Maaf, Di Antara Kontrak & Rindu. Episode 30, Novel Romantis
Novel Merayu Semesta Terbaru
“Ngapain ke sini?”
“Gue mau lihat keadaan Sara, ada masalah?” beranjak dengan tatapan yang tidak kalah, kedua mata kembali beradu jauh lebih menegangkan. Sejak pertemuan di acara pertunangan, Riko berusaha mencari tahu tentang Sara secara diam-diam, hingga menemukan apartemen tempat Sara tinggal.
“Gue enggak suka elo datang ke sini, jadi gue minta elo pergi!”
“Fahri-Fahri.” Berjalan mendekat, “Seperti janji gue waktu itu, sebentar lagi Sara bakal jadi milik gue sepenuhnya!” bisik Riko begitu yakin ucapannya benar, menoleh ke belakang, melihat Sara masih duduk lemas di sofa memerhatikan Riko dan Fahri.
“Enggak akan gue biarin itu terjadi!” jawab Fahri mulai terusik dengan keberadaan Riko, ada rasa takut jika benar-benar kedatangannya ke sini untuk mengambil kembali Sara, karena Fahri tahu kalau Sara begitu berharap bisa bersama kembali seperti dulu.
“Kalau keluar jangan lupa pintunya di tutup!” tambah Fahri berjalan mendekati Sara, tidak lupa menunjukkan senyuman hangat, “Maaf aku terlambat” diletakkan punggung tangan di jidat Sara.
“Tahu di mana aku tinggal di sini?” tidak bisa menghilangkan rasa marah dan jengkel atas apa yang telah dilakukan Fahri terhadapnya. Mana ada cewek bersikap biasa saja, mengetahui kalau dirinya, hanya digunakan untuk membuat wanita lain cemburu.
“Kamu marah sama aku? Aku minta maaf, tolong jangan buat aku semakin merasa bersalah.....”
“Ternyata kamu sadar kalau salah. Aku enggak suka kamu kayak gitu, aku punya perasaan. Sejak awal, harusnya aku tahu kalau hubungan kita, cuma sekedar saling bantu satu sama lain.”
“Aku enggak ada niat mainin perasaan kamu. Oke, aku salah waktu itu, sudah bikin kamu marah. Tapi tolong jangan pergi, aku takut kehilangan kamu. Aku beruntung waktu itu kita ketemu, aku selalu berharap kamu ada, aku takut kehilangan kamu....” Memegang tangan.
“Beri aku kesempatan buat perbaiki hubungan kita.....”
“Minggu depan aku tunangan sama Kevin!” papar Sara mencoba menguatkan dirinya, tidak ada cara lain selain menuruti perintah Papa, walaupun harus merelakan perasaannya.
Fahri memerah dengan air mata berkaca, “Kamu bilang acaranya pertunangan masih lama, kamu juga bilang mau menolak perjodohan itu, tapi kenapa sekarang kamu malah terima?”
“Aku capek, berharap sama sesuatu yang enggak pasti, terutama berharap sama kamu... Fahri. Setelah kejadian di tempat itu, aku rasa semua sudah selesai. Mungkin dengan keputusanku terima perjodohan bakal jadi yang terbaik buat kita, kamu bisa kembali sama Bella!”
“Aku butuh kamu bukan Bella.”
Tetesan air mata tidak lagi bisa ditahan, di hadapan Sara membuat Fahri begitu lemah, baru kali ini meneteskan air mata di depan cewek. Mengapa begitu sakit mendengar pernyataan tentang penolakan untuk memulai kembali hubungan, begitu terpukul keras jika tahu perjodohan akan dilaksanakan.
Harus bagaimana lagi untuk menghapus rasa yang telah menetap pada lubuk hati, harus dengan cara apa bisa melepasnya, karena diri ini sudah terlanjur membuka sanubari di mana dirinya bisa berlabuh.
Berada di situasi ketidakpastian hubungan cinta bukanlah suatu hal mudah, harus menerima jika suatu saat nanti tersakiti. Fahri membantu berjalan menuju kamar, tidak lupa menyiapkan makan dan minum sebelum obat dikonsumsi.
