Aku Haus Perhatian, Jangan Salahkan Aku Mencari di Orang Lain!
Aku mencari kebahagiaan dari orang lain, mungkin itu salah atau benar!
Cerpen - Sinar mentari telah membangunkan aku untuk segera beranjak pergi, bergegas menuju masa depan yang sering kali orang katakan. Lantas mengapa mereka begitu meyakini, seakan itu adalah jawaban dari pesan yang Tuhan ucapkan, lalu bagaimana dengan keberuntungan?
Walau ragu, aku akan tetap melanjutkan pendidikan apapun alasannya. Kadang memilih berangkat terlambat itu suatu keberuntungan, bukan takut hukuman. Jika boleh sejenak berkata kejujuran, aku sedang haus perhatian, karena selama ini aku tidak pernah merasakan.
Orang tua? Memang mereka masih ada, tetapi tidak ada sedikit waktu untuk bertegur-sapa. Sejak kecil sudah terbiasa sendiri hingga aku memilih untuk memutuskan sendirian, tolong jangan katakan aku anak yang nakal, bisa kan sedikit saja bertanya kabar. Bukan saling melihat seakan saling asing dalam satu atap yang sama, aku anak kalian. Bukan pajangan yang sengaja dipelihara.
“Arya....” emosi guru BK selalu menunggu siswa-siswi yang terlambat masuk sekolah, “Terlambat lagi? Cepat lari mengelilingi lapangan sepuluh kali...”
Apakah ini cara untuk dapat perhatian? Walau harus sering mendapatkan hukuman, aku memang telah lelah sejak awal, tetapi hanya bisa menyembunyikan dari balik tingkah laku kenalan remaja. Hingga sering kali guru-guru merasa lelah menasihati, maafkan murid satu ini yang sedang rindu tutur kata orang tua.
Berjalan aku usai berlari mengelilingi lapangan, sedikit ada rasa malu, tapi aku abaikan demi perhatian. Sungguh menyedihkan nasib hidup yang telah dijalani, seperti berandalan tanpa didikan. Di sekolah terhitung banyak poin tercatat rapi dengan susunan alasan yang sama, hingga kini belum juga dikeluarkan, mengapa?
“Arya!” lambaian tangan dari kejauhan, seperti tanda untuk segera menghampiri.
Sudah dapat dipastikan akan mendapatkan wejangan dengan sikap tegas penuh emosi, memperlihatkan penghakiman kalau semua itu memang salahku. Aku yang salah dan akan selalu kembali terulang?
Adakah yang mengalami hal yang sama? Haus perhatian orang tua, lalu mencari perhatian di luar sana. Melalui banyak kenakalan hanya untuk omelan, sungguh menyedihkan dalam mengukir sejarah kehidupan. Bolehkah istirahat sejenak, untuk merasakan kenikmatan dibalik alam mimpi, seraya berharap bisa mendapatkan mimpi tentang kehangatan keluarga.
“Sampai kapan kamu akan seperti ini?” tanya Pak Dayat duduk di depan Arya, bahkan pintu ruang BK sengaja tertutup rapat.
“Enggak capek dihukum terus hampir setiap hari, bikin ulah, sampai-sampai guru enggak ada yang mau mengajar. Dari awal masuk sekolah sampai sekarang sama sekali enggak ada perubahan, menjadi lebih baik lagi, kamu bisa dikeluarkan dari sekolah.” Tambah Pak Dayat hanya melihat wajah Arya tertunduk menyadari kesalahannya.
“Jawab, jangan diam saja, apa kamu enggak capek saya marahi terus?” pertamanya itu seketika membuat kepala Arya tidak lagi menunduk.
“Kalau dengan keterlambatan masuk sekolah, terus dihukum lari mengelilingi lapangan, selalu dimarahi hampir setiap hari. Saya bisa mendapatkan perhatian akan saya lakukan, pak!” penjelasan itu sontak menggerakkan hati seorang guru BK yang terkenal tegas dan suka emosi.
“Cuma di sekolah saya bisa mendapatkan perhatian, maaf jika selama ini bikin bapak marah-marah, tapi hanya ini yang bisa saya lakukan. Selama ini saya ingin seperti anak-anak yang lain, dapat perhatian dari orang tua, tapi saya enggak pernah mendapatkan itu, orang tua saya sibuk dengan kegiatannya sendiri.” Tanpa sadar sebening kristal menetes membasahi pipi, tidak kuasa lagi menahan luka yang selalu disembunyikan dari balik tawa.
