Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Apa Itu Rumah, Di Antara Kontrak & Rindu.Episode 32, Novel Romantis

Novel Merayu Semesta Terbaru 



“Fahri” tegur Bella membelah lamunan agar tidak semakin larut dalam kesedihan, Devan juga terus memerhatikan Fahri sejak lama.

“Fahri....” panggil Bella lagi dengan tepukan pada pundak, “Ada Devan!”

Terbangun dari lamunan, “Van. Sudah dari tadi di sini?”

“Dari tadi malam....” jawab Devan, “Kenapa elo ngelamun pagi-pagi?”

“Enggak ada” menggeleng, dilihat jarum jam menunjukkan pukul tujuh pagi. Lalu lalang kendaraan dari luar rumah terdengar bergantian.

“Tumben elo ke sini, Bell?” memerhatikan Bella meletakkan mangkuk berisi bubur tinggal sedikit di meja, lalu mengambil teh dan obat di sampingnya.

“Enggak boleh?” ketika kedua makhluk hidup dipersatukan akan terjadi perseteruan antara mereka yang telah lama tidak memainkan, “Elo sendiri pagi-pagi ke sini, belum mandi, bau tahu...”

“Bodo” jawab Devan tidak mau kalah, merapikan tatapan rambut memang berantakan sejak bangun tidur, lebih tepatnya rambut Devan sedikit gondrong.

“Muka sudah jelek makin jelek” jelas Devan menarik kursi kosong dari dekat pintu keluar, tanpa memperdulikan posisi Bella terus bersebelahan dengan Fahri.

“Elo enggak pulang, ngapain masih di sini?”tegur Devan lagi menengok Bella mengambil obat untuk mengobati luka pada pipi Fahri sudah mengering.

“Berisik. Gue di sini di suruh ibu, jadi elo diam saja!” sewot mencubit pinggang Devan, “Bikin emosi...”

“Alasan, bilang saja masih sayang ”

“He, Van. Gue sudah punya Aziz, jangan asal ngomong itu mulut, mau gue kasih obat luka biar sembuh sekalian.....”

“Elo dulu...baru gue mau!”

Dibuka tutup botol obat tersebut, “Berisik banget elo, Van.” Menginjak kaki kiri membuat Devan meringis kesakitan.

“Sudah, kalian ini kayak anak kecil saja” tegur Fahri semakin pusing, dengan tingkah laku mereka setiap kali ribut di depannya.

“Aku pulang. Ada janji mau jalan sama Aziz, salam buat ibu!” jelas Bella mengambil tas selempang di dekatnya, bersamaan jalan sambil menginjak kaki untuk kedua kalinya.

“Bella...” Teriak Devan memegang kakinya.

Ketika keluar dari dalam rumah Bella tercengang mengetahui Aziz berjalan menghampiri, “Kamu ngapain ke rumah mantan kamu?”

“Aku enggak suka kamu datang temui dia, jangan bilang kamu masih punya perasaan buat dia. Karena aku enggak tahu, diam-diam ketemuan di belakangku?” Aziz cemburu, ditarik tangan Bella masuk ke dalam mobil. Sikap Aziz memang kasar berbeda dengan Fahri yang tidak pernah melakukan ini pada Bella, hanya saja semua terlambat.

“Aku bisa jelasin semuanya.....”

“Aku enggak butuh penjelasan kamu, masuk!” mendorong agar masuk ke dalam dan pergi dari tempat ini segera.

Devan berjalan masuk ke dalam setelah mengetahui Bella dan Aziz pergi, meski melihat dari balik jendela. Devan hanya menggelengkan kepala mengetahui sikap kasar tersebut, tidak seharusnya laki-laki bersikap kasar begitu terutama pada wanita.

“Gila banget itu laki...” memasuki ambang pintu, menarik kursi agar bisa menyenderkan punggung pada dinding dekat lemari.

“Siapa, Van?” usai mengobati luka pada tangan, diletakkan kembali pada tempat semula.

“Siapa lagi kalau bukan Aziz. Gue heran kenapa Bella bisa suka sama dia, kasar banget sama cewek” jelasnya mengambil kue kering yang dibawa dari rumahnya sendiri, harusnya untuk menjenguk Fahri.

