Tolong Bertahanlah Sebentar, Di Antara Kontrak & Rindu. Episode 34, Novel Romantis
Novel Merayu Semesta Terbaru
Kotak kado pemberian Kevin masih tergeletak pada tempat tidur, Sara bergegas untuk mandi.
Perasaan kalut dengan alur yang tidak dapat dipahami, kadang hidup penuh teka-teki, yang perlu terpecahkan dalam rangka diksi misteri. Membutuhkan waktu dalam merangkai agar bisa terjelaskan.
Tapi cukup sulit diungkapkan dalam bahasa, harus dengan kata apa agar Kevin bisa memahami perasaannya. Karena hanya Fahri pemilik hati Sara sesungguhnya, laki-laki yang telah berhasil merobohkan dinding luka dan menyembuhkan dengan cinta.
Ritual mandi telah usai, dibuka tutup kado berwarna coklat tua, terlipat rapi sebuah dress putih beserta hak tinggi senada.
Keraguan sedang menghunjam perasaan, memang tampak indah dipandang, ragu untuk dikenakan. Butiran kristal bening menetes tanpa ragu, “Maafkan aku, Fahri”
***
Area parkir apartemen, tampak wajah sumringah sedang terlihat pada Kevin malam ini. Momen penting baginya, untuk membahas hal penting telah lama ditunggu, Kevin keluar mobil membetulkan kembali kancing jas.
Sebuah kotak cincin berisi berlian ditatap cukup lama, “Aku harap kamu suka” menutup kembali, dimasukkan ke dalam saku jas.
Lorong kamar apartemen kosong tanpa ada penghuni yang lalu lalang, hanya terdengar beberapa suara orang usai pulang bekerja. Lampu berwarna kuning menghiasi dinding apartemen, juga tanaman di dalam pot sebagai penyaring udara dan pertukaran oksigen.
Lantai kuning gading memantulkan sinar lampu saking bersih, embusan berasal dari kipas angin terasa sepoi-sepoi di malam hari. Berjejer beberapa kamar yang telah terisi sejak lama ada juga orang baru menempati bulan kemarin, jarang bertegur sapa sudah biasa, saling sibuk sendiri.
Kevin mengetuk pintu, lalu Sara datang dengan penampilan cantiknya, “Kamu cantik banget malam ini”
“Thanks”
“Apalagi mengenakan dress pemberianku, aku sangat senang kamu mau memakainya!” tambah Kevin melihat sesaat lalu kembali terfokus menatap depan berjalan menuju tempat tadi.
Di bawah gemerlap bintang, tersembunyi jiwa yang tengah terluka, dengan harapan tidak tersampaikan. Mungkinkah diri ini akan bertahan, walau hanya sekejap mata, bukan ingin melukainya hanya saja melakukan semua demi pinta orang tua.
Maafkan atas pilihan tanpa bilang padanya lebih dulu, karena Sara takut akan melukai lebih dalam lagi, percayalah kalau ini bukan untuk membalas perasaan Kevin.
Tapi sebagai cara, untuk menutupi kedekatan hubungan dengan Fahri. Karena suatu saat nanti, Sara akan berterus terang, tentang perasaannya pada orang tua.
Jadi tolong Bertahanlah, Fahri. Langkah kaki sedikit berlari membukakan pintu mobil untuk Sara, diulurkan tangan seperti adegan romantis, menampilkan Senyuman manis layaknya menyambut tuan putri tercinta.
Sara menerima uluran tangan, mengikuti langkah memasuki sebuah restoran mahal dan terkenal di Kota Bandung. Tempat yang kerap kali didatangi orang tertentu, juga dalam acara tertentu. Sara tidak tahu apa yang akan terjadi, karena papa hanya bilang makan malam berdua.
Dua kursi putih. Meja berbentuk bulat berhias lilin di tengah, gelas telah terisi minum setengah, hidangan pembuka begitu cantik tertata. Restoran terasa hening tanpa ada seseorang, hanya kita berdua, berbeda dari makan malam sebelumnya.
