Sampai Titik Ini, Di Antara Kontrak & Rindu. Episode 31, Novel Romantis
Novel Merayu Semesta Terbaru
“Siapa?” Fahri kembali duduk.
“Zahra.” Beberapa menit kemudian tersambung, “Ada apa?”
“Mau tanya keadaan elo saja, sudah baikkan?”
“Baikkan badan gue atau hubungan gue?” pada Zahra dari ujung panggilan.
“Dua-duanya.”
“Oh, kalau badan gue sudah mendingan. Kalau hubungan gue sama Fahri baik, ini saja gue dibuatin sarapan” menerima suapan.
“Ha? Fahri semalam tidur di apartemen elo?” tanya Zahra teriak kaget, “Elo enggak macam-macam kan?”
“Apaan. Ngaco elo!” mematikan panggilan.
Meski saat ini hubungan antara kita telah membaik, juga berharap tidak akan terulang lagi. Karena kepergian sudah berhasil membuat kehabisan air mata, kehabisan banyak cara untuk berpikir jernih dalam luka.
Terima kasih. Telah memilih untuk bersama, apa suatu saat nanti Sara akan menentang pinta dari orang tuanya?
Jika memang begitu, tetaplah menjadi tempat terakhir berlabuh, sekarang, esok dan selamanya.
***
Riko tanpa sengaja bertemu Kevin saat berjalan area parkir ingin mendatangi Sara kembali, “Kevin!”
“Siapa?” menghentikan langkah, di amati penampilan Riko secara detail.
“Mau ketemu Sara?”
“Anda siapa, ada hubungan apa sama Sara?” Kevin mengerutkan kening, sebab tidak tahu maksud dari kedatangannya.
“Tujuan kita sama, tapi ini bakal sulit terjadi kalau itu cowok masih ada di dekat Sara....” mendekat agar tidak ada yang tahu tujuannya, “Gue mau ajak elo kerja sama misahin hubungan Sara sama Fahri”
“Caranya?.....” bukan hanya Riko yang punya ide mencari tahu tentang Sara, Kevin juga melakukannya dengan bantuan orang kepercayaan.
Ketika Fahri dan Sara pergi ke taman, tanpa sengaja melihat keberadaan Kevin, itu berasal dari orang yang memata-matai Sara dari kejauhan.
Bisikan Riko membuat Kevin menyetujui ide itu, dan mengurungkan untuk masuk ke dalam apartemen. Kevin dan Riko memilih pergi menggunakan kendaraan pribadi masing-masing.
***
Hawa sunyi telah tercipta saat jarum jam menunjukkan pukul 12.12 malam. Terasa dingin, saat angin terus menerpa kaos berlengan pendek, bersama sepeda motor melewati jalanan sepi. Fahri merasa ada seseorang sedari tadi membuntuti sejak pulang dari kafe, namun dua laki-laki di belakang belum juga mendahului kecepatan berkendara.
Dipercepat laju berkendara untuk menghindari, tapi malah dari belakang di serempet hingga terjatuh. Dua laki-laki tersebut berhenti untuk menghampiri, bukan menolong melainkan memukul tubuh Fahri.
Ingin rasanya membalas pukulan keras itu, apalah daya kaki kiri tertindih oleh sepeda, sedangkan tangan berusaha melindungi kepala dari pukulan. Hingga datanglah laki-laki menghampiri untuk menghentikan, Fahri berharap akan ditolong, ternyata malah dialah pelakunya.
“Jauhi Sara!” suara itu begitu jelas terdengar, namun wajah pemilik suara terlihat samar karena pukulan pada pelipis mata menghalangi penglihatan.
Dari balik semak-semak terdapat laki-laki juga ikut bagian dari peristiwa malam ini, hanya saja sengaja menjauh dari penglihatan mata.
Mobil yang ditumpangi laki-laki barusan mengancam Fahri dan dua pesuruhnya telah hilang ditelan malam. Ditatap bintang tengah bersinar di langit lalu semua menjadi gelap.
***
“Punten....punten.....” memerhatikan halaman masih sepi, hanya cahaya lampu tetap menyala dari dalam rumah.
Suara gagang pintu terbuka menyambut kedatangan tamu, “Bella. Mangga lebet, Fahri aya di kamar. Naha repot mawadahareun”
Pintu kamar tetap terbuka sejak Fahri dibawa pulang oleh orang yang menemukan di jalan, “Ibu inditka dapur neruskeun masak, teu lila Fahri hudangogé!”
Bella merasa kasihan melihat kondisi Fahri penuh memar, walau pernah melukai perasaannya, bukan berarti tidak sedih mendapati masalah yang selalu dihadapi Fahri. Bagaimanapun juga Fahri adalah laki-laki baik dan penyayang, diam memandang dengan penuh khawatir.
Kelopak mata terbuka perlahan, bertepatan hadirnya Bella telah duduk di kursi dekatnya, “Bella.....”
Melarang untuk beranjak dari tidurnya.
“Kamu masih sakit, tiduran saja...” bersama Fahri, Bella terasa terbungkam cukup lama. Terasa habis kata-kata yang selama ini selalu diucapkan, ada tangis masih tertahan.
Fahri berharap yang akan datang dan ada di sampingnya adalah Sara, tapi malah Bella. Raut kecewa bisa terlihat jelas, ada tanya dalam benak kenapa wanita dicintainya belum juga kunjung datang, apa ada sesuatu padanya?
“Makasih sudah datang” ucap Fahri tidak lagi merasakan cinta ketika bersama Bella, karena ada yang lain di dalam hatinya.
Datanglah ibu membawa mangkuk berisi bubur pemberian Bella, “Fahri, ibu bade ngagaleuh minyak goreng di warung sekedap. Tong hilap tuang bubur!
“Biar saya saja yang menyuapinya, Bu!” pinta Bella mengulurkan tangan mengarah pada mangkuk tersebut, “Biar saya yang bantunya minum obat juga”
“Hatur nuhun, Bella. Punten ngawagel” meletakkan teh hangat pada meja, “Kalau begitu ibu pamit keluar”
“Enya, ibu. Ati-ati!.” Jawab Bella tersenyum hangat seperti saat dia masih dekat dengan Fahri, hanya saja sekarang status mereka telah berbeda.
Pandangan Fahri masih teringat tentang kejadian semalam, lumayan sulit untuk mengingat siapa orang yang memperingati agar dirinya menjauhi Sara. Cahaya lampu dari mobil membuat penglihatan begitu silau hingga kerepotan menebak, namun suara miliknya terdengar berbeda.
Di samping Bella terasa berbeda, bahkan suapan darinya tidak membuat perasaan bergetar hebat macam dulu. Ini memang momen paling ditunggu sejak lama, hanya saja semua telah berbeda, dengan mudah Sara merubah perasaan itu. Menyisakan rasa rindu sepanjang waktu, tidak menentu akan cepat bertemu.
Kaca bening terus ditahan agar tidak meneteskan rindu dan kecewa, lalu mengapa belum datang. Fahri hanya mengharapkan kedatangan Sara, apa itu sulit baginya?
Ada ketakutan mengingat penjelasan dari Sara, tentang dilaksanakannya pertunangan dengan Kevin. Hubunganmereka, telah mendapat restu dua belah pihak keluarga. Bisakah Fahri mendapatkannya?


Post a Comment for "Sampai Titik Ini, Di Antara Kontrak & Rindu. Episode 31, Novel Romantis "