“Baru tahu elo? Aziz dari awal memang kasar sama Bella, awalnya gue mau marah waktu dia marahi Bella di depan umum, tapi gue tahan. Mending gue pergi daripada cari ribut sama mereka....” memerhatikan Devan terus memakan, “Gue enggak bisa ikut-ikutan urusan mereka juga, Bella juga terima saja diperlakukan gitu”

“Kalau gue punya cowok kayak Aziz sudah gue tinggal cari lagi....” tambah Devan mengambil minum air mineral di meja. Fahri biasa saja melihat kelakuan Devan setiap kali ada makanan di dekatnya.

***

Menunggu kabar dari Fahri yang tidak kunjung datang, membuat Sara sibuk dengan pikirannya sendiri, ingin menghubungi tapi gengsi. Lalu apa yang harus dilakukan? Ponsel terus tergeletak di atas meja kamar, dari tempat tidur memutar lagu untuk mengusir rasa bosan, sesekali melirik ponsel berulang.

“Fahri, kamu lagi apa? Kenapa enggak ke sini, aku kangen.....” tatapan beralih memandang langit gelap berhias gedung tinggi di dekat apartemen, Sara mengambil air putih di dekatnya bersama obat. Benak masih belum bisa berhenti memikirkan Fahri, seperti ada sesuatu yang tengah terjadi.

Terdengar langkah kaki memasuki apartemen, Sara yakin bahwa itu adalah Zahra, karena setiap datang tidak pernah mengetuk pintu.

“Sara....” tegur Zahra meletakan tas di ranjang lalu memeluk sebentar, ditampilkan raut muka cemberut

“Kenapa?”

“Gue pusing pikirinkerjaan di kantor banyak banget, gara-gara elo enggak datang. Elo sudah makan, minum obat?” di ambil tas kertas berisi makanan yang dibeli sebelum berangkat ke apartemen.

“Sabarlah, namanya juga kerja. Sudah gue minum obatnya, elo malam ini tidur di sini ya, temani gue...”

“Gimana ya!” berpikir layaknya banyak jadwal dalam hidupnya, “Suruh Fahri ke sini buat temani elo!”

“Dia enggak ada kabar dari kemarin, ke mana ya?” beranjak dari tempat tidur, melangkah menuju dapur membuatkan coklat hangat untuk Zahra sekaligus dirinya sendiri.

Zahra berjalan keluar kamar, mengarah pada ruang menonton televisi sekaligus ruang tamu, diambil remote untuk menyalakan tayangan televisi. “Samperin sana, enggak usah gengsi. Kebanyakan makan gengsi hidup elo atau mau gue antar?”

“Enggak usah, besok gue samperi Fahri ke bengkel. Elo kan tahu dia kerja terus setiap hari, mungkin sekarang sibuk di kafe banyak pembeli” meletakkan dua cangkir coklat hangat buatannya, tidak lupa buah apel kesukaan Sara. Makanan yang dibawa telah dibuka bersama kebulan asap dari mie rebus dibeli Zahra.

“Gue sakit malah dibeliinpedas, gue sakit tifus, Zahra” mulai mencoba untuk memastikan tingkat rasa pedas dari mie tersebut, sebelum sakit level dua tidak terasa pedas, namun kali ini rasa itu pedas dan sedikit hambar di lidah

“Biar cepat sembuh” mengambil mie yang berada di kotak makanan, Zahra biasa saja makan pedas kesukaannya

Wajah Zahra mulai serius dan meletakkan mie tinggal setengah di meja depannya. Mengambil coklat telah hangat sebelum diminum, “Orang tua elo tahu soal Fahri, apalagi kerjanya di bengkel. Kalau di sandingin sama Kevin beda jauh mereka, pasti orang tua elo bakal larang hubungan kalian, sebentar lagi elo juga harus tunangan sama Kevin”

Menghentikan makan, diletakkan pada meja sembarang lalu tidak kalah serius dengan Zahra, “Gue tahu orang tua gue bakal ngelarang dekat sama Fahri, tapi bukan berarti nyerahgitu saja. Kevin memang sudah lebih dulu ambil hati bokap, bukan berarti Fahri enggak bisa, semua butuh waktu”

“Gue salut sama elo. Sorry, enggak ada maksud buat ngerendahin Fahri!” mengambil mie kembali, kali ini Zahra segera menghabiskan makanan.

lianasari993
lianasari993 lianasari993 merupakan nama pena, kerap kali di panggil Lian. Lahir dan Besar di Jawa Timur. Membaca bagian dari hobi yang tidak bisa ditinggal hingga memutuskan untuk menulis sampai sekarang.

Post a Comment for "Apa Itu Rumah, Di Antara Kontrak & Rindu.Episode 32, Novel Romantis "