“Bahkan enggak ada sedikitpun mereka mencoba untuk menegur, tapi di sekolah saya ngerasa lebih dianggap ada, daripada tinggal di rumah tapi terasa asing. Tolong pak, jangan keluarkan saya dari sekolah, saya masih haus perhatian dari bapak!”
“Kenapa kamu enggak bilang dari awal?” Pak Dayat mulai mengerti permasalahan yang sedang terjadi, mengenai kenakalan remaja.
“Saya malu” sejenak Arya menyeka air mata, “Di luar sana masih banyak yang seperti saya, setiap kenalan remaja punya alasan, tapi kami selalu diperlakukan dengan kasar. Dibentak, dihukum, seakan-akan kami seperti sampah yang enggak berguna.”
“Kami haus perhatian, berusaha kuat dengan cara pura-pura sampai terbiasa. Kadang sering merasa menyesal sudah melakukan itu semua, meski bakal diulangi lagi. Sekali lagi saya minta maaf pak!” setelah mengatakan itu semua terasa lega, bahwa apa yang dirasakan sudah disampaikan.
“Apa ini alasan kenapa setiap panggilan orang tua, kamu selalu menolak?”
“Iya pak. Percuma menyuruh datang, orang tua saya enggak bakal datang, tapi kalau urusan uang langsung cepat. Jadi enggak usah panggil orang tua saya lagi, masalah saya sering bikin ulang di sekolah.....” terhenti kembali Arya tidak mampu melanjutkan alasannya, begitu sangat menyakitkan untuk ditanggung sendiri sejak dulu.
“Sekarang kamu langsung masuk kelas, kalau ada masalah itu jangan dipendam sendiri, kamu bisa cerita ke orang yang bisa dipercaya!”
“Enggak ada siapapun yang saya percaya, yang ada malah adu nasib. Kalau gitu saya permisi pak, terima kasih.” Tutur kata untuk terakhir dalam obrolan di ruang BK kali ini, mungkin saya akan tetap sering datang menerima hukuman.
***
Proses pembelajaran telah termulai sejak awal, namun dengan santai kaki melangkah memasuki kelas seraya mengetuk pintu. Hanya tatapan netra terus tertuju seakan tidak ada siapapun yang peduli dengan kehadiranku, bukanlah sesuatu ketakutan yang dirasa, tetapi ini sudah menjadi biasa jika terlambat masuk kelas.
Bahkan guru pengajar sama saja, memang ini salahku telah membuat kesalahan sejak masuk sekolah, tetapi tolong jangan perlakukan seperti makhluk tidak kasat mata. Ketika kehadirannya kurang tampak dilihat mata, ribuan teguran memang menusuk telinga hingga menyakitkan dada, itu jauh lebih baik daripada harus didiamkan.
Lewat ruangan sederhana berwarna putih, kisah masa sekolah akan tercipta, menampilkan suasana pembelajaran. Biar nanti akan menjadi kenangan yang selalu terindukan, sebab tidak akan mungkin terulang kembali walaupun sekali lagi, karena suasana akan berubah jika waktu tidak sama lagi.
Berbekal lembaran buku untaian kata disampaikan dalam bentuk tulisan tangan, hitam pekat tinta menorehkan jauh dari kata rapi, hingga memenuhi halaman buku. Terbukti bahwa mimpi untuk mendapatkan keinginan dapat dimiliki, hanya saja proses cukup menguras energi juga ketenangan, hingga nanti akan berubah menjadi terselesaikan.
Bekas tangisan tidak dapat diabadikan, karena tadi sengaja dihentikan agar bisa menjelaskan alasan, sedikit malu kalau ketahuan menangis. Orang bilang kalau anak laki-laki enggak boleh menangis, memangnya kenapa?
Anak laki-laki juga punya hati, ketika terluka diharuskan untuk menahan. Tetapi kenapa anak perempuan malah diperbolehkan, tolong jelaskan apa itu benar?
