Rencana, Di Antara Kontrak & Rindu. Episode 33, Novel Romantis
Novel Merayu Semesta Terbaru
“Iya. Kan elo pernah bilang, buat dapetin sesuatu harus yakin plus berusaha, pasti semuanya akan terasa mudah.....” seketika Zahra memeluk tubuh Sara dengan erat, ternyata sahabatnya masih ingat dengan kata-kata tiga tahun lalu.
Zahra melihat jam di tangan kirinya menunjukkan pukul sembilan malam, segera beranjak dari posisi nyaman untuk mengambil tas di dalam kamar, “Gue balik dulu, ada janji sama pacar...”
“Ah, elo enggak asyik. Teman sakit malah ditinggal pergi pacaran, dipending ya?” bujuk Sara berusaha agar Zahra malam ini mau tinggal di apartemen menemaninya, tapi tetap saja Zahra memaksa pergi karena sudah ditunggu di restoran favorit mereka.
“Maaf, besok pulang kerja gue pasti ke sini. Bye, hati-hati di apartemen sendirian, jangan keluar kalau enggak penting!” ucap Zahra menutup pintu tanpa menunggu jawaban.
Belum juga beranjak dari tempat duduk tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, Sara heran kenapa tidak langsung masuk saja biasanya kalau ada barang yang tertinggal Zahra langsung masuk tanpa mengetuk. Beranjak mengarah pintu dengan langkah santai, “Riko”
“Hai, selamat malam. Boleh aku masuk?”
Memberi ruang agar Riko bisa melewatinya, “Ngapain datang lagi, bukannya Fahri sudah larang kamu ke sini? Lagi pula aku malas kalau ketemu kamu, apalagi kalau Disty tahu. Sebenarnya tujuan kamu datang ke sini apa, kalau enggak penting mending pulang saja, ini sudah malam akumau tidur!”
Meletakkan ponsel di meja lalu duduk di sofa, “Aku datang ke sini buat lihat keadaan kamu. Tadi aku juga dari toko bunga habis beli buket, katanya sudah satu minggu kamu enggak datang ke toko, padahal ada hal penting yang mau aku bicarain”
“Apa?”
“Ternyata toko bunga kamu makin sukses ya, dulu aku pernah datang ke sana beberapa kali, tapi enggak pernah lihat kamu”
“Bisa langsung ke intinya!” bete banget harus didatangi Riko, padahal laki-laki yang diharapkan datang bukanlah dirinya, menyebalkan.
“Disty minta buat acara pernikahan pesan bunga di kamu”
“Itu saja. Kenapa enggak bilang sama pegawai di toko, sengaja cari alasan supaya bisa datang ke sini, basi tahu enggak....” mengambil minum coklat, “Mending kamu pulang!”
“Bentar, aku bawain kamu.....” Riko teringat kalau keresek yang tadi ditenteng tertinggal di dalam mobil karena buru-buru datang ke sini, apalagi tadi hampir saja papasan dengan Zahra untung saja cepat bersembunyi di mobil orang.
“Aku ambil bentar di mobil....”
Kepergian Riko menyalakan layar ponsel tanda ada panggilan masuk, dilirik nama Kevin tertera jelas di sana.
Sara mengangkat panggilan tersebut. “Gue sudah berhasil jauhin Sara sama Fahri. Setelah ini kita tinggal melakukan rencana yang ke dua, membuat om Tyo marah....” belum usai berbicara Sara mematikan panggilan.
“Keterlaluan, ternyata ini rencana mereka” amarah dalam diri Sara telah bangkit ingin sekali menyudahi hubungan dengan Kevin, yang membuatnya semakin marah Riko ikut campur dalam hidupnya lagi.
Ditunggu kehadiran Riko pada ambang pintu, belum juga kunjung terlihat batang hidung menyelamatkan miliknya. Tombol lift berbunyi tanda ada seseorang yang datang, Riko menenteng paperbag di tangan kiri, sedangkan tangan kanan membetulkan tatanan rambut berantakan usai berlari.
Melempar ponsel mengarah padanya, tapi malah terjatuh di lantai. Riko bingung mengapa wajah Sara telah berubah dan membuat ponselnya retak pada layar, “Sara kamu kenapa?”
“Masih tanya kenapa? Aku enggak nyangka, pergi dari sini dan jangan temui aku lagi” jelas Sara menutup pintu dengan keras, tidak memedulikan ketukan berkali-kali dari Riko yang tidak paham apa-apa.
Tidak kuat lagi harus menahan luka dalam hati, mengapa semua terjadi padanya. Begitu sulitkah jika ingin kembali membuka hati, lalu untuk apa jika harus menanggung beban lelah. Apa yang telah dilakukan Kevin dan Riko untuk menjauhkan dirinya dengan Fahri?
Sara hanya bisa berharap bahwa Fahri akan tetap baik-baik saja, “Maafkan aku Fahri, sudah bikin kamu banyak masalah semenjak awal kita ketemu, aku harap kamu baik-baik saja”
Telah gelap usai lampu di matikan, begitu juga pandangan ikut gelap bersama samar-samar cahaya lampu dari luar menyorot dari gorden tipis di kamar. Besok adalah waktu yang tepat untuk menemui Fahri, Zahra benar kalau dirinya harus mengurangi gengsi.
***
Mobil terparkir di depan pelataran rumah tampak sepi, di amati sekitar hanya lalu lalang kendaraan bermotor. Sara mengetuk pintu beberapa kali, “Punten. Fahri!” hanya teriakan dari dalam menyuruh untuk masuk.
“Fahri” panggilnya lagi berada di ruang tamu, “Fahri”
“Aku ada di kamar” jelasnya masih berteriak.
Mata Sara berubah tajam melihat keadaan Fahri saat ini, “......”
“Kaget lihat wajahku babak belur?” ucap Fahri tersenyum tipis, dibetulkan posisi duduk lebih nyaman. Gerakan kepala memberi tanda agar duduk di dekatnya, “Kok masih diam, duduk!”
“Jangan bilang yang buat kamu kayak gini Riko?”
“Bukan” sahut Devan baru saja datang, “Tapi laki-laki tinggi pakai jas hitam, kalau enggak salah. Iya kan?”
“Van” bentak Fahri agar Devan tidak membahas kejadian tersebut, tapi mulut Devan memang suka begitu sering keceplosan.
“Kevin kan, aku sudah tahu kalau pelakunya dia, semalam aku juga tahu Riko ikut campur urusan ini. Kenapa kamu enggak bilang ke aku?”
“Maaf.” Jawab Fahri santai, seperti hal tidak penting lagi untuk dibahas.
“Bukan maaf yang aku butuhin. Harusnya kamu bilang, jangan-jangan kamu diancam Kevin supaya enggak ngomong ini sama aku? Keterlaluan memang dia.....” Fahri memegang tangan Sara agar tidak pergi.
“Enggak usah, aku baik-baik saja. Enggak perlu dipermasalahin lagi” jelas Fahri belum bisa membuat suasana hati Sara dingin.
“Baik gimana? Muka memar gini. Kamu jangan terlalu baik, ini sudah keterlaluan. Aku enggak terima mereka sakiti kamu seenaknya, memangnya mereka siapa berhak larang kita dekat....”
“Sara, sudah.” Menggenggam tangan lebih erat, “Temani aku di sini!”
***


Post a Comment for "Rencana, Di Antara Kontrak & Rindu. Episode 33, Novel Romantis "