Perbaikan Untuk Sembuh, Di Antara Kontrak & Rindu. Episode 29, Novel Romantis
Novel Merayu Semesta Terbaru
Gagang pintu telah terbuka menyambut kedatangan pemilik, dihidupkan lampu pada dinding belakang pintu apartemen. Pandangan Sara masih kalut dengan kesedihan akan perasaan yang kini tidak menentu, ingin rasanya segera menyudahi, namun tidak bisa. Fahri hadir dalam waktu sebentar, tapi meninggalkan rasa yang sangat melekat dalam jiwa.
Mencintai tanpa dicintai kembali itu sangat menyakitkan, kini Sara dapat merasakan itu sendiri. Harusnya menolak saat diajak jalan ke Rancabali, hingga detik ini Sara belum paham dengan perasaannya untuk siapa! Lalu perhatian yang diberi selama ini itu apa? Atau hanya sekedar mencoba bermain rasa?
Kalau memang itu hanya sekedar permainan, lebih baik sudahi sampai sini, hati begitu takut jika luka semakin sempurna. Sara tahu jika hubungan dengan Fahri hanya sekedar kesepakatan dua belah pihak, tapi mengaja perasaan hanya timbul satu pihak?
“Fahri” gumam Sara menatap televisi namun pikiran tidak fokus.
***
Sunyi kafe seperti kesunyian hati Fahri, ketika timbul rasa kehilangan tengah menyerang, kebersamaan yang telah terlalui bersama kini tinggal bayangan dan hanya lintasan dalam benak. Jauh dari Sara begitu menyakitkan, jelas-jelas tidak ada perasaan ini sebelumnya. Dengan mudah bisa mengganti posisi Bella di hati Fahri. Ada apa dengan Sara?
“Lieur,lieur gara-gara tresna?” tegur Devan sedari tadi hanya diam melihat Fahri tidak ada semangat, diberikan kopi hitam buatannya.
“Sekarang elo mending ke rumahnya, siapa tahu dia juga tungguin elo datang, tapi gengsi mau bilang. Biasa cewek kalau kangen juga gitu!” sarannya menepuk pundak, bersamaan senyuman penyemangat.
“Gue enggak tahu dia tinggal di mana, gue harus datang ke mana?” harusnya sejak awal Fahri mencari tahu di mana Sara tinggal, walaupun dulu belum timbul perasaan, “Gue ngerasa kehilangan kedua kalinya, terutama jauh dari Sara!”
“Ternyata Sara berarti buat elo, dia sudah berhasil ambil posisi Bella tanpa elo sadari, yang enggak habis gue pikir kenapa elo sakiti dia demi Bella. Kurang baik apa coba, jarang-jarang ada cewek tajir mau sama elo, bukannya gue ngejek, tapi kenyataannya benar’kan!”
“Iya, gue sadar.”
***
Mentari begitu terang, namun cahaya masih terhalang oleh gorden berwarna putih senada dengan seprai dan selimut. Usai menangis menyisakan bekas sipit pada wajah, hidung telah memerah meski hanya sebentar, tapi malam tadi cukup lama menangis.
Entah berapa banyak pesan masuk juga panggilan semenjak Sara memilih untuk tidak lagi memegang ponsel, sendiri memang pilihan yang terbaik daripada bersama malah mengalami banyak luka. Perlahan mulai beranjak menuju kamar mandi, namun langkah kaki seketika terasa berat dan pandangan mulai kabur dan gelap.
Bersama langkah kaki berjalan memasuki lorong apartemen, berhentilah di sebuah pintu selalu di datangi, kode akses begitu hafal hingga pintu terbuka lebar. Dilihat sepi nan sunyi tidak ada pergerakan sama sekali, bahkan ruangan tampak rapi.
Namun langkah kaki terhenti mendapati Sara telah pingsan di lantai, “Sara.....” berusaha membawa tubuh pada rajang, segera Zahra menghubungi dokter pribadi keluarganya untuk datang ke apartemen.
Zahra menduga bahwa ini semua karena Fahri telah membuat hati Sara terluka, hingga kini laki-laki itu sama sekali tidak menampakkan diri, “Dasar pengecut, Sara sakit enggak ada kabar. Sara bangun jangan bikin gue khawatir....”
Akhirnya dokter datang, dicek keadaan untuk memastikan penyebab pingsan. “Bagaimana keadaannya, Dok?”
“Apa sejak semalam belum makan? Kelihatannya habis menangis semalaman, jadi matanya bengkak, saya akan memberikan resep untuk ditebus di apotek. Nanti kalau sudah sadar suruh makan setelah itu minum obatnya, kalau begitu saya permisi!”
“Terima kasih, Dok.”
Di ambil kunci mobil tergeletak di tempat biasa, langkah kaki Zahra berjalan cepat untuk menebus obat dan membeli makanan untuk Sara.
Meski ada rasa tidak tega harus meninggalkannya sendiri, ingin memberi tahu keadaan Sara, namun Zahra mengurungkan diri, daripada masalah baru datang dari orang tua Sara bakal berabe.
***
Fahri baru saja membetulkan mobil yang mogok di jalan, namun pandangan berhenti mengetahui keberadaan mobil Sara berada di apotek, tanpa menunggu lama langkah menghampiri. Tapi yang keluar malah orang lain bukan yang selalu ditunggu.
“Permisi teh, mau tanya, ini mobilnya Sara?”
“Elo siapa ya?”
“Fahri.”
“Jadi elo yang namanya Fahri, keterlaluan elo.....” karena sudah menumpuk rasa jengkel dalam diri Zahra, segera tas memukul tubuh Fahri berkali-kali hingga lelah saling kejar-kejaran.
“Ampun teh, capek harus kejar-kejaran terus. Gue minta maaf....” menghalangi pukulan dengan kedua tangan tapi masih saja berhasil mengenai tubuhnya, ternyata tenang wanita yang sedang marah bikin laki-laki kewalahan.
“Maaf. Enggak cukup maaf buat gue, elo harus tanggung jawab sama keadaan sahabat gue, dasar laki-laki pengecut. Ke mana saja selama ini enggak pernah temui Sara, bisanya cuma buat perasaan cewek sakit hati....”
“Gue sudah berusaha hubungi Sara tapi enggak ada jawaban, gue mohon kasih tahu sekarang Sara ada di mana. Gue emang salah......”
Langsung memotong dengan pukulan terakhir sebelum akhirnya masuk ke dalam, “Emang elo yang salah, masuk mobil!”
***
Langkah Zahra terhenti ketika tahu ada pesan singkat dari ponsel, tertera nama pacarnya ingin mereka jalan berdua malam ini, diberikan bubur dan obat yang dibawa kepada Fahri.
“Langsung masuk saja, gue ada urusan penting!” berlalu tanpa menunggu jawaban.
Pintu terbuka, kini tatapan Fahri tertuju pada sosok laki-laki yang dulu pernah bertengkar dengannya, ada rasa cemburu ketika Riko tiba-tiba hadir di tempat wanita paling dicintai.


Post a Comment for "Perbaikan Untuk Sembuh, Di Antara Kontrak & Rindu. Episode 29, Novel Romantis "