Kadang dalam diam aku hanya bisa menangis di balik sudut kamar yang begitu hening, menyembunyikan suara tangis dari balik bantal, memeluk erat guling sebagai pereda sesak dalam dada. Hingga dirasa bahwa itu sedikit mereda, lalu akan memperlihatkan kalau tidak terjadi apa-apa.
Sekarang keadaan rumah masih tetap sama, sunyi, sepi dan penuh kesedihan. Jarang menampilkan kehangatan kehidupan, walau rumah bertingkat tinggi dengan lahan luas, dihiasi tanaman. Seakan tidak ada guna jika kehidupan manusia tidak ada, tetapi mengapa banyak di luar sana berkata kalau menjadi kaya dan rumah besar akan bahagia.
Lihatlah diriku yang sedang haus perhatian, jika boleh memilih, sudahlah tidak ada guna!
***
Semburan senja di atas angkasa telah berpamitan, semenjak tanda pergantian terdengar lewat pengeras suara, perlahan awan kelabu datang saling berjalan. Menutupi kecerahan warna jingga, hampir memenuhi pandangan netra yang enggan memalingkan muka. Sungguh indah ciptaan Tuhan yang disebut semesta.
Kadang jika ingin melihat orang tua, melalui lantai dua. Aku melihat ke arah bawah, mereka sedang makan berdua, menikmati masakan yang lezat tanpa aku. Sakit banget, teramat sakit itu yang aku rasakan selalu!
Namun harus aku ingat, bahwa makan dengan mereka kadang merasa ketakutan. Salahku apa? Kenapa aku harus diperlakukan begini?
Hingga bersikap demikian, tidakkah ada rasa kasih seujung jari, walau hanya sekali saja. Apa selamanya harus tetap begini, jangan anggap bahwa diam itu tidak tersakiti, setelah aku bersuara mungkin akan mengakibatkan emosi yang tidak disangka-sangka.
Jika lelah melihat panggilan guru BK, atas kesalahan yang selalu aku lakukan, bisakah katakan lebih jelas lewat suara. Apa tidak ada sedikitpun waktu, untuk datang menanyakan mengapa aku membuat kesalahan, aku rindu obrolan dengan orang tua!
Kembali langkah kaki memasuki kamar dengan tidak bertenaga, rasa pegal pada kaki usai berlari masih teramat sakit, mungkin kurang pemanasan. Suara pintu kamar tertutup rapat dari dalam, terlihat bungkus roti berserakan dekat meja belajar, baru teringat kalau harus menyimpan stok sebelum habis.
***
Sinar buatan terus memancarkan cahaya sepanjang perjalanan, memberi rasa hangat bagai penghangat ruangan, bahkan aroma jualan pinggir jalanan mendominasi. Lalu lalang kendaraan tanpa henti beradu kecepatan, sesekali mengurangi dengan alasan lain, kemeriahan suara manusia tidak ada kata henti saling berbalasan.
Tiada kata yang dapat menggambarkan lebih detail, tentang bagaimana indahnya kemeriahan semesta, jika untuk pelarian sangatlah diperbolehkan. Kadang hawa luar memberi kesempatan untuk menciptakan hal baru, walau begitu tetaplah memilah antara baik dan buruk, sebab aku telah beranjak dewasa.
Banyak tuntutan akan sikap, sedikit ingin manja tapi sama siapa? Sering aku bertanya pada diri sendiri, aku yang butuh perhatian dan aku yang akan memberi perhatian pula.
Kendaraan roda dua mulai melaju dengan kencang, ketika hari menuju tengah malam, seakan hanya dengan begini untuk meluapkan semua yang aku rasakan. Teramat sedih kisah dalam hidupku, sampai kapan aku harus begini?
Ada yang bilang kalau aku ini egois, memang benar. Saking egoisnya aku sering terpatahkan karena terlalu berharap lebih mendapat perhatian, kenapa dengan diam malah semakin menyakitkan. Aku lelah, butuh istirahat sejenak untuk menyelesaikan masalah yang tidak ingin berlalu pergi.
Lewat dekapan udara malam, rasa nyaman kian semakin kuat, aroma sejuk dapat tercium jelas. Mungkin sebab sekeliling telah banyak tanaman mengeluarkan oksigen. Terhenti kendaraan pada sebuah pelataran minimarket buka dua puluh empat jam.