“Aku suapi ya!” mengajukan diri, sesuap demi sesuap tampak rasa tenang bisa bersama kembali, ternyata kehilangan tidak akan terus memihak ada kalanya waktu akan mempertemukan kembali dengan rencana.
“Sudah.” Ucap Sara lemas.
“Minum obat dulu!” mengambil dari dalam keresek obat dibelikan Zahra tadi, “Jangan bikin aku khawatir!”
Seketika kedua mata saling bertemu pada titik yang sama, memandang dalam hangat sinar malam. Menemukan cinta yang sementara pernah pergi kini memilih kembali, detak jantung berdenyut kencang tidak seirama. Ketika jiwa telah mengulang menciptakan rasa untuk terus abadi.
Perihal kisah cinta yang belum rampung, untuk terus terlanjutkan lagi. Mulut telah terbeku dalam dekapan hangat kenangan dan kebersamaan, mengukir sejarah peradaban cinta tanpa kata binasa.
Akan terus abadi meski derai luka terus menghampiri, segala rasa tercurahkan beriringan dalam skenario cinta. Dekapan hangat telah tertembus pasrah.
Saling merasakan irama denyut nadi satu sama lain, dua tangan telah mengilang manja pada leher, membiarkan telinga merasakan detakan jantung berdebar tanpa aba.
“Aku takut kehilangan kamu” katanya lagi bersama derai air mata menetes membasahi bahu, “Aku mencintaimu, Sara.”
Tidak tahu lagi harus bagaimana dalam situasi seperti ini. Sangat nihil jika kedua orang tua Sara akan menyetujui hubungan ini, karena bagi mereka semua hanya cinta semata.
Ketika sudah mulai menemukan cinta, haruskah berakhir!
Timbul rasa takut, jika tiba-tiba harus berpisah. Pelukan hangat diberi sebagai tanda meyakinkan, kecupan manis mendarat tepat di kening.
“Kamu istirahat ya!”
Hanya mengangguk. Ketika lentik bulu mata memilih untuk berlabuh dengan nyaman, bersama derai butiran air mata perlahan mulai berhenti, masih tetap menggenggam tangannya. Mengambil rasa nyaman ketika telah di sampingnya, kembali terasa ketenangan.
***
Mentari pagi mulai menampakkan cahaya di balik gorden kamar, sinar hangat menembus jendela tertutup rapat. Fahri telah bangun lebih awal, menyiapkan sarapan untuk Sara yang masih tertidur pulas. Hari ini terasa bahagia baginya, bisa kembali bersama.
Dengan sedikit kepandaian memasak sejak dulu, satu persatu bahan mulai dipotong. Mencampurkan bahan-bahan yang tadi dibeli, harum masakan perlahan mulai tercium.
“Sudah bangun!” katanya meletakkan pada piring kosong.
“Aku tunggu sambil nonton televisi” jelas Sara meninggalkan, lalu membuka gorden yang masih tertutup.
Fahri datang membawa masakan, “Masih panas, mau aku buatin minum apa?” meletakkan di meja.
“Air putih saja!” tersenyum, lalu kembali terfokus melihat layar berukuran lebar pada dinding.
“Kamu enggak kerja?”
“Aku ijin hari ini enggak masuk, mau temani kamu. Besok kalau sudah sembuh betul aku masuk kerja lagi, makanya makan yang banyak biar cepat sembuh. Aku suapi!”
Sara tersenyum, “Kamu enggak makan?”
“Nanti saja.”
“Makan, lagi pula ini terlalu banyak. Tadi malam kamu juga belum makan, jangan terlalu mikirin aku, aku baik-baik saja”
“Enggak diangkat? Siapa tahu penting atau dari orang tua kamu” tegur Fahri mendengar dering ponsel nyaring dari dalam kamar, hanya lirikan mata dari Sara lalu kembali menatap layar televisi.
“Malas.”
“Angkat saja, biar aku yang ambilin...” meletakkan piring di meja.
Fahri berjalan menuju kamar mengambil ponsel yang tergeletak di laci dekat tempat tidur, lalu menyerahkan ponsel itu pada Sara. Tapi panggilan sudah berhenti, kini Sara mencoba menghubungi ulang.


Post a Comment for "Maaf, Di Antara Kontrak & Rindu. Episode 30, Novel Romantis "