“Enjoy your meal”
Kata Kevin mempersilahkan, tatapan yang diberikan bagai mengagumi penampilan Sara hingga ragu memalingkan pandangan. Tapi Sara tidak begitu menghiraukan, lebih memilih untuk makan dan berencana segera pulang.
***
Fokus Fahri telah hilang, tersisa lamunan tentang kejadian yang baru saja disaksikan, tidak percaya itu terjadi di depan mata. Namun memang nampak jelas bahwa itu nyata adanya, tapi hati belum siap untuk menerima.
Di mana Fahri berencana menemuiSara ke apartemen, tetapi langkah terhenti melihat Kevin keluar dari dalam mobil membuka kotak cincin berlian.
Fahri beranggapan itu adalah cincin tunangan untuk Sara. Begitu sakit, harus menyaksikan kembali, ketika mengetahui Sara mengenakan dress pemberian Kevin.
“Kamu cantik banget malam ini” kalimat sanjungan itu terus terngiang sejak memutuskan untuk pergi menjauh dari mereka, karena Fahri tidak lagi kuat penahan perasaannya.
Lalu tepukan pada punggung dari Devan membangunkan lamunan. Ada rasa khawatir, ketika sahabatnya sedang dilanda cinta tidak menentu.
Apa akan terluka lagi seperti dulu? Itu yang selalu ditakutkan Devan terjadi lagi pada Fahri.
“Elo kalau masih sakit pulang saja!” tegur Devan meletakkan nampan di bawah meja, menarik kursi kosong di dekat Fahri.
“Kasih pengikat jangan sampai didahului orang lain” ucap Devan serius, agar Fahri segera melamar Sara secepatnya, karena dengan ikatan itu bisa memperkuat hubungan sebelum akhirnya menentukan tanggal baik.
“Maunya, tapi enggak semudah itu....” jawab Fahri mengacak-acak rambutnya, rasa lelah hati berasa menjalar pada fisik.
“Gue tahu. Tapi mesti elo hadapi supaya bisa seutuhnya elo miliki, terutama orang tuanya”
“Itu yang sekarang gue pikirin, Van. Yang orang tua Sara pengen bukan gue, apa bisa.....?” tidak melanjutkan ucapan, karena benak terus berpikir tanpa henti memikirkan apakah cara mudah agar bisa mendapatkan restu.
“Gue bisa bantu apa?” tawar, Devan memberikan senyuman pada pelanggan baru saja selesai nongkrong dan pergi dari kafe, kembali terfokus pada topik utama.
“Doa” jawab Fahri singkat.
“Sudah pasti” jawab Devan lebih jelas.
Kedatangan segerombolan anak remaja menghentikan obrolan mereka.
“Biar gue yang catat pesanannya, Elo tinggal buat pesanan kopi saja!” jelas Devan mengeluarkan buku kecil biasa untuk mencatat pesanan dan jumlah uang langsung dibayar.
Tiba-tiba ada pesan masuk pada ponsel milik Fahri dari dalam saku jaket, waktu dibuka tidak ada nama pengirim, hanya berjejer nomor berjumlah dua belas angka. Di klik pesan tersebut, berisi video membuatnya penasaran, lalu diputar video tersebut.
Betapa terkejutnya, melihat penyematan cincin berlian pada jari manis milik Sara.Sebagai pengikat hubungan serius antara Kevin dan Sara, tampak raut kecewa, patah hati dan luka yang begitu dalam.
Ternyata begitu sakit, saat harus tahu orang yang selama ini dicintai, telah dimiliki orang lain lebih dulu. Padahal Sara telah berkata mencintainya dan akan berusaha memperjuangkan hubungannya, tapi apa balasan yang diterima.
Malah menerima tunangan itu, lalu untuk apa bilang akan berjuang bersama, jika akhirnya membawa kabar akhir putusnya cinta. Apa ini tidak jauh lebih menyakitkan dan menyiksa dada?


Post a Comment for "Tolong Bertahanlah Sebentar, Di Antara Kontrak & Rindu. Episode 34, Novel Romantis "