Aku berjalan santai sambil memasukkan kunci ke dalam saku jaket, beralas sendal jepit juga celana pendek. Langkah kaki langsung menuju rak tempat roti juga makanan ringan berada, bersebelahan rak tempat minum berjajar rapi.
Satu persatu telah berada pada keranjang di tangan kiri, sedangkan pandangan memilih apa yang akan dibeli. Hingga dirasa semua sudah cukup, aku berjalan menuju kasir pembayaran, beberapa lembar uang diserahkan pada penjaga.
Beralih kembali pada kantong keresek putih berlogo minimarket tersebut, kini kendaraan roda dua kembali melaju menuju rumah, walau sebenarnya tadi teman-teman sekolah mengajak nongkrong. Tapi aku menolak dengan alasan bermain game, memang benar. Kadang hanya game yang dapat mengusir rasa bosan ketika berada di rumah.
***
Minggu kemarin baru saja selesai ujian tengah semester, hari ini semua orang tua kelas sepuluh sampai dua belas datang, untuk mengambil rapot. Dapat dipastikan kalau orang tuaku tidak akan mungkin datang, bahkan tidak ada perwakilan dari siapapun.
Saat ini aku duduk santai di teras kelas dengan yang lain, asyik ngobrol sambil melihat lalu lalang orang berjalan menuju kelas anak-anaknya. Kapan aku bisa merasakan itu?
Beberapa ada yang sedang menghampiri orang tua mengarahkan menuju kelasnya, sebab pembagian raport akan mendapat sedikit ceramah wali kelas, mengenai nilai yang jelek.
Ada juga yang kena omel ibunya, tetapi hanya dibalas cengengesan, dengan ribuan alasan sebagai penjelas, mengapa mendapat nilai jelek. Bolehkah aku mengatakan iri padanya?
Aku juga ingin merasakan itu, walaupun harus kena jeweran di telinga, seraya meminta maaf tidak akan mengulanginya lagi! Sebenarnya kalau boleh dikatakan aku ini bisa cengeng lihat momen itu, mereka kok beruntung ya?
Sakit banget, hingga aku memilih untuk memalingkan pandangan dan melanjutkan obrolan. Orang tua dan anak jalan bersejajar sambil berbicara entah itu apa, ada juga yang membawa adik kecil sambil bergandengan tangan, menjelaskan lingkungan sekolah. Lalu aku tersenyum tipis!
Tanda sengaja guru BK berjalan depan teras usai dari ruang guru, “Arya, ikut saja ke BK sekarang!”
“Pak, capek saya dihukum terus, biarkan istirahat sejenak...” keluhku masih menyenderkan punggung di dinding bersebelahan pot tanaman.
“Sudah cepat, enggak usah banyak alasan!” jelas Pak Dayat berjalan lebih dulu namun sedikit lambat, seperti sedang menungguku menghampiri.
Sekejap aku telah berjalan sejajar mengikuti langkah kaki, cukup dua menit sudah berada di dalam ruangan BK yang selalu harum jeruk lemon dan kipas angin dekat kata-kata motivasi.
“Sudah ada yang mengambil raport kamu?” menyodorkan teh kemasan yang memang disediakan jika ada tamu, alias orang tua murid.
“Enggak ada pak, kemarin undangan sudah saya berikan, katanya mereka sibuk. Apa boleh saya ambil sendiri, lagi pula saya sudah sering mencontek tanda tangan orang tua saya?”
“Nanti setelah pembagian raport, bapak tanya ke wali kelas kamu, siapa tahu diperbolehkan!” sebenarnya Pak Dayat mencoba untuk menjadi wakil mengambil raport milikku.
“Terima kasih pak”
Berkat bantuan dari Pak Dayat, wali kelas mengizinkan beliau untuk menjadi wakil mengambil raport punyaku, dengan alasan kalau orang tua belum bisa karena ada kesibukan pekerjaan. Bahkan tanda tangan juga milik beliau, hingga membuatku terdiam tidak menyangka kalau ini akan terjadi. Semenjak ada yang memperhatikan, sedikit demi sedikit aku mulai berubah, jarang terlambat sekolah.
Selesai
Judul : Cerpen Haus Perhatian
Karya : lianasari993


Post a Comment for "Aku Haus Perhatian, Jangan Salahkan Aku Mencari di Orang Lain!"