuin macam-macam kan? Jangan gara-gara habis patah hati jadi stres, konslet otak elo.....” tebakannya kerap kali mengungkit masa itu.
“Enggaklah. Gue emang masih ada rasa sama Bella,tapi gue enggak stres kali....”
Devan tertawa terbahak-bahak mendengar tutur kata Fahri apa adanya, “Elo siap kapanpun ketemu sama Bella? Apalagi pas dia berduaan sama pacar barunya? Gue yakin elo pasti belum siap.....”
“Menurut elo. Gue sama Bella pacaran delapan tahun, elo pikir gampang move on.......” tidak lagi melanjutkan ucapan daripada semakin bersedih lagi.
Suara pintu terbuka-tertutup. “Dia cantik juga kalau enggak dandan!” bisik Devan pada Fahri.
Pandangan Fahri tercengang melihat wajah Sara tetap cantik, dipikir kecantikannya berasal dari makeup ternyata salah. Entah sejak kapan Fahri tertarik melihat deretan gigi kecil layaknya biji mentimun milik Sara.
“Kenapa?” tegur Sara duduk di tempat semula.
“Gigi kamu lucu!” jelas Fahri memberikan senyuman, “Itu asli?”
“Iyalah, dikira gigi palsu!” jawab Sara sewot sambil menarik sepiring nasi goreng mendekat padanya.
Terdengar suara salah satu band sangat terkenal di Indonesia, melalui lagi tentang cinta sering dibawakannya, membuat banyak pendengar semakin mencintai karya-karya band tersebut. Memiliki ciri khas unik dalam penggunaan nada, suara berbeda dari penyanyi lain.
Musik seperti ini memang cocok diputar di kafe, restoran dan lainnya. Terutama anak muda suka sekali, Bandung banyak melahirkan penyanyi terkenal, band terkenal hingga produk buatan khas Bandung selalu menjadi idaman.
“Kenalin gue Devan sahabatnya Fahri!”
“Sara, pacarnya Fahri”
Kepala Devan melengos pada Fahri, “Yakin dia pacar elo? Kok mau ya sama elo?......”
“Iyalah.” Jawab Fahri tidak menyangka Sara berkata begitu pada sahabatnya, tapi ada baiknya begitu daripada pusing dikatakan galau terus.
Terdengar gesekkan biola dari kumpulan remaja laki-laki di sudut kafe, mengingatkan sebuah lagu yang selalu dibawakan Sara, saat dulu sering menikmati udara siang dibawa pohon lapangan basket sekolah. Riko begitu kagum mendengar setiap gesekkan senar, selalu memberikan pujian atas kehebatan Sara bermain biola.
“Kamu semakin pandai bermain biola. Semoga lomba besok kamu bisa juara, aku bakal ada di dekat kamu setiap bermain biola, karena aku suka dengerinnya!” ucap Riko memberikan senyuman manis.
“Kamu enggak bohong?” Teringat ucapan itu setiap kali gesekkan biola terdengar, itu sebabnya sudah lama tidak memainkan lagi.
“Masa aku bohong sama pacarku sendiri” ucap Riko dengan nada gemas.
Memejamkan mata sejenak mengusir lamunan yang akan menetap, agar tetap bertahan dalam kenangan masa lalu dengan Riko. Sara beranjak dari tempat duduk, menghampiri remaja laki-laki yang sedang memainkan biola diiringi suara dari teman sebelahnya.
“Permisi, apa gue boleh pinjam biolanya bentar?” tegur Sara masih tetap bersikap formal dengan siapa saja.
“Boleh” jawabnya memberikan, kini biola telah berada di tangan Sara.
Di ambil earphone dari dalam tas, lalu memutar sebuah musik kesukaannya. Beberapa gesekan sebagai pemanasan hingga lagu termulai. Sara menggesek biola mengikuti lagu yang diputar. Membiarkan diri menenangkan pikiran dan hati agar tidak semakin berlarut dalam kesedihan.
Mengenai luka pilu yang barusan, teramat sakit bila digambarkan. Ingin sekali lagi untuk berucap, namun sanubari dengan gampang membungkam. Kalimat singkat terus terngiang dalam benak, ‘Siapa yang salah atas luka ini?’
Sara yang sejak awal berani mengambil keputusan, namun kini tampak tersiksa oleh luka hati. Harap setiap melodi biola dapat membawa luka itu beranjak, agar tidak semakin menyiksa diri.
Tapi hal seperti ini hanya akan bertahan sebentar hingga musik kembali terhenti, namun dengan cara inilah agar tidak meneteskan air mata. Semua pandangan terfokus pada Sara, melihat kehebatan bermain biola.
Namun, rasa sesak kian perlahan terkurangi oleh detik jarum jam pada ambang atas pintu. Membawa pergi, memutar waktu baru kembali. Tanpa sadar senyuman tipis nampak pada raut wajah Sara, tenang itu yang tengah dirasakan sekarang.
***


Post a Comment for "Sesuai Yang Baru, Di Antara Kontrak & Rindu. Episode 19, Novel Romantis "